Who Is Adam?

Who Is Adam?
Pirasat



Saat panggilannya tersambung, Sisil pun langsung mengangkatnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Sisil dari sebrang sana.


"Kamu lagi di mana, Yang? Kenapa Mas pulang kamunya malah nggak ada di rumah?" tanya Adam.


"Aku lagi sama Ibu, lagi beli rujak di gang kedua dekat rumah," jawab Sisil.


"Hah? Rujak?" tanya Adam.


Dia merasa aneh saat istrinya berkata sedang membeli rujak, Adam bahkan sampai melirik jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Jam lima, apa ngga salah, Yang?" tanya Adam.


"Salah apanya?" tanya Sisil bingung.


"Ini udah sore banget, emangnya ngga apa-apa kalau kamu makan rujak?" tanya Adam khawatir.


"Kata Ibu ngga apa-apa, emangnya ngga boleh?" tanya Sisil dengan nada sendu.


Hal itu membuat Adam merasa bersalah, Adam pun dengan cepat mengiyakan walaupun hatinya tak tenang.


"Iya, Yang. Ngga apa-apa," jawab Adam pada akhirnya.


"Yes, maacih Ayang." Sisil terdengar begitu senang, bahkan dia sampai memeluk Laila yang berada di sampingnya.


Tak lama Adam melihat jika panggilan telponnya sudah dimatikan, Adam terlihat menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan.


"Dasar!" rutuk Adam.


Adam langsung melucuti pakaian yang menempel di tubuhnya, melemparkannya ke dalam keranjang kosong dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


"Mandi dulu aja, nanti kalau Sisil pulang aku udah wangi." Adam langsung menyalakan shower dan berdiri tepat di bawahnya.


Air shower yang dingin langsung bergerilya di tubuh Adam, rasa dingin pun langsung menyegarkan tubuh Adam yang terasa lelah setelah seharian bekerja.


Lima belas menit kemudian, Adam pun sudah terlihat rapih dengan baju santainya. Dia langsung keluar dari dalam kamarnya, tentunya tujuan utamanya adalah dapur.


Dia sangat yakin kalau istrinya pasti sudah berada di dapur dan sedang memakan rujak sesuai keinginannya.


Namun saat Adam sampai di dapur, tak ada Laila atau pun Sisil di sana. Hanya ada seorang pelayan yang sedang memasak untuk makan malam.


"Bi, lihat Sisil sama Ibu ngga?" tanya Adam.


"Di taman belakang, Tuan Muda." Bibi menunjukkan Laila dan Sisil yang sedang duduk di bangku taman.


"Ya ampun...'' ucap Adam. "Makasih, Bi." Adam langsung berjalan menuju taman belakang.


Adam langsung memeluk Sisil dari belakang, kemudian dia pun langsung mengecup pipi kanan dan kiri Sisil.


Sisil nampak melayangkan protesnya dengan tatapan matanya, dia sedang memakan rujak yang sangat ia inginkan.


Dia takut tersedak karena ulah Adam, melihat tatapan mata istrinya yang terlihat begitu menyeramkan Adam pun langsung memundurkan wajahnya.


"Ternyata istriku sangat menyeramkan jika sedang kesal," ucap Adam.


"Mas, ih." Protes Sisil seraya mencubit gemas perut Adam.


Adam yang tidak merasakan sakit di area perutnya hanya tertawa sambil mengacak pelan rambut Sisil, kemudian Adam langsung duduk di samping Laila dan memeluk Laila dengan sangat erat.


"Bu, Sisil kenapa? Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat begitu aneh beberapa hari ini?" bisik Adam tepat di samping telinga ibunya.


Kemudian Laila pun langsung membalas bisikan Adam, "sepertinya besok kamu harus mengajak istri kamu untuk memeriksakan diri ke Rumah Sakit. Ada yang harus kalian pastikan, Ibu sudah tak sabar ingin segera mengatahuinya."


Adam langsung mengerutkan dahinya, dia merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.


Sisil beberapa hari ini memang bersikap aneh, tapi... apakah harus Adam membawa istrinya ke Rumah Sakit, pikirnya.


"Jangan bengong, turutin saja apa kata Ibu. Nanti kamu pasti akan tahu kenapa ibu menyuruh kamu untuk membawa Sisil ke Rumah Sakit," ucap Laila seraya tersenyum.


Dia akan menuruti perintah dari ibunya, dia juga penasaran dengan apa yang ibunya ingin ketahui.


"Iya, Bu. Besok pasti Adam akan mengajak Sisil ke Rumah Sakit," bisik Adam.


Sisil yang sedang memakan rujak pun langsung menatap Adam dan Laila secara bergantian, karena menurutnya mertua dan suaminya itu terlihat aneh.


"Kalian kenapa bisik-bisik, sih? Aku kan jadi merasa diomongin," ucap protes Sisil.


Adam dan Laila saling pandang lalu kemudian mereka pun tertawa, karena pada kenyataannya memang mereka sedang membicarakan Sisil.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mas tidak membicarakan kamu, makanlah rujaknya. Namun, jangan terlalu banyak. Takutnya nanti kamu sakit perut," ucap Adam.


"Mas enggak usah khawatir, rujaknya enggak pedas. Ibu enggak ngizinin Sisil buat makan rujak yang pedas," ucap Sisil dengan mulut yang penuh dengan makanan.


" Ya, ya, ya. Mas percaya, ya sudah... sekarang habiskan rujaknya. Karena sebentar lagi waktu maghrib akan tiba," ucap Adam.


Sisil pun menurut, dia pun kembali memakan rujak yang dia beli dengan Laila. Dia memakannya dengan sangat lahap, Laila dan Adam terlihat menelan salivanya dengan sangat susah


Bukan karena ingin, namun giginya terasa ngilu karena melihat Sisil yang begitu banyak memakan mangga muda.


" ibu masuk dulu kalian jangan berantem Laila terlihat tertawa setelah mengucapkan kata itu


"Mana ada begitu, aku nggak bakal berantem sama Sisil, Bu. Ibu kalau mau masuk-masuk aja," ucap Adam.


Laila pun langsung tersenyum, lalu dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya.


Dia ingin beristirahat sebentar sebelum waktu maghrib tiba, dia ingin meluruskan pinggangnya yang terasa sakit.


Hari ini dia merasa sangat lelah, karena harus menuruti semua kemauan Sisil dari pagi sampai sore tiba.


Sisil begitu banyak maunya, jika Laila tidak menurutinya, Sisil akan terlihat mengerucutkan bibirnya.


Dia akan marah dan tak mau bicara kepada Laila, melihat akan sifat Sisil yang berubah dengan drastis membuat Laila pun menjadi curiga.


"Makanya Laila meminta Adam untuk mengajak Sisil ke Rumah Sakit, tentunya untuk memeriksakan kondisi Sisil.


Laila memang belum bisa memastikan keadaan Sisil dengan pasti, namun dia sangat yakin tentang firasatnya.


Dia merasa kalau apa yang dia duga adalah benar, sampai di dalam kamarnya Laila pun langsung menghempaskan tubuh lelahnya ke atas ranjang big size miliknya.


Baru saja dia memejamkan matanya, tiba-tiba saja Arkana datang dam langsung mengungkung tubuhnya.


"Mas!" kaget Laila.


"Mas kangen, Yang. Kita udah lama ngga main cepet, boleh ya?" tanya Arkana.


"Oh Tuhan, pinggangku bisa patah.Tapi, kalau ngga dituruti. Aku takut Mas Arkana akan marah," gumam Laila dalam hati.


Melihat Laila yang diam saja, lelaki yang berusia empat puluh lima tahun itu langsung menautkan bibirnya.


Dia berusaha untuk membangunkan hasrat Laila, bibirnya terus bermain dengan lembut. Tangannya bahkan tak tinggal diam, Arkana langsung membuka baju Laila dan melemparnya secara serampangan.


Saat melihat dada istrinya yang terlihat begitu menantang, Arkana langsung meraupnya dengan tak sabar.


Dia langsung memainkannya, menggigit kecil dan mengulumnya dengan gerakan lambat. Hal itu membuat Laila gelisah dan langsung menggelinjang tak karuan.


+


+


+


Selamat malam kesayangan, semoga kalian sehat selalu dan selalu mendukung Othor dengan memberikan like dan juga komennya.


Jangan lupa kasih hadiahnya juga mau kembang apa kopi boleh deh, apa lagi kalau kasih Vote, aku tunggu. Terima kasih.