Who Is Adam?

Who Is Adam?
Pemimpin Baru



Sisil lalu memeluk Laila, Adisha dan Tuan Arley secara bergantian. Rasa bahagia dan rasa haru bercampur jadi satu. Dia merasa senang sekaligus bangga, karena Tuhan tak serta merta begitu saja memberikan kesusahan dalam menjalani harinya.


Karena ternyata, kini hidupnya terasa jauh lebih baik setelah jalan penderitaan panjang yang sempat dia lalui.


"Oh iya, Sayang. Apa kamu benar-benar tulus mencintai cucu ku?" tanya Tuan Arley.


Tuan Arley sebenarnya sudah tahu jika Sisil memang sangat mencintai putranya, akan tetapi tak salah bukan jika dia ingin mendengarnya secara langsung dari mulut Sisil.


"Tentu saja aku sangat mencintai, Mas Adam. Kalau tidak, aku ngga akan mau dilamar sama Mas Adam." Jawab Sisil yakin.


Sisil memang sudah memantapkan hatinya pada Adam, lelaki yang sudah datang memberinya banyak kebahagiaan.


Lelaki yang sudah mengangkat derajatnya, hingga dia tak perlu bersusah payah lagi dalam menjalani kehidupan yang selalu dia rasa sulit. Bahkan kini dia tak harus terus bersembunyi dan berusaha untuk menghindari keluarga William lagi karena Adam.


"Benarkah seperti itu? Jadi kamu beneran cinta sama aku?" tanya Adam yang ternyata sudah berada tepat di belakang Sisil.


Tuan Arley ternyata sengaja bertanya seperti itu pada Sisil, agar Adam bisa tahu bagaiaman perasaan Sisil terhadapnya.


Sisil langsung memalingkan wajahnya, Adam seolah tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung mengecup pipi Sisil.


Wajah Sisil langsung bersemu, sedangkan Tuan Arley langsung tertawa melihat tingkah Adam. Berbeda dengan Laila dan Arkana, mereka terlihat menggelengkan kepalanya.


Sepertinya Adam sudah mulai ketularan Tuan Arley, suka mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan.


Adam langsung duduk di samping Sisil, dan merangkul pundak Sisil dengan mesra.


"Jadi kamu beneran cinta sama aku? Sejak kapan?" tanya Adam.


Sisil nampak tertunduk malu, apa lagi di sana banyak orang yang melihat kelakuan Adam.


"Mas... jangan nanya terus. Malu.... "


Laila yang melihat Wajah Sisil merasa kasihan, karena Sisil terlihat benar-benar sangat malu.


"Sudahlah, Sayang. Kasihan Sisil, oiya, Sayang. Kenapa kamu balik lagi?" tanya Laila.


"Di suruh, Grandpa." Jawab Adam enteng.


Laila dan Arkana nampak memandang Tuan Arley dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ada apa, Dad?" tanya Arkana.


"Aku ingin mengajak Sisil dan Adam ke perusahaan Gunandari, Aku ingin memperkenalkan Sisil sebagai pemilik perusahaan Gunandari." Kata Tuan Arley.


"Aku setuju kalau untuk yang satu itu," kata Arkana.


Mendengar semua itu Sisil malah terlihat gelisah, Tuan Arley yang melihatnya langsung berusaha untuk menenangkan Sisil.


"Kamu ngga usah khawatir, Sayang. Tak akan ada lagi yang berani menghina kamu, tak akan ada juga yang berani menyentuh apa lagi menyakiti kamu." Jelas Tuan Arley.


"Ya, aku percaya pada kalian." Kata Sisil pada akhirnya.


Sisil terlihat lebih tenang, Setelah mendengar penuturan Tuan Arley. Lagi pula, apa yang harus dia takutkan?


Toh William sudah di penjara, sedangkan Mharta sudah menemukan kebahagiaannya bersama Bastra yang sebentar lagi akan menikahinya.


Lelaki perkasa yang mampu membuat Mharta yang haus akan belaian seorang pria, langsung terpuaskan. Dia tak perlu lelaki manapun lagi, dia sudah terpuaskan dengan hanya Bastra saja yang menjamahnya.


"Sekarang bersiaplah, setengah jam lagi kita akan berangkat." Jelas Tuan Arley.


"Hem... sepertinya aku harus membantu Sisil." Kata Adam seraya mengerling nakal.


"Mau ngapain kamu, hem?" tanya Laila.


"Mau bantu milihin baju yang pas, Bu." Jawab Adam seraya meringis saat melihat mata Laila yang terlihat menatapnya dengan tajam.


Laila langsung bangun dan merangkul pundak Sisil, "biar Ibu saja."


Laila langsung mengajak Sisil ke kamarnya, sedangkan Adam hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal.


Tuan Arley, Adisha dan Arkana langsung menertawakan kesialan Adam.


"Kamu harus sabar, Boy." Kata Tuan Arley.


"Tinggal enam hari lagi SAH," kata Adisha.


"Habis SAH, bisa langsung hap." Kata Arkana.


"Memangnya Cicak, Yah." Kata Adam.


Arkana hanya tertawa melihat wajah Adam yang terlihat sudah tak sabar.


Tak lama Sisil pun datang dengan memakai dress selutut tanpa lengan berwarna cream, Laila pun memakaikan blazer untuk menutupi tangannya.


Wajahnya dipoles dengan sapuan make up tipis, dengan bibir yang diberi warna gincu merah muda. Rambutnya di kuncir kuda, karena Sisil memang merasa nyamannya seperti itu.


Adam sampai tak berkedip saat melihat kecantikan Sisil, tanpa make up pun Sisil sudah sangat cantik. Apa lagi kalau berdandan seperti ini, membuat Adam tak sabar ingin segera mengetahui bagaimana rasa dari bibir berwarna pink itu.


"Ehm... ayo, Sayang. Kita tinggalkan Adam yang hanya bengong saja," Tuan Arley langsung menggandeng tangan Sisil. "Kamu jangan kemana-mana, tetap di sini, temani Laila. Karena Arkana juga akan segera pergi." Pesan Tuan Arley pada Adisha.


"Yes, Darling." Ucap Adisha.


Tuan Arley langsung membungkuk lalu mengecup bibir istrinya sekilas, hal itu membuat semua yang ada di sana berdecak.


Antara kagum dan sebal, karena sudah tuan tapi masih saja mengumbar kemesraan.


Adam yang merasa kesal langsung bangun dan merangkul pundak Sisil.


"Kamu sama aku aja, jangan sama Grandpa. Nanti kamu disangka sugar Babby," ucap Adam seraya mengajak Sisil untuk masuk ke dalam mobilnya.


Tuan Arley langsung tertawa mendengar ucapan Adam, lalu dia pun langsung masuk ke dalam mobil mewahnya, karena seorang supir sudah membukakan pintu mobil untuknya.


Satu jam kemudian, mereka sudah tiba di perusahaan Gunandari. Para petinggi perusahaan sudah berjejer di loby untuk menyambut kedatangan pemilik baru perusahaan.


Saat melihat Sisil, banyak dari mereka yang langsung bisa mengenalinya. Karena wajahnya yang sangat mirip dengan Marissa, membuatnya gampang di kenali.


Seorang lelaki paruh baya langsung menghampiri sisil, dia menggenggam lembut tangan Sisil dan menangis haru.


"Cia, Om tak menyangka jika kamu masih ada. Ayah dan Bunda kamu pasti sangat senang, karena kamu kini sudah bisa memegang perusahaan milik Ayahmu." Ucapnya tulus.


Sisil langsung melihat ke arah Tuan Arley, dia seakan. meminta jawaban.


"Dia pak Hartono, orang kepercayaan Ayah kamu. Jabatannya sempat diturunkan menjadi OB sama William, karena dia takut kalau kecurangannya disadari oleh banyak orang. Akan tetapi, sekarang beliau sudah aku suruh mengelola perusahaan ini." Jelas Tuan Arley.


"Begitukah?" tanya Sisil.


"Ya, Sayang. Kamu tak keberatan kan, kalau Grandpa meminta tolong padanya untuk mengurus perusahaan Gunandari?" tanya Tuan Arley.


Sisil terlihat menggelengkan kepalanya," tidak."


"Bagus, sekarang kita ke ruang rapat. Karena hari ini, kita akan meresmikan kamu sebagai pemimpin perusahaan yang baru." Jelas Tuan Arley.