Who Is Adam?

Who Is Adam?
Soto Tangkar



Akhirnya Adisha pun pulang bersama Tuan Arley ke rumahnya, karena Tuan Arley memang tidak ada lagi kegiatan penting di kantor. Semua masalah, sudah bisa dia limpah kuasakan pada orang kepercayaannya.


Sedangkan Laila, nampak pulang bersama Eliza. Sepanjang perjalanan pulang Adisha hanya terdiam, dia seakan larut dalam pikirannya.


Sedangkan Tuan Arley, sesekali melirik ke arah istrinya. Sebenarnya, apa pun kegiatan Adisha, dia sangat tahu. Karena Tuan Arley, memerintahkan salah satu anak buahnya, untuk mengikuti kemanapun Istrinya pergi.


Tak ada niatan buruk sebenarnya, dia percaya pada istrinya. Justru, Tuan Arley itu takut, jika akan ada sesuatu bahaya yang menghampiri istrinya.


Sampai di rumah utama, Tuan Arley langsung turun dari mobil. Dia segera membukakan pintu untuk istrinya, tangannya terulur, dan Adisha pun langsung menyambutnya.


Pasangan pengantin baru itu, berjalan masuk ke dalam rumah secara beriringan dengan tangan yang saling bertaut.


Sampai di dalam kamar, Tuan Arley langsung memojokkan Adisha ke tembok dan dengan tidak sabarnya dia mencium Adisha dengan sangat lembut.


Dia rindu dengan manis bibir istrinya, dia rindu ingin merasakan kembali kelembutan milik istrinya. Mereka berdua sudah diliputi kabut gairah, Tuan Arley bahkan sudah membuka semua kain penghalang di tubuhnya.


Dia juga dengan tak sabar, membuka semua kain penghalang yang ada di tubuh istrinya. Kini, mereka berdua sudah dalam keadaan polos.


Dengan gerakan tidak sabar, Tuan Arley langsung menggendong istrinya. Adisha pun sontak langsung melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Arley.


Tuan Arley pun lantas membuktikan kekuatannya, dia memberikan hujaman pada istrinya dari bawah sana. Membuat Adisha merasa sangat kagum, dengan pria tua yang sedang menggendongnya, sambil memberikan kenikmatan yang luar biasa padanya.


Adisha sangat kagum pada suaminya, karena walau usianya sudah kepala lima, tapi Tuan Arley masih sangat gagah. Bahkan dia masih sanggup memberikan gaya dan sensasi setiap mereka bermain, seperti anak muda yang sedang masa-masanya indah dalam mengarungi lautan kenikmatan.


"Aah, Sayang!!" pekik Adisha.


Adisha mengencangkan pelukannya, pahanya mengetat sampai ke ujung kukunya dan tangannya mencengkram bahu kokoh milik Tuan Arley.


"Sudah?? tanya Tuan Arley.


Dengan senyum malu-malu, Adisha nampak menganggukan kepalanya. Tuan Arley ternyata sangatlah senang, dia lalu membawa istrinya menuju ranjang king size miliknya.


Merebahkan tubuh Adisha, dan langsung mengurung tubuh istrinya.


"Kamu luar biasa, Sayang." Tuan Arley berucap, sambil menyatukan tubuhnya.


"Kamu juga, sangat menakjubkan, Sayang." ucap Adisha.


Dan tak berapa lama, Adisha merasa jika dia ingin mencapai kembali titik kenikmatan, yang belum lama dia gapai.


Tuan Arley seakan paham, dia langsung mempercepat tempo ayunan pinggulnya. Hingga pada menit berikutnya, mereka sudah mengerang bersama.


"Tank's, Sayang." ucap Tuan Arley seraya mengecup kening Adisha.


*/*


Berbeda dengan Adisha dan Tuan Arley, yang sedang menikmati kebahagiaan. Laila malah sedang pusing karena kelakuan Adam, Adam marah karena saat pulang sekolah tidak ada yang menjemputnya.


Setelah pulang dari Mall, Laila tak langsung pulang. Wanita hamil itu, tiba-tiba saja menginginkan soto tangkar. Eliza bahkan sampai harus muter-muter mencari makanan yang bernama soto tangkar itu.


Padahal, di sebuah Resto ternama, ada yang menyediakan menu soto tangkar tersebut. Tapi, Laila tak mau makan soto di Resto. Wanita itu bersikukuh untuk makan di pinggir jalan.


Dia ingin makan soto yang di buat oleh seorang pedagang dorong, entah keinginan ibu hamil atau ingin mengerjai Eliza.


Bahkan Eliza sudah hampir menyerah, karena sudah lebih dari satu jam tak kunjung menemukan tukang soto yang di jual dengan gerobak dorong.


Dan pada akhirnya, Eliza berhasil menemukan penjual soto tangkar yang terlihat sedang mangkal di pinggir jalan.


Laila begitu antusias dan langsung memesan dua mangkuk soto tangkar, Eliza sampai geleng-geleng kepala dibuatnya


Dan yang paling menyebalkan, saat Laila baru mencicipi 2 sendok soto tangkar, dia merasa mual dan langsung muntah.


Laila pun menyuruh Eliza untuk menghabiskan 2 mangkok soto tersebut, awalnya Eliza menolak. Tetapi, ibu hamil itu tiba-tiba saja menangis, dia terisak seperti anak kecil yang menginginkan jajanan tapi tidak dituruti.


Laila bahkan menangis dengan tersedu-sedu, membuat Eliza tidak tega, dan akhirnya Eliza pun menghabiskan 2 mangkok soto tersebut.


Perutnya sampai kekenyangan, bibirnya pun sampai memerah. Karena ternyata, Laila memasukkan sambal ke dalam soto tersebut begitu banyak.


Eliza benar-benar sangat kapok menuruti keinginan Laila, dan Eliza pun jadi berharap, jika dia hamil nanti jangan pernah ada yang namanya ngidam aneh-aneh.


Kasihan orang yang berada di sekelilingnya, pikirnya. Jika dia menginginkan sesuatu yang sangat aneh, seperti yang Laila inginkan.


Saat Laila dan Eliza tiba di rumah Arkana, Adam terlihat cemberut. Dia sedang duduk di teras sambil menunggu Laila.


Dia terlihat begitu kesal kepada ibunya tersebut, karena dia sudah menunggu setengah jam lebih di sekolah, tetapi tidak dijemput juga.


Padahal, setiap harinya Laila tidak pernah telat menjemput Adam. Tetapi, kali ini dia bukan hanya telat, tapi benar-benar lupa untuk menjemput Adam.


Semuanya, karena ngidamnya yang sangat aneh. Dia pun sampai melupakan putranya tersebut. Dan hingga pada akhirnya, Adam pun uring-uringan.


Dia memang anak yang genius, tapi, walau bagaimanapun juga dia tetap anak kecil yang ingin di sayang dan di manja oleh kedua orang tuanya.


Apalagi, sekarang Laila sedang hamil anak kedua, sudah pasti, selain ada rasa senang di dalam diri Adam, ada pula rasa cemburu yang menghantui dirinya.


Dia seakan takut tak di sayang, dia seakan takut kasih sayang orang tuannya akan berpindah begitu saja kepada adiknya itu.