
Kini, Babby Al sudah berusia 9 bulan. Babby Al sangatlah cerdas dan cepat dalam belajar, di usianya yang baru 9 bulan, dia sudah bisa berjalan.
Bahkan jika Adam lewat depannya, Babby Al langsung berusaha untuk mengejar Adam. Hal itu, membuat Adam semakin gemas terhadap adiknya itu.
Di sela kegiatan Adam, dia lebih sering menghabiskan waktunya bersama adiknya. Bahkan, Adam terkadang rela menolak project-nya atau bahkan mengalihkannya untuk Ayahnya atau Grandpa nya.
Karena yang terpenting untuknya, dia bisa bermain dengan adiknya. Karena menurutnya, waktu yang paling berharga adalah bermain bersama dengan adiknya dan menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya.
Adiknya akan cepat tumbuh, dan Adam tak ingin melewatkan setiap moment' nya. Dia tidak akan mengejar target ataupun mencari Project yang banyak, yang terpenting saat ini, waktu bersama keluarga tidak berkurang.
Seperti sore Ini, Adam begitu menikmati kebersamaannya bersama Babby Al. Mereka sedang bermain bola di taman belakang, sesekali, Adam menggendongnya dan menggelitik perut Babby Al.
Babby Al terlihat sangat senang, bahkan tak jarang terdengar suara tawa dari Babby Al yang begitu nyaring.
"Sayang, Ibu sudah membuatkan kamu jus buah." Laila memberikan segelas jus buah pada Adam dan juga pada Babby Al.
Babby Al meminumnya sambil tertawa-tawa saat melihat Adam yang berusaha untuk menggodanya.
"Tatata, no, no, no." Ucap Babby Al, saat Adam berusaha untuk menggapai gelas milik Babby Al.
Laila yang melihatnya, langsung menegur Adam. Laila hanya takut, jika Babby Al akan tersedak.
"Adam, Sayang. Biar Dede'nya minum dulu." Laila mengingatkan Adam, agar tak terlalu menggoda adiknya.
Adam pun langsung berhenti menggoda Adiknya, dan memilih untuk diam.
"Ya, Bu." Sahut Adam, yang langsung menghabiskan jus buah miliknya.
"Oh iya, Sayang. Tadi, Om Devan telpon. Katanya, Aunty Eliza sudah melahirkan. Anaknya perempuan, besok pagi Ibu mau jenguk. Kamu mau ikut?" tanya Laila.
Laila terlihat antusias saat mengucapkan kata anak perempuan, karena Laila tak memiliki anak perempuan.
"Ikut, Bu. Aku ingin melihat Babby cantiknya Om Devan, pasti sangat cantik." Adam membayangkan wajah imut Babby perempuan yang menurutnya akan sangat imut.
"Tentu, Sayang." Jawab Laila yang juga tak kalah semangat.
*/*
Pagi yang di tunggu pun telah datang, pukul sembilan pagi, Laila mengajak Adam dan Arkana untuk ke rumah sakit. Laila ingin segera melihat wajah imut keponakannya, Laila juga tak lupa mengajak Babby Al yang sejak tadi terdiam di dalam gendongannya.
Babby Al, memang selalu tidur di saat jam sepuluh dan jam dua siang. Makanya, saat Laila mengajak Babby Al, dia terlihat lemas karena sudah mengantuk.
Sampai di ruang perawatan Eliza, Adam langsung menghampiri Eliza yang sedang menggendong putri kecilnya.
Wajahnya terlihat sangat imut, mirip sekali dengan Devano. Bibinya merah muda, pipinya pun terlihat putih dan sedikit memerah.
Adam terlihat sangat gemas, beberapa kali Adam mengecup pipi yang terlihat cabi itu.
Eliza nampak melirik ke arah Devano, Devano pun langsung mengangguk.
"Alicia Putri Dijaya," jawab Eliza.
"Cantik, namanya sama dengan wajahnya sangat cantik." Puji Adam.
Laila yang melihat Adam terus saja memandangi Babby Alicia, merasa cemburu. Karena dia juga ingin mencium dan menggendong Babby Alicia.
"Adam, Sayang. Ajak Babby Al main di taman gih, Ibu mau gendong Babby Alicia." Laila sengaja meminta Adam untuk mengasuh Babby Al, kalau tidak, pasti Adam akan terus menguyel Babby Alicia.
"Siap, Bu." Adam langsung mengambil Babby Al yang terlihat tak bersemangat.
Adam menggendong Babby Al dengan Sayang, dia tak membawa Babby Al ke taman. Adam hanya duduk di bangku tunggu, sambil menggoyangkan badannya.
Tak lama, Baby Al terlihat terlelap. Adam pun tersenyum, dia merasa senang karena sudah bisa menidurkan Babby Al.
Adam duduk sebentar, menunggu Babby Al tidur pulas. Setelah terlihat pulas, Adam kembali ke dalam ruang perawatan Eliza.
"Bu, Dede sudah bobo." Adam menyerahkan Babby Al pada Ibunya.
Laila pun langsung menggendong putra keduanya, Devano yang melihat Babby Al tertidur. Langsung meminta Laila, untuk menidurkan putranya di atas Box bayi milik Babby Alicia.
"De, Babby Al'nya di tiduran dulu." Titah Devano.
"Ngga apa-apa, Kak. Biar di gendong saja," ucap Laila.
"Babby Alic kan sedang di gendong, jadi, Babby Al'nya nya di tidurin saja dulu." Bujuk Devano.
"Baiklah," ucap Laila.
Laila pun langsung menidurkan Babby Al, kemudian, Laila pun kembali mengambil Babby Alic dari pangkuan Mommy'nya.
"Kamu cantik, Aunty suka." Laila mengecup kening Babby Alic.
"Cepatlah hamil lagi, bikin yang cantik kayak gini." Ujar Devano.
"Memangnya adonan, gampang di bikin. Lagian, kalau aku hamil lagi, belum tentu anaknya permpuan." Keluh Laila.
"Iya, bener. Memangnya kalau kita mau itu, kita bisa request dulu." Keluh Eliza.
Devano hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya, saat di sedang oleh kedua wanita yang dia sayangi.
"Rasakan, Memangnya bisa melawan mulut wanita." Arkana berucap, lalu dia pun menertawakan Devano.