
Setelah Bella diikat, Bella masih terlihat meronta. Bahkan dia terus meliukkan tubuhnya di atas ranjang, Al yang tidak tahan melihat kondisi tersebut pun langsung keluar dari dalam kamar tersebut dan menguncinya dari luar.
Al juga tak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada dua security tersebut, bahkan Al juga memberikan uang tips karena mereka yang membelikan minuman beralkohol tersebut untuk Al.
Waktu sudah menunjukan pukul enam sore, Al memutuskan untuk shalat maghrib lalu pergi ke rumah Bella. Karena Al yakin, jika Pak Musa, Ayah dari Bella pasti sudah pulang aku kantor.
Al melajukan motornya sport'nya dengan pelan, karena jalanan sore ini memang terlihat ramai dan macet pula. Hampir satu jam Al melajukan motornya, hingga akhirnya dia sampai di rumah Bella.
Al melihat mobil Pak Musa sudah terparkir dengan rapih, itu tandanya sang empunya sudah berada di rumahnya.
Al lalu memarkirkan motornya di samping mobil Pak Musa, setelahnya Al langsung mengetuk pintu rumah Bella.
Tok! Tok! Tok!
Sudah beberapa kali Al mengetuk pintu, namun tak jua mendapatkan sahutan dari dalam. Hingga pada menit ke sepuluh, pintu'pun terbuka dari dalam.
Nampaklah pria paruh baya yang masih terlihat gagah di usianya yang ke empat puluh lima tahun. Wajahnya terlihat tampan, wajar jika Bella pun memiliki paras yang cantik.
"Cari siapa, De?" tanya Pak Musa penasaran, karena dia baru pertama kali. bertemu dengan Al.
Selama ini Al memang seringke rumah Bella, tapi tak pernah ada Bapaknya di sana.
"Maaf, Pak. Kalau ganggu, saya ada perlu ama Bapak. Kalau boleh, saya minta waktunya sebentar." Kata Al sopan.
Pak Musa terlihat memindai penampilan Al dari atas sampai ke bawah, dilihat dari penampilannya. Pak Musa bisa menyimpulkan, jika Al bukan lelaki sembarangan.
Walaupun dia masih berusia muda tetapi barang yang dipakai oleh dia merupakan barang bernilai tinggi. Baik dari baju yang dia pakai sampai jam mewah yang melingkar di tangannya, akhirnya Pak Musa pun mempersilahkan Al untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Silahkan," kata Pak Musa.
Pak Musa pun melebarkan pintunya agar Al bisa masuk dengan leluasa, setelah masuk ke dalam ruang tamu, Pak Musa pun mempersilahkan Al untuk duduk.
Tak lupa, dia juga meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman untuk dan juga cemilannya.
"Apa yang membuat Ade, datang kemari?" tanya Pak Musa tak sabar.
"Sebenarnya, ini ada kaitannya dengan Bella, anak bapak. Bella sudah memfitnah saya di depan kedua orang tua saya, dia berkata bahwa saya telah menghamilinya. Bahkan kedua orang tua saya sampai marah sekali kepada saya," adu Al.
Pak Musa terlihat tak terima dengan tuduhan Al, dia yakin jika Bella adalah anak yang baik. Karena selama ini kelakuannya selalu terlihat baik.
Bahkan dia cenderung penurut, kalaupun Bapaknya membawa dia ke manapun baik untuk urusan bisnis atau hanya sekadar pergi bersama keluarga dari almarhum istrinya, Bella selalu menurut.
"Tidak mungkin!" ucap tegas Pak Musa.
Enak saja, pikirnya. Mana Bella hamil? Karena selama ini Pak Musa tidak pernah melihat gelagat aneh dari Bella.
Al lalu merogoh saku celananya, dia mengambil ponselnya lalu memutarkan video yang berisi tentang pengakuan Bella terhadap kandungannya dan siapa Ayah dari Babby yang dia kandung.
Pak Musa pun melihat video tersebut dengan saksama, matanya langsung membulat sempurna kala mendengar Tuan Matiew disebut.
Dia tidak menyangka jika Tuan Matiew akan menghamili anak gadisnya, dia tidak menyangka jika Tuan Matiew akan merusak masa depan anak gadisnya.
Pantas aja, pikirnya. Tuan Matiew dengan sukarela memberikan dana yang cukup besar untuk membantu bisnisnya, bahkan Tuan Matiew juga sempat menghadiahkan mobil mewah untuknya.
Kalau saja dia tahu jika taruhannya adalah masa depan putrinya, dia tidak akan mau melakukannya. Pak Musa memang gila harta, dia selalu bekerja dan bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Akan tetapi dia tidak setega itu, dia tidak mungkin menjual anaknya sendiri. Apa lagi sampai dia hamil, sungguh hatinya terasa sangat sakit.
Mata Pak Musa kembali membulat dengan sempurna kala dia melihat Bella yang terlihat sedang mabuk, dia pun langsung menghentikan putaran videonya, lalu menatap Al dengan tajam.
"Apa yang kamu berikan pada anakku!?" tanya Pak Musa penuh emosi.
"Minuman beralkohol, aku sengaja menyuruh Bella meminum-minuman itu agar dia mabuk. Karena dengan seperti itu, dia akan dengan mudahnya mengakui semua kesalahannya. Seperti yang anda lihat, dia dengan mudahnya mengakui jika saya hanya pelampiasan nya saja." Jawab Al tanpa berbohong.
Tiba-tiba saja Pak Musa menghampiri Al, dia mencengkram kerah baju yang Al pakai. Dia menunjuk wajah Al dengan penuh emosi.
"Dasar anak sialan! Apa kamu tahu jika anakku tidak bisa meminum-minuman beralkohol? Bahkan meminum kopi saja badannya tidak menerima, lalu apa yang akan terjadi nanti terhadap putriku?!" tanya Pak Musa yang sudah terlihat begitu emosi.
Rasanya Pak Musa ingin sekali memukul Al sampai babak belur, sayangnya dia masih kecil dan kalau saja dia tidak mengingat jika kesalahan yang ada berawal dari putrinya, sudah pasti dia akan memukuli Al sampai tak bisa bangun lagi.
Al terlihat sangat kaget dengan penuturan dari Pak Musa, jika tubuhnya Bella tidak bisa menerima minuman beralkohol, Lalu apa kabarnya dengan bayi yang dia kandung?
Tiba-tiba Al pun merasa cemas, dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Pak Musa lalu mengajak Pak Musa untuk berbicara dengan baik.
"Dia ada di apartemen saya, kalau begitu kita langsung ke apartemen saya saja, Pak. Biar kita bisa langsung melihat keadaan Bella seperti apa saat ini." Ajak Al.
Awalnya Pak Musa terlihat ragu, tetapi melihat kecemasan yang berlebih di wajah Al, dia pun langsung ikut.
Bahkan tanpa pikir panjang, Pak Musa langsung ikut menaiki motor sport milik Al. Dia Bahkan rela memakai helm berwarna pink, yang terpenting dia cepat sampai di apartemen miliknya Al.
Setelah memarkirkan motornya di tempat parkiran khusus apartemen, Al dan Pak Musa langsung berlari dan naik ke lantai di mana apartemen milik Al berada.
Alangkah kagetnya Al, karena saat dia masuk ke dalam apartemen miliknya sudah tidak ada Bella di sana. Hanya banyak bercak darah yang bercecer, baik di kasur atau pun di lantai.
Lutut Pak Musa terasa lemas, dia langsung jatuh terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Dia sungguh takut akan terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan terhadap putrinya.
Al pun sama, dia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, karena Seingatnya dia meninggalkan Bella di sana, Bahkan kamarnya pun dalam keadaan terkunci dan tangan Bella pun dalam keadaan terikat.