
Laila, kini sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Arkana, nampak sedang menggendong seorang bayi laki-laki, yang begitu tampan.
Arkana, langsung mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi laki-lakinya. Kemudian, setelah selesai. Dia pun membacakan iqomat, tepat di telinga kiri Putra keduanya.
Tuan Arley dan juga Adisha, sudah berada di sana. Adisha terlihat kesusahan saat berjalan, karena usia kandungannya yang sudah menginjak delapan bulan.
Tuan Arley, bahkan datang membawakan hadiah untuk Laila, karena telah memberikannya dua cucu yang sangat tampan.
"Ini untukmu menantuku, Sayang." Tuan Arley langsung memberikan sebuah kotak kepada Laila, kemudian dia mencium kening Laila dengan penuh sayang.
Arkana, nampak kesal ketika melihat Daddynya mencium kening Laila. Karena menurut Arkana, Laila hanya miliknya, hanya dia yang boleh menyentuh tubuh istrinya.
Sedangkan Tuan Arley, merasa masa bodoh dengan kecemburuan Arkana. Menurutnya, itu tidak beralasan, karena Tuan Arley, benar-benar menyayangi Laila sebagai putrinya.
Laila, pun kemudian menerima kotak hadiah yang diberikan oleh mertuanya, dan saat Laila membuka kotak tersebut, Laila sangat kaget. Karena ternyata, hadiah yang diberikan oleh Tuan Arley, adalah satu set perhiasan lengkap, dan dapat dipastikan jika harganya sangat mahal.
"Dad, ini terlalu berlebihan." Laila menatap Tuan Arley dan Adisha secara bergantian.
Laila, berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia merasa terharu, terhadap perlakuan mertuanya yang selalu mengistimewakan dirinya.
Padahal, dirinya hanya menantu. Bukan anak kandungnya, tetapi Tuan Arley, benar-benar memperlakukan Laila seperti putri kandungnya.
"No, Laila. Hadiah yang aku berikan, tidak seberapa jika dibandingkan dengan kedua cucu tampan, yang telah kamu lahirkan untuk keluarga Caldwell." Tuan Arley mengelus lembut tangan Laila.
"Tank's, Dad." Laila langsung memeluk Tuan Arley.
Arkana, terlihat lebih cemburu lagi saat melihat Tuan Arley yang memeluk Laila.
"Ehm, Dad." Seru Arkana.
"Jangan cemberut, ngga tampan. Nanti kalah tampan, sama Daddy." Tuan Arley mengerling nakal pada Adisha.
Sedangkan Adisha, terlihat malu-malu. Dia pun langsung memeluk tangan kekar Tuan Arley dan menyembunyikan wajahnya di sana.
"Boy," panggil Tuan Arley.
"Yes, Dad."Arkana menyahuti Daddynya.
"Siapa nama Babby tampan ini?" tanya Tuan Arley.
Laila nampak memandang Arkana, Laila memang tidak mempersiapkan nama sama sekali buat putranya. Karena saat mengandung, Laila, benar-benar tidak tahu jenis kelamin bayi yang dia kandung.
Jadi, dia memutuskan, akan mencari nama setelah melahirkan nanti.
"Jangan bilang, kalau kalian belum siapkan nama untuk putra kedua kalian?" tebak Adisha.
Arkana dan Laila, pun saling pandang. Karena ternyata tebakan Adisha, memanglah benar. Mereka, belum punya nama untuk bayi kedua mereka.
"Belum, Dad." Arkana memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ck, bolehkan Daddy yang memberikannya nama?" tanya Tuan Arley.
Dengan senang hati, Arkana pun langsung mempersilahkan.
"Boleh, Dad." Arkana memberikan putranya yang terlihat tertidur pada Laila.
Laila, pun dengan senang hati langsung menggendong Putra keduanya. Sesekali, dia menciumi pipi Putra keduanya yang terlihat masih merah.
"Altezza Reiki Caldwell," celetuk Tuan Arley.
"Bagus, Dad. Nama yang indah," puji Laila.
"Kamu suka, Boy?" tanya Tuan Arley pada Arkana.
"Yes, Dad." Jawab Arkana.
"Daddy harap, kalian semua memakai marga keluarga kita." Tuan Arley berucap dengan penuh harap.
"Yes, Dad. Sekalian ganti kartu keluarga, Nanti nama marga keluarga kita, akan di sematkan." Arkana mengucapkan hal itu, agar Daddynya tenang.
Saat Tuan Arley dan Arkana sedang asyik berpelukan, tiba-tiba saja, Eliza dan Devano masuk ke dalam ruangan Laila dengan membawa sebuket bunga dan satu buket buah.
"Waaah, selamat ya.. Sudah dua," ucap Devano seraya menyimpan bunga dan buah di atas nakas.
Tuan Arley dan Arkana, nampak melerai pelukannya. Kemudian Arkana pun langsung menghampiri Devano, dan memeluknya dengan erat.
" Terima kasih, Bang. Karena sudah menyempatkan waktu, untuk menjenguk putra kedua kami." Arkana lalu melerai pelukannya.
"Sama-sama, De. Abang sudah tak sabar untuk menggendong Babby kamu," ucap Devano.
Devano langsung menghampiri Laila dan menggendong bayi mungil yang terlihat sangat tampan itu. Sedangkan Eliza, langsung memeluk Laila dan memberikan ucapan selamat untuk nya.
"Selamat ya, De. Dapet dua pria tampan," ucap Eliza.
"Terima kasih," ucap Laila.
"Sepertinya, habis ini kamu harus langsung produksi lagi." Eliza mengerling nakal.
"Maksudnya, program hamil lagi, De. Kan belum dapet yang cantik," ucap Eliza.
Laila langsung membulatkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Eliza.
" Ya ampun, kakak ipar aneh-aneh saja. Aku aja baru melahirkan, perutku masih basah, masa sudah disuruh program hamil lagi." Laila terlihat mencabik kesal.
Semua yang ada di sana pun, nampak tertawa melihat kekesalan di mata Laila.
"Boleh kan, aku menggendong Babby'nya nya?" tanya Eliza.
"Boleh, Kak." Jawab Laila.
Eliza, pun segera menggendong bayi mungil yang sedang dibgendong oleh Debano. Dia terlihat sangat senang, karena bisa menggendong bayi mungil milik Laila.
Dia pun mengusap lembut pipi bayi tersebut, yang terlihat kemerahan, Babby itu terlihat sangat lucu. Apalagi, saat dia menggeliatkan tubuhnya.
Tapi, baru saja Eliza menggendong sebentar Babby lucu itu, tiba-tiba saja perut Eliza, terasa sangat sakit dan keram di bagian bawah.
Bahkan, Eliza pun terlihat sangat sulit untuk bergerak. Wajahnya langsung memucat, terlihat dahi Eliza mengeluarkan banyak buliran keringat.
Devano, pun terlihat panik, dia takut jika istrinya merasakan sakit atau apapun itu.
"Kamu kenapa Za?" tanya Devano.
"Pe--perut aku sakit, Mas. Keram, a--aduh... Sakit banget," keluh Eliza.
Tuan Arley, langsung menghampiri Eliza. Dia mengambil bayi mungil milik Laila dari tangan Eliza, kemudian dia pun meminta Devano, untuk mengajak istrinya berobat.
"Bawa segera istrimu, untuk melakukan pemeriksaan. Aku khawatir, akan terjadi sesuatu hal yang buruk padanya." Tuan Arley berucap dengan nada perintah.
"Iya, iya." Devano langsung menggendong Eliza, kemudian dia pun berlari menuju ruang pemeriksaan.
Sampai di ruang pemeriksaan, Eliza pun langsung diperiksa oleh seorang Dokter perempuan.
Setelah pemeriksaan selesai, Dokter perempuan itu pun lalu bertanya kepada Devano dan Eliza.
"Maaf sebelumnya, apa sebelum kalian ke sini kalian melakukan hubungan suami istri?" tanya Dokter perempuan tersebut.
Devano dan Eliza pun Saling pandang, kemudian, mereka pun serempak menganggukan kepala mereka. Dokter perempuan itu pun tersenyum, lalu dengan perlahan dia pun menjelaskan tentang kondisi Eliza.
"Seharusnya, kalian jangan terlalu sering melakukan hubungan suami istri, di masa awal seperti ini." Jelas Doter permpuan itu.
"Tapi, Dok. Kami kan pengantin baru, wajar rasanya bila Kami selalu ingin melakukannya." Jawab Devano, yang langsung mendapatkan cubitan dari istrinya.
Devano nampak meringis, tapi sejurus kemudian dia pun tersenyum kepada istrinya.
"Jadi, gimana Dok keadaan istri saya?" tanya Devano.