Who Is Adam?

Who Is Adam?
Ngga Ada Manis-manisnya



Tiba di perusahaan Callweld, Gracia langsung berjalan mendahului Mahendra. Dia ingin segera membersihkan dirinya dan segera berganti pakaian.


Saat tiba di dalam ruangannya, Gracia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.10 menit kemudian, dia pun telah selesai membersihkan tubuhnya yang terkena guyuran air oleh Mahendra.


Namun, satu hal yang dia lupakan. Dia tidak mempunyai baju ganti, Gracia terlihat berdecak kesal karena untuk saat ini dia bingung harus memakai apa.


Tak lama kemudian, terdengar pintu kamar mandi diketuk.


Tok! Tok! Tok!


"Siapa?" tanya Gracia.


Satu detik, dua detik, tiga detik, sampai beberapa waktu kemudian tak ada sahutan dari luar. Gracia pun memberanikan diri untuk membuka sedikit pintunya.


Dia ingin mengintip siapakah yang mengerjai dirinya, namun ternyata di ruangan tersebut tak ada orang. Hanya ada sebuah kemeja yang tergantung di knop pintu.


Saat Gracia perhatikan, kemeja itu terlihat besar. Dia pun jadi berpikir mungkin itu adalah milik Mahendra yang dia pinjamkan untuk dirinya.


"Dasar kulkas enam belas pintu, ngomong kek, apa kek!" keluh Gracia.


Setelah mengatakan hal itu, Gracia mengambil kemeja tersebut. Lalu dengan cepat dia pun memakainya.


Kemeja itu benar-benar terlihat seperti daster saat dipakai oleh Gracia, bahkan rok span diatas lutut yang dia pakai pun tertutup oleh kemeja yang dia pakai.


Gracia terlihat memandangi dirinya dari pantulan cermin, dia terkekeh karena merasa lucu dengan penampilannya saat ini. Kemeja yang dipakai seakan menenggelamkan dirinya.


"Setidaknya aku tidak harus kedinginan karena bajuku yang basah," kata Gracia.


Tak lama kemudian Gracia terlihat keluar dari dalam kamar mandi, kemudian dia pun langsung duduk di kursi tempat dia biasa bekerja.


Saat dia sedang asyik bekerja, tiba-tiba saja Mahendra masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung duduk anteng.


Dia pun mengerjakan tugasnya dengan serius, sesekali Mahendra terlihat mengatupkan bibirnya.


Gracia pun menjadi risih dibuatnya, dia merasa jika Mahendra seakan ingin menertawakan dirinya.


Karena merasa tak tahan dengan mimik wajah Mahendra, Gracia pun langsung menghampiri Mahendra dan duduk tepat di hadapannya.


"Tuan, saya mau mengucapkan terima kasih untuk kemejanya. Tapi saya mohon, wajahnya tolong dikondisikan!" kata Gracia.


Mahendra terlihat mengalihkan tatapannya dari berkas yang sedang dia periksa, lalu dia pun menatap wajah Gracia dengan lekat.


"Memangnya ada apa dengan wajah saya?" tanya Mahendra dengan raut wajah datarnya.


Gracia terlihat memonyongkan bibirnya, dia merasa kesal dengan apa yang diucapkan oleh Mahendra.


Mahendra seperti anak kecil yang mengelak ketika ketahuan, hal itu membuat Gracia menjadi jengah.


"Susah kalau ngomong sama kulkas enam belas pintu, dingin, datar, dan mulutnya itu kayak engga pernah ada manis-manisnya." Gracia terlihat bangun, dia hendak kembali kemejanya.


Gracia pun langsung menghentikan langkahnya, lalu dia kembali menatap Mahendra.


"Ada apa lagi, Tuan?" tanya Gracia.


Mahendra tidak menjawab, dia langsung bangun dan menghampiri Gracia. Kemudian dia menyudutkan tubuh Gracia.


Gracia sampai terduduk di atas meja kerja Mahendra, Mahendra terlihat mencondongkan wajahnya ke arah Gracia.


Gracia terlihat ketakutan, dia pun memundurkan wajahnya.


"Tu--tuan mau apa?" tanya Gracia terbata.


"Kamu bilang aku kulkas enam belas pintu?" tanya Mahnedra.


Gracia langsung menganggukkan kepalanya.


"Kamu bilang mulut aku ngga ada manis-manisnya?" tanya Mahendra lagi.


Gracia terlihat kembali menganggukkan kepalanya.


"Yakin mulut aku ngga ada manis-manisnya?" tanya Mahendra.


"Yakin, Tuan kalau bicara ketus. Irit banget ngomongnya, ngga pernah ngomong yang ngenakin," kata Gracia.


"Mau bukti kalau mulut aku ngga ada manis-manisnya?" tanya Mahendra.


Dahi Gracia terlihat mengernyit dalam, dia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Mahendra.


Mahendra terlihat terkekeh, lalu dia pun memiringkan kepalanya dan dia pun mendekatkan bibirnya ke arah bibir Gracia.


Mata Gracia langsung membulat sempurna lalu dia pun menutup bibirnya dengan cepat dengan kedua tangannya.


Gracia bahkan hampir saja terjengkang kalau Mahendra tidak menarik pinggangnya.


"Kenapa malah di tutup bibirnya? Bukankah kamu ingin tahu kalau bibir saya itu ada manis-manisnya atau tidak?" tanya Mahendra.


Gracia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu dia berusaha melepaskan diri dari Mahendra dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju meja tempat dia bekerja.


Mahendra tertawa, lalu dia pun kembali duduk di kursi tempat dia bekerja. Gracia terlihat mengamati cara Mahendra tertawa, ternyata manis juga jika Mahendra terlihat tertawa seperti itu.


Namun Mahendra terlihat menyeramkan kala dia terlihat tersinggung dengan apa yang dia ucapkan.


Sepertinya Gracia harus lebih berhati-hati lagi dengan apa yang dia ucapkan kepada Mahendra, agar pria itu tidak marah lagi, pikirnya.


Gracia terlihat bergidig kala mengingat kejadian barusan, dia pun terlihat berusaha fokus kepada pekerjaannya tanpa berani menatap lagi kearah Mahendra.