
Pagi ini wajah Devano terlihat menekuk, dia masih kesal akan kejadian tadi malam. Tapi, dia juga sadar. Mungkin saja, itu semua bisa terjadi, karena kondisi kaki Eliza yang belum sembuh total.
"Hehhh,," terdengar helaan nafas panjang dari mulut Devano.
Dia memang kesal, tapi saat melihat wajah Eliza yang sedang tertidur dengan pulas, dia merasa kasihan pada wanita itu.
Wanita yang telah menjadi istri nya itu, telah mengorbankan keselamatannya demi dirinya.
Tentu saja Eliza masih tidur, karena waktu baru menunjukkan pukul tiga pagi. Setelah melakukan shalat malam, Devano tak bisa tidur.
Dia menginginkannya, dia ingin merasakan yang namanya pelepasan pertama. Dia ingin merasakan sesuatu, yang katanya begitu nikmat bila di lakukan dengan pasangan halal.
"Kamu, cantik sekali, Sayang. Maaf, karena aku terlalu tak sabar ingin segera merasakan itu." ucap Devano lirih.
Devano mengelus lembut pipi Eliza, menghujani wajah istri nya dengan ciuman dan yang terakhir melabuhkan kecupan hangat di bibir Eliza.
Kecupan yang diberikan Devano, begitu hangat dan manis. Membuat Eliza, terbangun dari tidur lelap nya.
"Mas," panggil Eliza.
"Hem," jawab Devano.
Eliza menatap wajah Devano, matanya terlihat sayu. Eliza melihat, jika suaminya begitu mendambakannya. Sebenarnya Eliza ingin tertawa saat melihat wajah Devano, tapi dia juga merasa kasihan.
"Mas, mau?"
Devano langsung menganggukan kepalanya berkali-kali, Eliza langsung tersenyum. Lucu sekali, pikirnya. Suaminya benar-benar terlihat sangat manis, dan menggemaskan.
"Tapi, aku bau." ucap Eliza.
Devano langsung mengendus tubuh polos istrinya," Wangi, Sayang."
"Issh, mana ada orang baru bangun tidur sudah wangi?!" ucap Eliza.
"Tapi, buat aku, kamu tetap wangi. Boleh ya?"
Eliza langsung tergelak, dia merasa lucu dengan tingkah suaminya.
"Iya, boleh. Tapi, kalau nanti kaki aku sakit lagi, kamu jangan marah." ucap Eliza.
"Tidak akan, Sayang. Aku yakin kamu ngga akan keram lagi, tadi aku udah balurin minyak hangat ke kaki kamu." ucap Devano.
Eliza nampak terkekeh, ternyata suaminya sudah mempersiapkan semuanya.
"Baiklah, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Sayang." ucap Eliza.
Devano langsung tersenyum senang, dia langsung menautkan bibirnya. Eliza pun dengan senang hati, menyambut dan membalas tautan bibir suaminya.
Saat merasa Eliza telah siap, Devano pun langsung mengungkung tubuh istri nya. Dia melakukan apa pun yang sudah dia bayangkan, mereguk kenikmatan bersama istri tercintanya.
Walaupun Devano sangat menginginkannya, Devano tetap saja melakukannya dengan sangat hati-hati. Bahkan sesekali Devano memperhatikan kaki istrinya, dia takut kalo istrinya akan kesakitan seperti semalam.
Devano terlihat lebih khawatir dengan keadaan Eliza, ketimbang menikmati permainannya. Eliza pun tertawa, karena sudah tak tahan melihat tingkah suaminya.
"M--mas, " panggil Eliza terbata.
"A--apa?"
"Berhenti dulu," pinta Eliza.
Wajah Devano langsung terlihat muram, dia baru saja menikmati permainannya. Tapi, sudah di suruh berhenti.
"Kenapa?"
"Kaki aku udah ngga sakit, main nya yang lepas. Jangan liatin kaki aku terus, aku ngerasa ngga nyaman. Mas nya tatap aku, aku mau lihat, Mas." ucap Eliza.
Wajah Devano kembali ceria," Boleh lanjut?"
"Iya, Sayang. Aku akan membuat kamu senyaman mungkin," ucap Devano.
Devano nampak memulai permainannya kembali, Eliza pun terlihat senang. Karena Devano kini terlihat lebih rileks, dan tanpa beban.
Akhirnya hal yang tertunda tadi malam, kini bisa terlaksana juga. Kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu, bisa merasakan indahnya penyatuan negara.
...****************...
Siang telah menjelang, Arkana terlihat sedang tertunduk lemas karena dari pagi dia tak berhenti mengeluarkan isi perutnya. Arkana bahkan sampai tak bekerja dan meminta orang kepercayaannya untuk menghandle semuanya.
"Sayang, ke Dokter, yuk?! " ajak Laila.
"Males, lemas. Di peluk aja, di sayang akunya." ucap Arkana.
"Kenapa Mas, jadi manja?" tanya Laila.
"Ngga tahu, Sayang. Rasanya, Mas pengen pelukan kamu aja. Ngga mau pergi kemana-mana."
"Ke Dokter ya, Mas. Takutnya kalau dibiarin malah bahaya," ucap Laila.
"Baiklah, Mas nurut. Tapi cium dulu," ucap Arkana dengan bibir yang sudah terlihat maju.
"Ck," decak Lalila.
Walaupun kesal karena sedari pagi, Arkana bertingkah seperti anak kecil. Tapi Laila tetap mencintai suaminya, Laila pun langsung menautkan bibirnya.
Arkana dan Laila saling menyesap dan menikmati setiap kecapan yang mereka ciptakan. Laila segera melepaskan tautannya, dia takut malah akan berakhir di atas kasur, bukannya berobat agar keadaan Arkana makin berangsur baik.
Laila mengusap bibir tebal milik Arkana dengan ibu jarinya," Sudah dulu, kita ke Dokter buat periksa keadaan, Mas."
Arkana pun mengangguk," Kamu benar, Sayang."
Laila pun segera membawa Arkana ke rumah sakit, dia menggunakan mobil yang belum lama dia beli. Mobil sejuta umat, yang sengaja dia beli untuk keperluannya sehari-hari.
Adam pernah protes karena Ibunya tak mau membeli mobil mewah, tapi Laila selalu berkata, jika itu adalah Fashionnya, dia suka dengan kesederhanaan.
Adam pun bisa mengerti, karena Adam memang tahu bagaimana sifat ibunya.
Setelah lima belas menit melakukan perjalanan, sampailah mereka di sebuah rumah sakit.
Laila langsung mengajak Arkana ke tempat pendaftaran, beruntung hari sedang sepi. Arkana tak perlu menunggu lama.
Hanya selang dua pasien, nama Arkana sudah di panggil.
"Selamat, siang, Dok." sapa Laila.
"Keluhan nya apa, Pak?" tanya Dokter dengan nama tag Udin.
"Begini Dok, suami saya dari pagi muntah terus. Saya takutnya itu akan berbahaya," ucap Laila.
Dokter Udin terlihat manggut-manggut," Silahkan berbaring."
Arkana pun langsung berbaring sesuai petunjuk Dokter Udin, dengan cekatan Dokter muda yang bernama Udin itu memeriksa keadaan Arkana.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Dokter Udin pun meminta Arkana dan Laila untuk duduk kembali.
Kini tatapan Dokter Udin, mengarah kepada Laila, bukan lagi kepada Arkana, Laila pun jadi bingung dibuatnya.
"Sebenarnya, ada apa dengan suami saya?" tanya Laila.
"Maaf, Bu. Kalau boleh saya tahu, Ibu sudah berapa bulan tak datang bulan?" tanya Dokter Udin.
"Hah?" Laila langsung bingung dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Dokter Udin.