
"Assalamualaikum..." ucap salam sapa Adam dan Sisil.
Namun sayangnya, tak ada jawaban dari dalam rumah Arkana. Sepi... seperti tak berpenghuni. Hal itu membuat Adam dan Sisil bertanya-tanya, kemana sebenarnya Arkana, Laila dan juga Al.
Setahunya ini adalah hari sabtu, kenapa sangat sepi? Apakah Ayah, Ibu dan juga adiknya sedang keluar rumah?
"Ayah, Ibu!" teriak Adam.
Adam dan Sisil saling pandang, mereka tak mengerti kemana Ayah dan Ibunya. Kenapa begitu sepi, Sisil dan adam lalu memutuskan untuk pergi ke taman belakang.
Mereka berharap jika kedua orang tuanya akan ada di sana, benar saja saat Adam dan Sisil tiba. Ada Arkana dan Laila di sana. Namun keduanya terlihat sedang melamun.
Laila dengan duduk sambil memeluk Arkana, kepalanya dia sandarkan di pundak suaminya. Isak tangisnya pun terdengar pilu, pantas saja Adam berteriak pun tak terdengar, ternyata kedua orang tuanya sedang mendalami rasa duka.
Adam yang penasaran pun langsung menghampiri kedua orang tuanya, dia langsung duduk tepat di samping Arkana. Sedangkan Sisil duduk tepat di samping Laila.
"Ibu, ada apa?" tanya Adam.
Laila yang sedang asik dengan lamunannya pun seakan tertarik ke dalam dunia nyata, dia langsung menegakkan tubuhnya lalu memandang lekat wajah Adam.
"Ada apa, Bu?" tanya Adam, "kenapa Ibu dan Ayah terlihat sangat bersedih? Adam menjadi khawatir, apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Al?" tanya Adam.
Laila menganggukkan kepalanya tanda jika dia membenarkan, jika kesedihan yang dia rasakan memang bersumber dari anak keduanya.
"Apa yang terjadi dengan Al, Bu? Katakan pada Adam," pinta Adam.
"Adam, Al sudah pergi, Sayang. Al pergi ke negara A," jawab Laila.
Adam langsung berkerut kening, dia bingung kenapa tiba-tiba Al dikirim ke negara A. Sedangkan setahu Adam, Al adalah anak yang sangat manja.
Walaupun dia suka sekali menggoda wanita-wanita cantik di luar sana, walaupun dia sangat suka merayu wanita dengan jurus rayuan mautnya. Tapi dia adalah anak yang sangat manja, mau pergi kemanapun dia selalu meminta diantar oleh Laila ataupun Arkana.
"Tapi, kenapa Bu? Kenapa Al pergi ke Nagara A?" tanya Adam penasaran.
"Itu semua keinginan dari Grandpa kamu, Sayang. Ibu tidak bisa menolak," kata Laila.
Pandangan Adam pun lalu beralih pada Arkana, dia ingin bertanya kepada Ayahnya tersebut.
"Ayah, kenapa Al harus dikirim ke negara A? Sedangkan Ayah tahu sendiri, jika Al adalah anak yang sangat manja. Lagi pula dia masih sekolah SMA, kenapa harus ke luar negeri segala?" tanya Adam.
"Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, Sayang. Ini semua murni keputusan Dad, Ayah tidak bisa membantah. Kamu tahu sendiri kan, keputusan dari Grandpa'mu itu tidak bisa diganggu gugat," kata Arkana.
Adam dan Sisil saling pandang, mereka melihat kejanggalan dari tatapan mata Laila. Bahkan Sisil bisa melihat masalah besar yang sedang Laila hadapi saat ini, hanya saja dia seakan sedang menutupinya.
Adam ingin sekali bertanya, tetapi Laila seolah mengatakan 'jika Adam jangan berkata apapun saat ini', Adam pun terdiam.
Lalu, Laila pun teringat jika putranya itu baru saja pulang dari Bali. Kemudian untuk mengalihkan perhatian dia pun bertanya tentang kegiatannya selama di Bali.
"Oh iya, Sayang. Bagaimana kegiatan kalian selama di Bali?" tanya Laila.
"Sangat menyenangkan, Bu," jawab Sisil antusias. "Kami berkeliling dan melakukan tour wisata selama di Bali, kami juga membeli banyak oleh-oleh untuk kalian. Apa Ibu mau melihatnya?" tanya Sisil.
"Ya, tentu. Ibu mau melihatnya, tapi tidak untuk saat ini. Kalian Istirahatlah dulu, karena kalian pasti sangat capek." Laila mengusap pundak Sisil dengan lembut.
" Ya, Ibu benar. Kalian Istirahatlah terlebih dahulu, nanti sore kita baru membongkar oleh-oleh yang kalian bawa," kata Arkana menimpali.
"Baiklah, Bu, Ayah. Aku pergi ke kamar terlebih dahulu, Mas, aku ke kamar duluan ya," kata Sisil.
"Ya, Sayang. Kamu duluan saja, Mas masih mau ngomong sama ibu," kata Adam.
Sisil pun pergi melangkahkan kakinya menuju kamar, karena dia sudah merasa sangat lelah. Sedangkan Adam langsung memeluk Arkana lalu menepuk pundaknya dengan sangat lembut.
"Ayah juga istirahat, jangan melamun saja," kata Adam.
"Baiklah, kalau begitu Ayah istirahat dulu." Dia mengecup kening Adam, lalu beralih mengecup kening Laila.
Lalu, Arkana pun terlihat pergi meninggalkan Adam bersama dengan Laila. Sebenarnya itu hanya alasan Adam menyuruh Sisil dan Arkana untuk istirahat. Karena Adam sangat ingin bertanya langsung tentang Al pada Laila.
Setelah kepergian Arkana, Adam langsung memberanikan diri untuk bertanya.
"Sebenarnya ada apa, Bu? Adam tidak yakin jika Al pergi begitu saja tanpa sebuah kesalahan, Adam sangat tahu bagaimana kerasnya Grandpa," uca Po Adam
"Grandpa kamu marah, karena al sudah menghilangkan janin yang berkembang di dalam rahim pacarnya," kata Laila.
Adam terlihat membulatkan matanya dengan sempurna, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Laila.
"Maksud Ibu, apa?" tanya Adam.
"Ada seorang perempuan yang meminta pertanggungjawaban Al, dia mengaku kalau dia mengandung darah daging Al. Ternyata perempuan itu memang mengandung, tapi bukan darah daging Al. Al merasa marah dia ingin membuat pacarnya itu mengaku kalau bayi di dalam kandungan itu bukan milik Al," kata Laila.
"Lalu?" tanya Adam.
"Al memberikan wanita itu minuman beralkohol yang mengakibatkan perempuan itu mengaku jika dia memang hamil tapi anak orang lain, bukan anak Al. Sayangnya karena kandungan alkohol yang diberikan terlalu tinggi, perempuan itu pun keguguran." Laila langsung memeluk Adam dan menangis di dalam pelukannya.
Adam langsung mengusap wajahnya dengan kasar, dia tak menyangka jika Ali akan senekat itu.
"Sudahlah, Bu. Jangan menangis, kita do'akan saja. semoga Al bisa lebih dewasa lagi setelah ini." Adam membalas pelukan Laila dan mengusap lembut punggung Ibunya itu.
"Jangan bicara depan Ayah kamu, dia tak tahu kesalahan yang diperbuat oleh Al." Laila berpesan pada Adam, karena dia takut jika Adam akan keceplosan.
"Iya, Bu. Adam ngga akan bahas ini lagi," kata Adam.
"Hem, ibu percaya. Sekarang kamu istirahat, nanti kalau sudah waktunya makan malam ibu akan panggil kamu sama Sisil." Laila meregangkan pelukannya, lalu berusaha untuk tersenyum.
"Iya, Bu, " jawab Adam.
+
+
+
Assalamualaikum kesayangan, selamat siang. Selamat beraktifitas, semoga kalian sehat selalu. Jangan lupa like ya, komen juga kalau ada kopi ya boleh. Biar Othor yang kelewat sholeha ini ngga ngantuk.
Kalau berkenan boleh mampir ya ke karyanya temen Othor, siapa tau suka.