Who Is Adam?

Who Is Adam?
Kebersaman



"Paman tenang saja, kalau Kak Bastra berani macam-macam pada Kak Mharta, aku akan meminta Grandpa untuk memotong Burungnya," ucap Sisil seraya mengusap air matanya.


William terkekeh mendengar penuturan Sisil, "Terima kasih."


Ucap William sebelum para polisi menyeret William dengan paksa, karena waktu yang diberikan sudah habis.


Mharta terisak di dalam pelukan suaminya, dia merasa tak tahan karena menahan rasa sesak di dadanya. Tepat di hari kebahagiaannya, di hari itu pula dia harus menerima hal yang menyakitkan.


Lelaki yang selama ini telah membesarkannya, lelaki yang selama ini telah rela berlaku licik untuk membiayai hidupnya. Harus menerima hukuman mati, yang akan dilakukan satu minggu lagi.


"Sudah, Kak. Jangan menangis terus, Kakak harus ikhlas. Ini sudah jalan yang harus dilalui oleh Paman," ucap Sisil seraya mengusap lembut punggung Mharta.


Mendengar ucapan Sisil, dia melerai pelukannya. Mharta langsung menatap Sisil dengan lekat, lalu dia pun tersenyum kecut ke arah Sisil.


"Kamu benar, tapi aku tetap sedih karena sebentar lagi aku akan menjadi yatim piatu." Mharta kembali terisak.


Bastra dengan cepat langsung menarik lembut Mharta ke dalam pelukannya, dia berusaha menenangkan hati wanita yang sudah membuatnya tertarik saat pertama mereka bertemu.


"Jangan menangis, ada aku yang akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu. Ada Nona Sisil yang akan menjadi saudara terbaik kamu." Bastra mengecupi kening wanita yang sudah dia sah'kan sebagai istrinya.


Mharta langsung melerai pelukannya, keningnya berkerut dalam. Dia bingung dengan perkataan suaminya. Apa yang di katakan tadi, bahkan saat ini dia merasa tak punya saudara sama sekali.


Hanya suaminya yang kini menjadi sandarannya, lelaki yang mampu membuat hatinya bahagia. Lelaki yang mampu membuatnya puas di atas ranjang, lelaki yang mampu membuat hatinya berdetak lebih kencang.


"Siapa Nona Sisil?" tanya Mharta.


"Wanita yang tadi berbicara dengan Dad kamu, Sayang. Dia adalah Pricilia Gunandari, pewaris tahta Gunandari. Kakak sepupu kamu, Sayang. Tapi, malah dia yang selalu memanggil kamu Kakak." Jelas Bastra.


"Maksud kamu Cia, Mas? Mana dia?" tanya Mharta.


Sisil langsung tertawa, dia langsung memeluk Mharta dengan gemas. Padahal dia tadi sudah berbicara dengan William, apakah dia tidak mendengarnya, pikirnya.


"Ini Cia, Kak." Ucap Sisil manja.


Mharta melihat ke arah Sisil, dia menatap lekat wajah Sisil. Lalu dia menatap lembut netra Sisil, mata Mharta langsung berkaca-kaca kala melihat wajah Sisil yang benar-benar begitu mirip dengan Aunty'nya.


"Cia, Sayang. Benarkah ini kamu, Sayang?" tanya Mharta seraya mengusap lembut pipi Sisil.


"Iya, Kak. Gadis kecil yang selalu kamu sayangi, gadis kecil yang selalu kamu lindungi." Jawab Sisil seraya terisak.


Mharta langsung mengeratkan pelukannya, dia sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan Cia kecilnya. Dia sempat menangis dan mengurung diri di dalam kamar selama satu minggu karena Cia dinyatakan hilang.


"Ah Cia, Sayang. Aku sangat senang, setidaknya aku masih punya keluarga dan tentunya suami yang sangat menyayangi aku." Ucap Mharta seraya melirik Bastra.


Bastra langsung tersenyum lalu mencubit gemas pipi wanitanya, padahal dia tahu jika Mharta merupakan wanita pemuas napsu para lelaki hidung belang.


Mharta kerap kali nekat dengan aksi gilanya, tapi Bastra malah terpaut pada Mharta. Ya... takdir dari Tuhan memang tak ada yang tahu, jalan hidup kita terkadang tak bisa kita arahkan sesuka hati.


Karena sang khalik memang sudah menentukan jalan kehidupan kita masing-masing. Walau sekuat tenaga kita melawan, tak akan mampu merubah jalan Tuhan.


"Aku juga sayang, Kakak. Oh iya, Kak. Aku sudah menikah," Sisil melerai pelukannya. "Ini suami aku," Sisil menarik tangan Adam lalu memeluknya.


Wajah Mharta langsung terlihat memerah, dia merasa sangat malu karena lelaki yang pernah menjadi incarannya kini telah menjadi suami dari Kakak sepupunya.


"Kakak ngga usah khawatir, suami aku sudah memaafkan, Kakak." Sisil berkata sambil mengelus lembut tangan Mharta.


Mharta langsung mendongakkan kepalanya, dia memberanikan diri untuk menatap Adam.


"Apakah itu benar?" tanya Mharta, Adam langsung menganggukkan kepalanya. "Maaf," ujar Mharta.


"Pasti," ucap Mharta yang langsung memeluk suaminya.


Dia sudah berjanji dalam hati tak akan mengecewakan lelaki yang sudah menjadikannya seorang istri, dia ingin menjadi istri yang baik untuk suaminya itu.


"Ehm, dari tadi Grandpa hanya jadi obat nyamuk." Keluh Tuan Arley.


Bastra langsung melerai pelukannya, "Maaf, Mister." Sesal Bastra.


"Tak apa, aku masih tahu situasi dan kondisi. Tadinya aku mau memberikan tiket untuk kalian berbulan madu, akan tetapi aku tak tahu tempat mana yang kalian inginkan. Jadi, aku putuskan untuk memberikan ini saja."


Tuan Arley memberikan Bastra amplop yang sangat tipis, dia mengernyit heran. Apa isi amplop tersebut, kenapa sangat tipis, pikirnya.


"Bukalah," ucap Tuan Arley dengan nada memerintah.


Perlahan Bastra membuka amplop tersebut, mata Bastra langsung membulat sempurna kala melihat isinya. Ternyata isinya adalah selembar cek senilai satu miliar.


"Mister, apakah ini benar untukku?" tanya Bastra.


"Tentu, pilihlah tempat bulan madu yang kalian inginkan." Kata Tuan Arley.


Melihat binar tak percaya dari wajah suaminya, Mharta langsung mengambil kertas tipis itu dari tangan Bastra.


"Ya Tuhan... banyak sekali!" pekik Mharta, "ngga usah bulan madu, Mas. Aku ngga apa-apa di kurung di kamar aja, uang ini kita bikin buat modal usaha aja. Boleh kan, Mas?" tanya Mharta penuh harap.


Semua orang yang ada di sana nampak tertawa, mereka merasa lucu dengan ide Mharta. Tujuannya memang baik, tapi tetap saja terkesan sebagai wanita matre.


"Bagus, itu lebih baik." Kata Tuan Arley.


Acara pernikahan Bastra dan Mharta berjalan dengan baik, walaupun ada drama kesedihan di dalamnya.


Saat sore tiba, Adam dan Tuan Arley memutuskan untuk pulang ke ibu kota. Sisil bisa bernapas dengan lega, karena melihat binar bahagia di wajah Mharta.


Sisil bahkan berjanji akan mengunjungi Mharta lagi, dia sangat senang. Dia merasa bahagia bisa berkumpul dengan saudara perempuannya, walaupun hanya Kakak sepupu tiri tapi Sisil sangat menyayanginya.


Sepanjang perjalanan menuju pulang, Sisil terus saja memeluk Adam. Bahkan kepalanya dia sandarkan di dada bidang suaminya.


"Mas..." panggil Sisil.


"Apa, Sayang?" tanya Adam.


"Boleh ngga kalau malam ini kita menginap di hotel saja?" tanya Sisil.


"Hah?"


+


+


+


Hai Hai Hai... selamat sore kesayangan, maaf telat up. Mode malesnya lagi aktif, hawanya pengen leha-leha aja. Padahal ide bertebaran, tapi ngetiknya males banget.


Lihat ponsel langsung ngantuk,


Semoga Kaleyan sehat selalu, jangan ada kata males kaya Othor ya...