
Hampir maghrib acara pembukaan perusahaan baru milik Devano pun selsai, semua orang nampak sudah membubarkan diri.
Kini tinggal keluarga inti saja yang berada di sana, dan tentunya Tuan Arley pun masih bertahan di sana. Dia masih punya tujuan yang belum terpenuhi ,yaitu meminta maaf dan berterimakasih.
Saat sedang asik berkumpul, tiba-tiba saja Tuan Arley datang menghampiri mereka.Tuan Seno langsung terlihat kesal, wajahnya pun nampak memerah.
"Maaf jika aku mengganggu kalian semua, aku kasini hanya ingin meminta maaf pada Alina dan Seno. Aku juga mau berterimakasih pada kalian berdua, karna sudah mau membesarkan anakku dengan penuh kasih sayang."
Tuan Arley berkata dengan tulus, sungguh saat ini yang dia inginkan hanyalah kedamaian di masa tuanya.
Tuan Seno nampak bangun dan menghampiri Tuan Arley, Nyonya Alina nampak ikut bangun dan memeluk erat tangan kanan Tuan Seno.
"Siapa yang kau bilang putramu hah?! "
Tuan Arley nampak terdiam, dia sudah pasrah. Mau dipukul ataupun di tendang dia sudah sangat ikhlas.
"Arkana adalah putraku, aku yang membesarkannya !!!Jangan pernah kau bilang dia adalah anakmu, dia adalah anakku dan juga istriku Alina." Tegas Tuan Seno pada Tuan Arley.
Tuan Arley nampak menundukan wajahnya, tak lama dia pun bersujud di kaki Tuan Seno.
"Maafkan aku, maaf atas semua kesalahan ku." Tuan Seno berucap seraya memeluk kaki Tuan Seno.
Nyonya Alina nampak tak tega, dia pun menatap wajah Tuan Seno dengan lekat.
"Mas, yang lalu biarlah berlalu. Jangan diungkit-ungkit lagi, lagian Arkana juga sudah besar dan Tuan Arley juga sudah menyadari semua kesalahannya." ucap nyonya Alina menenangkan suaminya.
"Jadi kamu juga membelanya sayang?! " tanya Tuan Arley penuh penekanan.
"Bu--bukan begitu sayang, tapi aku hanya memintamu untuk melupakan semua kesedihan atau kesialan yang terjadi dimasa lalu." ucap Nyonya Alina.
Tuan Seno nampak menghembuskan napas berat, kemudian dia pun nampak menatap Tuan Arley.
"Baiklah, aku akan memaafkan kamu. Tapi ada syaratnya," ucap Tuan Seno.
Tuan Arley nampak senang,"Apa syaratnya?"
"Jangan pernah temui anakku, Arkana."
Wajah Tuan Arley nampak sendu,"Tapi Seno, pikirkanlah lagi. Rasanya aku tak akan sanggup. berjauhan dengan putra ku, " Tuan Arley menatap Tuan Seno dengan tatapan penuh permohonan.
"Kakek,, " panggil Adam.
"Yes Boy, " jawab Tuan Seno.
"Jangan pernah memutuskan tali silaturahim antara anak dan Ayah, itu dosa kek. Nanti Allah melaknat," Adam berucap dengan wajah imutnya .
Tuan Seno nampak mendesah pasrah, karena dia tak mungkin mengabaikan ucapan cucunya itu.
"Lalu, apa yang harus kakek lakukan sekarang Boy? "
"Kakek harus memaafkan grandpa, karna sebaik-sebaiknya orang adalah dia yang suka memaafkan kesalahan orang lain."
Tuan Seno nampak mengernyitkan dahinya, bahkan Adam pun sudah terlihat sangat dekat dengan Tuan Arley, pikirnya.
"Apa kamu sayang sama kakek? " tanya Tuan Seno.
"Sayang dong kek, Adam sayang semua orang yang sayang sama Adam." jawab Adam.
"Termasuk grandpa ?" tanya Tuan Seno lagi.
"Yes, semuanya Adam sayang. Jadi, kakek juga ngga boleh marahan lagi sama grandpa. " Adam berujar dengan wajahnya yang lucu, membuat semua orang yang ada disana langsung tersenyum.
Tuan Seno pun memandang Tuan Arley yang masih bersujud di kakinya,"Bangunlah Arley, aku memaafkan mu."
"Terimakasih Seno, terimakasih. "
"Berhentilah memelukku,,!! Aku merasa sangat mual," ucap Tuan Seno.
Semua yang ada di sana pun nampak mengatupkan mulut menahan tawa, mau tertawa takut dosa. Atau mungkin lebih tepatnya takut Tuan Seno akan marah pada mereka.
Suasana pun nampak tenang, karna adzan maghrib pun telah berkumandang. Mereka seolah melupakan hal yang baru saja terjadi,dan kini mereka pun langsung masuk ke mushola untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah.
Arkana pun nampak maju sebagai imam shalat nya, sedangkan yang lain mengatur barisan di belakang menjadi makmum.
Hampir setengah jam mereka melaksanakan shalat berjamaah karna setelah shalat mereka pun langsung berdzikir, berdo'a dan juga berterimakasih untuk kebaikan tuhan yang telah mereka terima saat ini.
Selsai dengan kewajiban mereka terhadap sang khalik, mereka pun makan malam bersama disebuah restoran yang tak jauh dari sana.
Mereka benar-benar menikmati kebersamaan itu, Tuan Arley sesekali memperhatikan Nyonya Alina yang nampak masih cantik di usia nya yang sudah mencapai lima puluh tahun.
Ada rasa penyesalan yang menyeruak dalam hatinya, dia pun berpikir 'jika saja dia tak meninggalkan Alina begitu saja, mungkin kini dia sudah bahagia dengan Alina dan Arkana.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, semuanya tak mungkin terulang lagi. Kini, tinggal masa-masa tua yang harus dijalani dengan hal yang penuh dengan kebaikan.
Pukul tujuh malam mereka pun langsung pulang ke ibukota, karna tugas mereka di kota P sudah selsai. Sebelum pulang bahkan Devano tak lupa membelikan Eliza oleh-oleh, karna dia ingin menemui Eliza sebelum dia pulang ke rumahnya.
Tak tanggung-tanggung, bahkan Devano membawakan oleh-oleh untuk Eliza sekantong plastik besar.Karena di toko oleh-oleh tersebut tak menyediakan paper bag.
Devano pulang dalam satu mobil yang sama dengan Arkana, Laila dan juga kedua orang tua nya. Sedangkan Adam satu mobil dengan Tuan Arley, anak itu berujar kasihan jika grandpa nya tak ada yang menemani.
Pukul delapan malam mereka pun telah tiba dikediaman Arkana, semuanya langsung turun dan masuk kedalam rumah karna sudah merasa lelah dan ingin beristirahat.
Sedangkan Devano, kini langsung menuju kediaman Eliza. Devano bahkan terlihat tak sabar untuk segera bertemu dengan Eliza, padahal wajahnya sudah terlihat sangat lelah.
Tapi semua seakan tak di gubrisnya, karna dia ingat jika dia akan berusaha untuk mencintai Eliza mulai dari sekarang.
Di akui atau tidak, Devano memang merasa bersalah pada Eliza. Tapi selain itu, ada rasa yang tak biasa yang tak bisa ia jabarkan untuk Eliza.
Sampai di rumah Eliza, Devano pun langsung di sambut baik oleh kedua orang tua Eliza.
Bahkan Tuan Bram sampai tak percaya jika Devano akan menyempatkan waktu untuk menemui Eliza, karna dia sangat tahu bagaimana sibuknya Devano hari ini.
"Om, tante. Bolehkan Aku menemui Eliza?" tanya Devano.
"Temui saja di kamarnya, tapi tante ngga tahu dia sudah tidur apa belum. "jawab Tante Berlin.
"Terimakasih tante, aku akan melihatnya terlebih dahulu."
"Silahkan Nak," jawab Tuan Bram.
Devano pun masuk dengan perlahan ke dalam kamar Eliza, tentu saja dengan sekantong plastik besar makanan yang dia bawa.
Saat masuk kedalam kamar Eliza, ternyata dia sudah terlelap dalam tidurnya. Devano pun langsung menyimpan bawaannya di atas nakas, kemudian dia duduk di samping Eliza.
"Padahal aku pengen banget ketemu sama kamu, tapi kamunya malah udah tidur." ucap Devano.
Devano pun nampak tersenyum, kemudian dia mengecup kening Eliza dengan lembut. Eliza yang merasa tidur nya ada yang mengganggu langsung terbangun, dia mengerjapkan matanya beberapa kali.
Karna Eliza berpikir jika apa yang dilihat nya hanyalah mimpi semata, Devano nampak tersenyum melihat wajah Eliza yang nampak memandangnya dengan raut wajah bingung.
Cup,,
Satu kecupan singkat mendarat tepat dibibir tipis Eliza, Eliza pun langsung membulatkan matanya, karna lelaki yang ada dihadapkan nya itu memanglah nyata.