Who Is Adam?

Who Is Adam?
Sweter



Setelah 3 hari dirawat di Rumah Sakit, Laila pun diperbolehkan untuk pulang. Karena Laila sudah terlihat sangat sehat, begitupun dengan Babby Al.


Saat sampai di rumah, semua keluarga berkumpul menyambut kedatangan Babby Al. Bahkan, Tuan Seno dan Nyonya Alina pun berada di sana. Mereka sengaja terbang dari pulau K, untuk melihat secara langsung keluarga baru mereka.


Tuan Seno dan Nyonya Alina terlihat sangat senang, mereka juga merasa sangat bersyukur. Karena di usia mereka yang sudah senja, Tuhan begitu menyayangi mereka.


Tuhan masih memberikan kesempatan untuk mereka berbahagia, berkumpul bersama dengan anak dan cucu mereka.


Adam pun terlihat begitu menyayangi Babby Al, sudah tidak ada lagi kecemburuan di dalam hatinya. Semenjak pertemuannya dengan gadis kecil bermama Pricilia Gunandari, seolah mengajarkan Adam untuk menghargai dan menyayngi setiap anggota keluarganya.


Hari-hari yang Adam lalui kini lebih berwarna, karena ada adik kecilnya yang selalu membuatnya bahagia.


Tuan Seno dan Nyonya Alina pun bahkan sampai satu bulan, menginap di rumah Arkana.


Hingga pada usia Babby Al dua bulan, Tuan Arley memberikan kabar jika Adisha sudah melahirkan. Arkana, pun langsung mengajak keluarga kecilnya untuk menjenguk Adik kecilnya.


Saat sampai di rumah sakit, Adisha nampak terlihat sedang terbaring di ranjang pasien. Sedangkan Tuan Arley, terlihat sedang memangku putra kecilnya.


"Dad," panggil Arkan.


"Yes, Boy. Lihatlah, adik mu sangat tampan." Tuan Arley langsung memberikan putranya ke pangkuan Arkana.


"Wajahnya perpaduan Dad and Mom," ucap Arkana seraya memperhatikan wajah adik kecilnya.


"Namanya siapa Grandpa?" tanya Adam.


Adam, sangat penasaran dengan nama dari paman kecilnya itu.


"Albert Haidar Caldwell," jawab Tuan Arley.


Wajah Tuan Arley terlihat sangat berbinar, saat melihat wajah putra kecilnya. Dadanya begitu sesak, bukan. karena sedih.


Tapi, dia sangat bahagia. Karena Tuhan begitu baik padanya, masih memberikan kesempatan untuk dia bisa berbahagia bersama keluarganya.


"Nama yang bagus, Dad." Puji Laila.


"Mommy kalian, yang memberinya nama." Tuan Arley langsung melirik Adisha yang terbaring lemah.


Laila langsung menghampiri Adisha, dia duduk tepat di samping Adisha.


"Mom, kenapa terlihat lemes banget kaya gini?" tanya Laila.


"Sebenarnya, hari ini belum waktunya Babby Haidar lahir. Dokter terpaksa memutuskan, jika Babby Haidar harus lahir karena air ketubannya sudah mau habis." Jelas Adisha dengan suara lemahnya.


Tuan Arley, langsung menghampiri Adisha dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Beruntung, Mommy' mu bisa melahirkan dengan normal dan selamat. Padahal, Dokter saja menyarankan untuk caesar, karena kondisi Babby Haidar yang tidak memungkinkan" Tuan Arley, terlihat mengelus lembut lengan Adisha.


"Banyak bersyukur, Dad. Karena kita selalu di berikan kesempatan untuk memperbaiki diri." Arkana mengelus lembut pipi Babby Haidar yang nampak memerah.


"Yes, Boy." Tuan Arley membenarkan.


Saat mereka sedang asyik bercengkrama, seorang suster datang untuk mengecek kondisi kesehatan Adisha. Dengan senang hati, Tuan Arley pun mempersilahkan suster tersebut untuk melakukan tugasnya.


Setelah mengecek kondisi Adisha, suster tersebut nampak memperhatikan Adam yang sedang duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya.


Arkana yang memperhatikan tingkah suster tersebut pun, langsung bertanya.


"Ada apa sus? Kenapa memperhatikan anak saya seperti itu?" Arkana menatap suster dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Eh, ituTuan. Anak Tuan, namanya Adam ya?" tanya super ragu-ragu.


"Ya, Memangnya kenapa?" tanya Arkana.


Wajah Suster itu nampak sumringah, kemudian Suster itu pun langsung menghampiri Adam.


"Selamat siang Adam, boleh minta waktunya sebentar?" tanya suster itu.


"Boleh, ada apa sus?" tanya Adam.


"Masih inget ngga sama gadis kecil yang bernama Pricilia?" tanya suster itu.


"Iya, sus. Ada apa dengan dia?" tanya Adam penasaran.


"Benarkah?" tanya Adam.


"Ya, tunggu sebentar. Saya ambilkan sweternya," suster itu pun bangun dan hendak keluar dari ruang perawatan Adisha.


Tapi, langkahnya terhenti saat Tuan Arley memanggilnya kembali.


"Suster!" Panggil Tuan Arley.


"Ya, Tuan." Jawab Suster tersebut.


"Bagaimana dengan keadaan istri saya?" tanya Tuan Arley.


"Astaga, maaf, Tuan. Keadaannya sudah setabil, Nyonya Adisha harus banyak makan buah dan makanan berserat." ucap Suster.


Suster itu seakan lupa akan tugasnya, saat melihat Adam. Karena sudah dua bulan, dia memperhatikan setiap anak kecil yang datang ke Rumah Sakit


"Oke, sekarang pergilah!" titah Tuan Arley.


Suster pun langsung keluar dari ruang perawatan Adiaha, tak lama Suster itu pun kembali dengan membawa paper bag berisi Sweater dari Pricilia.


"Ini Sweter' nya, saya permisi." Suster itu pun pamit undur diri, karena masih banyak tugas yang harus dikerjakan.


Adam lalu membuka paper bag tersebut, dia mengambil Sweater pemberian dari Pricilia. Saat Adam mau memakai Sweater itu, Adam menemukan secarik kertas yang terjatuh dari Sweater tersebut.


Adam membungkuk untuk mengambil kertas tersebut, di kertas tersebut terdapat sebuah tulisan khas anak kecil.


***To Adam


Terima kasih karena saat aku sedang sedih, kamu mau menemani aku.


Terima kasih, karena kamu sudah memberikan semangat untuk aku tetap bertahan walau dalam kesendirian.


Sekarang, aku sudah tak sendiri. Ada keluarga yang mau mengadopsi aku, mereka sangat baik.


Semoga, suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi.


Sweter ini, untuk kamu. Semoga bisa menghangatkan tubuhmu, karena sebentar lagi akan masuk musim dingin.


By Pricilia Gunandari***


Adam langsung tersenyum setelah membaca tulisan dari Pricilia, walaupun mereka hanya mengobrol dalam waktu dua jam. Tapi, Adam merasa sudah dekat dengannya.


"Dari siapa?" tanya Laila.


Laila terlihat penasaran, karena putranya terlihat senyum-senyum sendiri saat membaca pesan tersebut.


"Gadis kecil, yang pernah di ceritakan Om Devan." Jawab Adam singkat.


"Sepertinya spesial," ucap Tuan Arley.


Tuan Arley bukan tanpa alasan berkata seperti itu, karena raut wajah Adam terlihat senang. Saat mendapat Sweter dan catatan kecil dari gadis kecil itu.


"Ya, dia masih kecil. Tapi, dia bilang kalau kita harus menghargai dan menyayangi semua anggota keluarga yang kita miliki. Karena, sendiri itu tidak enak." Adam berubah sendu, saat mengingat Pricilia yang hidup sebatang kara.


*/*


Setelah menjenguk Adisha, Adam pun kembali ke rumahnya. Sweter dari Pricilia tak dia pakai, tapi, Adam memasukannya ke dalam plastik dan menyimpannya dalam lemari.


"Maaf, Sweter' tak aku pakai. Nanti rusak, jadi, biarlah tersimpan di sini saja." Adam berucap dengan lirih.


Dia seakan sayang pada Sweter tersebut, dia takut Sweter tersebut akan rusak jika dia pakai. Adam pun memutuskan untuk menyimpannya secara baik-baik.


+


+


+


Selamat hari senin, semoga kalian berbahagia selalu. Jangan lupa jaga kesehatan, karena kini sudah kembali musim hujan.