
Malam ini benar-benar Adam habiskan untuk memuaskan istri cantiknya, dia tak habis pikir jika Sisil begitu kuat dan tak ada lelahnya.
Jika biasanya seorang pria yang akan sangat bertenaga dan tak ada puasnya meminta jatahnya terhadap sang istri, ini malah kebalikannya.
Adam bahkan sempat bertanya dalam hatinya, apakah wanita yang semalam suntuk bercinta dengannya adalah Pricilia Gunandari? Gadis kecilnya yang sudah membuat Adam jatuh hati saat usianya baru menginjak enam tahun serengah, atau wanita lain?
Akan tetapi, jika dilihat dari sisi mana pun memang gadis kecil itu adalah istri cantiknya. Namun akan berubah menjadi liar jika sedang menginginkan dirinya.
Adam pun mulai berpikir, jika sebaiknya nanti sepulang bulan madu dia harus tinggal di apartemen saja. Dia takut jika istrinya sedang menginginkan dirinya, yang ada malah marah-marah karena tak bisa mewujudkan keinginannya.
Pukul lima pagi, Adam dan Sisil baru terlelap. Selepas shalat subuh mereka memutuskan untuk tidur, untuk memulihkan tenaga mereka yang terkuras karena kegiatan panas mereka.
Adam dan Sisil terlihat sangat kelelahan, tapi dari wajah mereka terukir raut kepuasan. Mereka tidur dengan posisi saling memeluk, seakan mereka takut kehilangan satu sama lain.
"Emph.... "
Adam yang sedang terlelap dalam tidurnya merasa ada yang aneh dengan miliknya, terasa hangat dan basah. Bahkan miliknya kini terasa mengeras, Adam bahkan sempat bergumam dalam hatinya.
"Ya Allah, apa karena semalaman aku terlalu lama bercinta dengan istriku ya? Kenapa aku merasa milikiku masih belum selesai? kenapa makin lama malah makin enak kaya gini?" Gumam Adam dalam hati.
Adam yang merasa penasaran pun memaksakan untuk membuka matanya yang terasa susah untuk di buka, alangkah kagetnya saat dia melihat Sisil yang sedang bermain di bawah sana.
Sisil terlihat begitu menikmati milik Adam, menggerakan kepalanya naik turun sesuai irama. Rasanya begitu nikmat, membuat Adam serasa ingin meledak saat itu juga.
Adam langsung bangun, dia mendorong tubuh istrinya dan mengungkung tubuhnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, hem?" tanya Adam.
Wajah Sisil langsung memerah, dia merasa malu karena Adam malah bertanya. Padahal Sisil tahu jika Adam pasti sudah paham, ngga usah nanya juga tinggal bilang salam terus masuk.
"Ck... Yang, nanti milik kamu sakit. Jangan lagi, besok lagi aja kalau kita sudah sampai di Bali." Kata Adam.
Sisil terlihat mencebik kesal, dia sangat menginginkan sentuhan dari Adam. Dia ingin mengulang pergumulan panas yang mereka lakukan tadi malam.
Namun, Adam malah seolah tak mengerti. Dia malah menghawatirkan milik Sisil yang takut sakit, justru milik Sisil kini terasa berdenyut. Dia ingin merasakan hal yang lebih, dia ingin Adam memasukinya.
"Kamu mau apa?" tanya Adam lagi.
"Aku mau ini," kata Sisil.
Tangan mungil Sisil sudah mengusap dan memijit lembut milik Adam yang kini tengah berdiri tegak.
"Ssshh..." Adam berusaha untuk menahan hasratnya, dia memejamkan matanya dengan kuat. "Nanti punya kamu sakit, Sayang. Kita sudah semalaman melakukannya, apa kamu tidak lapar?" tanya Adam.
Adam melirik jam kecil yang dia simpan di atas nakas, waktu menunjukan pukul sepuluh pagi. Bahkan untuk sarapan saja mereka sudah lewatkan, pikirnya.
"Laper banget, tapi bibir yang atas sarapannya entar aja sekalian makan siang. Yang bawah udah ngga tahan mau sarapan," ucap Sisil seraya mengatupkan bibirnya.
"Ya ampun, Mas belum sarapan loh. Nanti Mas bisa pingsan, karena lemas." Adam hanya beralasan saja sebenarnya, mana mungkin dia akan pingsan.
"Tapi akunya pengen banget, nanti kita gantian, ya?" ucap Sisil memelas.
"Ya ampun... " ucap Adam. Tanpa sadar dia mengeluh dalam hatinya, apa salahnya sarapan dulu menurutnya. Ini malah ngajakin main kuda-kudaan, ngajak gantian pula.
Sisil benar-benar menggoda iman dan iminnya, membuat Adam benar-benar tak bisa berkutik.
Benar saja, pukul satu siang mereka baru sampai di Resto yang tak jauh dari apartemen milik Adam. Mereka langsung mengisi perutnya yang terasa keroncongan. Cacing di dalam perut mereka bahkan terasa begitu riuh seperti sedang berdisco.
Selesai makan, Adam dan Sisil langsung pulang ke rumah Laila. Saat tiba Laila sudah menyambutnya di depan pintu utama.
"Kenapa malah nginep di apartemen?" tanya Laila penasaran.
Laila sangat menghawatirkan putra sulungnya, dia takut jika Adam belum makan atau kekurangan apa pun tanpa adanya Laila.
"Pengen aja, Bu." Jawab Adam, dia terlihat meringis sambil menatap istrinya.
Sisil yang ditatap malah biasa saja, bahkan wajahnya terlihat berseri dan langkahnya terlihat sangat ringan.
"Ya ampun... apa istri cantikku tidak merasa kesakitan? Kenapa jalannya saja terlihat sangat ringan,? Bahkan wajahnya terlihat sangat riang, apakah ini yang di maksud dengan hyper.***?" gumam Adam dalam hati.
"Kalian sudah makan?" tanya Laila.
"Sudah, Bu." Jawab Sisil.
"Kalau begitu cepat bersiap, besok pagi kalian akan ke Bali. Pesawat yang kalian tumpangi akan berangkat pukul tujuh pagi." Laila berusaha mengingatkan agar adam dan Sisil segera bersiap dan jangan sampai ada yang tertinggal.
"Iya, Bu. Kita akan bawa seperlunya saja, nanti di sana kan bisa beli barang yang kita butuhkan." Jawab adam.
"Iya, ibu mengerti." Jawab Laila.
Laila pun hendak meninggalkan Adam menuju kamarnya, namun. terlebih dahulu Adam mencegahnya. Adam langsung memeluk Laila dan mengecup pipinya.
"Boy, kamu sudah besar. Jangan bersikap seperti ini? Nanti istri kamu cemburu," ucap Laila
"Sisil ngga akan cemburu, aku mau bobo siang sama Bunda. Boleh?" tanya Adam.
Adam sengaja ingin tidur siang bersama dengan Laila, karena sudah bisa dipastikan jika Adam tidur di dalam kamarnya, dia tidak akan bisa memejamkan matanya karena Sisil pasti akan terus mengganggunya.
Bukannya dia tak ingin bermesraan dengan Sisil, hanya saja tubuhnya juga merasa lelah dan rasanya dia benar-benar ingin tidur dengan cukup.
"Bagaimana, Sayang? Apa boleh Adam tidur sama ibu?" tanya Laila.
Sebenarnya Laila merasa jika permintaan Adam itu terlalu konyol, karena Adam sudah besar dan juga sudah menikah.
Dia merasa tidak enak terhadap menantunya, akan tetapi sebesar apapun Adam bagi Laila Adam tetaplah putra kecilnya, dia juga tak ingin mengenyampingkan keinginan Adam.
Awalnya Sisil terlihat enggan untuk memberikan izin kepada Adam, akan tetapi dia juga tidak enak terhadap mertuanya itu, akhirnya Sisil pun memberikan izinnya.
"Iya, Bu. Mas Adam boleh kok, tidur di kamar ibu." Ucap Sisil.
"Makasih, Sayang." Ucap Adam.
Adam langsung mengecupi setiap inci wajah Sisil, kemudian dia pun merangkul pundak Laila dan mengajak Laila untuk masuk ke dalam kamar ibunya tersebut.
"selamat gue, akhirnya bisa tidur pules."