Who Is Adam?

Who Is Adam?
Babby Al



Siang ini, Adam terlihat sangat sibuk. Sepulang sekolah, Adam langsung membeli kue dan juga Robot super hero kesukaan'nya.


Adam ingin bermain bersama dengan adik kecilnya, dia ingin menyambut keluarga barunya.


Awalnya, Adam merasa gundah kala tahu jika dia akan bertemu dengan adik kecilnya. Tapi, setelah tahu jenis kelaminnya. Adam sangat senang, karena ternyata adiknya adalah seorang laki-laki.


Itu artinya, dia akan mempunyai teman bermain. Jika adiknya seorang perempuan, sudah dapat dipastikan jika dia tidak akan bisa bermain dengan anak perempuan.


Karena menurut Adam, anak perempuan hanya menyukai boneka, sedangkan Adam tidak suka dengan boneka.


Adam, pergi ke rumah sakit bersama dengan Tuan Arley. Tuan Arley, bisa saja menyuruh sopir untuk mengantarkan Adam ke Rumah Sakit.


Tapi, dia merasa tidak percaya. Jika, perjalanan yang Adam lakukan lumayan jauh.


Tuan Arley pun, dengan setia mendampingi cucunya tersebut, yang ingin melihat keluarga barunya.


Setelah melakukan perjalanan selama setemgah jam, Adam dan Tuan Arley pun sampai di Rumah Sakit.


"Sudah siap, Boy?" tanya Tuan Arley.


"Yes, Grandpa." Adam menjawab dengan penuh semangat.


Tuan Arley, langsung mengucapan salam. Kemudian, setelah mendapatkan jawaban, Tuan Arley nampak membuka ruang perawatan Laila.


Saat Adam dan Tuan Arley masuk, nampak lah Laila yang sedang menggendong bayi mungil' nya.


Sedangkan Arkana, sedang menyuapi Laila. Di sana juga ada Devano, Eliza, Nyonya Berlin dan juga Tuan Bram.


Mereka sedang menjenguk Babby kecil yang baru saja di lahirkan oleh Lalila, mereka juga datang, untuk memberitahukan kabar bahagia tentang kehamilan Eliza.


"Ibu, Adam, mau lihat Dede Al." Adam langsung duduk tepat di samping Laila, kemudian dia pun mengelus lembut pipi Dede Al.


Laila, langsung tersenyum saat melihat Adam yang begitu sayang kepada adiknya.


"Kok, Dede' nya di panggil Al?" tanya Eliza.


Adam, langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari Eliza.


"Biar simpel," jawab Adam.


Semua yang ada di sana langsung tertawa, mereka kira panggilan 'Al' adalah bentuk kasih sayang'nya Adam terhadap adiknya. Tapi ternyata, hanya biar simpel saja.


"Kamu tuh, bikin ibu gemes." Laila langsung mengecup hidung bangir Adam.


Adam hanya nyengir kuda, kemudian Adam mangambil paper bag yang berisi Robotan dan juga kue.


"Ini kue buat Ibu," Adam memberikan satu kotak kue kesukaan Laila. " Yang ini, buat Dede Al." Adam memberikan Robot super hero pada Dede Al.


Laila terlihat sangat senang, Laila pun langsung tersenyum dan mengecup kening Adam. Laila mengambil Robotan dari tangan Adam, dan menyimpannya di atas nakas.


"Terima kasih, Sayang. Tapi, Dede Al'nya masih bayi. Belum bisa main robotan." Laila memberikan penjelasan pada Adam.


Adam terlihat lesu, padahal, dia sudah membayangkan untuk bermain bersama adik kecilnya. Adam memang genius, dia begitu ahli dalam bidang pekerjaan yang terkadang orang dewasa pun terlihat kesusahan dalam mengerjakannya.


Tapi, Adam tetaplah anak kecil yang belum paham akan hal itu.


"Boy, sini.. Main sama grandpa, nanti bisa dapet duit." Tuan Arley yang sedang duduk di sofa tunggu pun, berusaha untuk merayu Adam.


Adam langsung menghampiri Tuan Arley, kemudian, Adam duduk di pangkuan' nya.


"Apa?" tanya Adam lesu.


Tuan Arley langsung menunjukan ponselnya, wajah Adam langsung terlihat sumringah.


"Kamu boleh mengambil project Grandpa," ucap Tuan Arley.


Apa lagi, saat melihat wajah para pelanggan yang puas terhadap pelayanannya.


Adam langsung mengcopy email yang masuk ke ponsel Tuan Arley, lalu, dia mengirimnya ke alamat emailnya sendiri.


Di saat Adam sibuk, Eliza nampak menghampiri Laila dan menggendong Babby Al. Eliza mengusap lembut pipi Babby Al, dia juga mengecup kening Babby Al.


Babby Al langsung menggeliat, dia seakan merespon tindakan yang di lakukan oleh Aunty'nya.


"Kamu tampan, Aunty suka." Eliza kembali mengecup pipi mungil Babby Al.


Adam, sesekali melirik Babby Al yang mendapatkan perhatian dari Eliza.


"Oma, mau gendong. Boleh?" tanya Nyonya Berlin pada Babby Al, yang sudah pasti tak bisa menjawab.


Eliza nampak terkekeh, kemudian, Eliza memberikan Babby Al pada Mama'nya.


"Boleh dong, Oma." Eliza menirukan suara anak kecil.


Dengan senang hati, Nyonya Berlin langsung menggendong Babby Al. Terlihat sekali dari cara Nyonya Berlin memperlakukan Babby Al, jika dia ingin segera menimang cucu.


Setelah merasa puas, bermain dengan Babby twins Al. Tuan Arley, Devano dan juga Tuan Bram, nampak menggendong Babby Al secara bergantian.


Mereka terlihat begitu memuji wajah tampan Babby Al, yang merupakan perpaduan sempurna antara Arkana dan juga Laila.


Saat melihat hal itu, Adam merasa cemburu. Dia merasa terabaikan, semuanya nampak begitu memperhatikan Babby Al, tanpa memandang Adam.


Bahkan, Adam terlihat sangat sedih. Saat melihat banyaknya kado yang menumpuk, di samping ranjang pasien.


Pasti semua kado itu, spesial untuk Babby Al, pikir Adam.


Adam yang merasa terabaikan pun langsung keluar dari dalam ruang perawatan Laila. Para orang dewasa, begitu sibuk membicarakan Babby Al, Bahkan mereka sampai tak sadar jika Adam sudah pergi dari sana.


Adam duduk termangu, di bangku taman. Dia merasa sangat sedih, karena ternyata, Babby Al lebih menarik perhatian semua orang.


Tak ada lagi yang memuji Adam, semua memuji Babby Al.


"*Babby Al, lucu. "


"Babby Al, sangat tampan. Mata dan hidungnya mirip banget Laila, tapi bibirnya kayak punya Arkana."


"Babby Al, anteng banget. Kayaknya, kamu ngga bakalan cape ngurusin anak tampan kamu ini."


"Tentu saja Babby Al, terlihat sempurna. Dia keturunan Caldwell, pasti menurun dari darah leluhur kami*."


Banyak sekali pujian yang Adam dengan untuk Babby Al, membuat Adam merasa cemburu. Merasa sedih dan juga terabaikan.


"Hai, Kakak tampan. Kenapa Kakak bersedih?" tanya seorang anak permpuan yang nampak duduk di kursi roda.


"Hai, Adik manis. Kakak sedih, karena semua keluarga Kakak terlihat menyayangi Babby Al." Adu Adam.


"Siapa Babby Al?" tanya Anak perempuan itu.


"Adik, Kakak yang baru lahir." Adam menjelaskan.


"Kakak harusnya bersyukur, punya keluarga. Aku tidak punya keluarga, semua keluarga ku meninggal dalam kecelakaan." Anak perempuan itu nampak tertunduk lesu.


Mendengar ucapan anak perempuan tersebut, Adam menjadi sadar. Jika dia harus saling menyayangi sesama saudara, bukan malah merasa iri dengan kehadiran Babby Al.


"Terima kasih, Cantik. Karena kamu sudah mengingatkan aku, nama kamu siapa?" tanya Adam.


"Nama aku, Pricilia Gunandari. Umur aku lima tahun," ucap Pricilia dengan senyum manisnya.


"Aku, Adam. Umur aku enam tahun setengah, aku sudah kelas tiga SD." Adam memperkenalkan dirinya.