Who Is Adam?

Who Is Adam?
Kagum



Laila masuk ke ruangan Adam dengan membawa nampan berisi dua gelas es lemon dan juga camilan, Laila sempat terpaku saat Adam dan Devano saling memeluk .


Ada rasa haru yang menyeruak di dalam dada nya,Laila jadi merasa bersalah karna Adam tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah, bahkan bertemu dengan Ayah nya pun belum pernah.


"Ehm,, "Laila pun pun berdehem, mencoba menstabilkan perasaan nya.


Adam pun langsung melepaskan pelukan nya dan segera menghampiri Laila, Laila pun berusaha untuk menampilkan senyum terbaik nya, walaupun hati nya kini sedang bersedih.


"Ibu bawa apa saja? "


"Ibu bawa pesanan Adam, dua buah es lemon dan juga camilan kesukaan Adam. Ibu taro meja ya sayang,"Ucap Laila seraya menyimpan pasanan Adam di atas meja.


Devano pun menghampiri Ibu dan anak itu, dia merasa jika Laila adalah seorang ibu idaman. Dia selalu bisa bersikap manis dan membuat Adam senang, bahkan dia mampu membesar kan Adam sendirian.


"Terimakasih ...Eee,, boleh saya panggil anda Laila?"


Tanya Devano sopan, Laila pun mengernyit heran. Pasal nya, Laila tidak merasa dekat dengan Lelaki yang baru satu minggu dia temui itu.


"Seperti nya saya akan jadi pelanggan tetap Adam, lagian bukan kah kamu lebih muda dari saya?Jadi ,boleh kan kalau kita saling memanggil nama?"


Tanya Devano lagi, sedangkan Laila hanya mengangguk kan kepala nya tanda setuju.


"Bagus, kalau begitu mari kita berkenalan ulang. Nama saya Devano Alkahfi, saya hanya anak angkat yang mencoba peruntungan dengan bekerja di ibu kota."


Laila pun langsung tersenyum,"Saya Laila, saya hanya seorang ibu yang mempunyai anak jenius bernama Adam Pratama putra."


"Kalian lucu, "Ucap Adam.


Devano dan Laila pun langsung tertawa, begitu pun dengan Adam .Mereka kini tertawa bersama, mereka sudah seperti keluarga kecil yang bahagia.


"Baiklah, apa Om boleh duduk sayang?"Tanya Devano, Adam pun mempersilahkan.


"Om sangat suka desain dan miniatur yang kamu bikin ,untuk selanjut nya Om mau memesan beberapa furniture sama kamu. Bisa? "


"Bisa Om, "Jawab Adam.


"Boleh Om kasih saran? "


"Boleh banget Om, apa lagi itu buat kemajuan Adam dalam meningkatkan kualitas kerja Adam. Adam mau,"Ucap Adam semangat.


"Begini sayang, bagaiman kalau mulai sekarang kamu mulai mempekerjakan beberapa orang? Belilah kayu atau bahan bahan yang berkualitas, karna semakin bagus kualitas nya akan semakin tinggi harga nya. Bagaimana?"


"Waah, ide Om sangat bagus. Adam setuju,"Ucap Adam lagi.


Laila pun tersenyum, ternyata pertemuan Adam dengan Devano membawa hal yang baik .


"Baiklah, besok Om akan membantu kamu dalam mencarikan tempat nya,"Usul Devano.


"Emmm kak, seperti nya tak usah mencari tempat. Kita pakai garasi saja sebagai tempat para pekerja, kalau untuk kayu nya biar di simpan di belakang rumah saja. Lagian tempat nya masih kosong dan tak terpakai ,"Usul Laila.


"Boleh boleh, itu lebih menghemat biaya. Tapi tunggu dulu, kenapa kamu memanggil ku kakak? "


Laila pun tersenyum,"Kan kakak sendiri yang bilang, kalau aku terlihat lebih muda. Jadi, rasa nya tak sopan kalau aku memanggil kakak hanya dengan nama kakak."


"Baiklah, saya setuju.Memang nya berapa usia kamu?"


"Dua puluh sembilan tahun, memang nya kenapa?"


"Tebakan ku ternyata benar, kamu lebih muda satu tahun dari ku.Baiklah ,tak apa bila kamu ingin memanggil ku kakak. "


Saat Devano dan Laila asik berbicara, Adam pun menyela.


"Bu, bukan kah garasi nya mau di pakai buat toko?"


Laila pun tersenyum,"Tak usah sayang, untuk kerja para tukang saja. Lagian kamu juga pasti sibuk bukan?"


Adam pun mengangguk,"Ibu benar, lagian aku pasti akan sangat sibuk dengan desain dan pekerjaan ku nanti.Tapi kalau ada waktu, aku akan tetap membuat karya seni dari barang bekas. Karna selain menghasilkan, juga membantu pemerintah dalam menyelsaikan sampah pelastik."


Devano pun terlihat bangga bisa mengenal Adam, walau bagaimana pun Adam tak terlihat seperti anak kecil. Dari ucapan nya terlihat seperti orang dewasa, tapi kelakuan nya tetap menggemaskan seperti anak seusia nya.


"Adam, Bulan depan Om ada kerja sama dengan perusahaan milik Ayah angkat Om. Kami sepakat akan membuat apartemen mewah di kawasan pusat di kota K, kamu bisa kan membuat kan Om desain nya?"


"Insya Allah bisa Om, kapan Om akan mengambil desain nya?"


"Siap Om,, "Jawab Adam.


"Anak pintar, tapi kalau Om rindu sama kamu. Boleh kan Om datang ke sini?"


"Boleh dong Om, kapan pun Om boleh datang ke sini."


Devano pun terlihat sangat senang, dia melihat Laila yang nampak asik memperhatikan interaksi antara diri nya dengan Adam.


"Laila,,"Panggil Devano.


"Apa kak? "


"No rekening nya berapa? Aku mau bayar desain yang sudah jadi,"Tanya Devano.


Laila pun langsung pergi, dan Devano nampak mengernyit heran.


"Boy,, "Panggil Devano pada Adam.


"Apa Om? "


"Ibu kamu kenapa? Om minta nomor rekening nya kok malah di tinggal?!"


"Hahahahah,, Om lucu. Ibu tak hapal nomor rekening nya, dia pasti sedang mengambil ponsel nya."


Devano pun nampak manggut manggut,"Seperti itu?"


"Helm,, "Jawab Adam.


Adam dan Devano pun mengobrol sambil menunggu Laila kembali, terus terang Devano masih terlihat penasaran tentang bagaimana cara Adam bekerja.


Devano juga masih sering bertanya dalam pikiran nya, bagaimana bisa anak berusia lima tahun bisa mengerjakan tugas orang dewasa dengan mudah?


Bahkan Adam terlihat lebih pandai dari seorang insinyur, dia seakan tak menemui kesulitan saat menghadapi permintaan pesanan dari pelanggan.


Kerjaan yang biasa nya membutuh kan waktu satu bulan pun bisa di kerjakan hanya dalam waktu satu minggu oleh Adam, sungguh ini sangat menakjubkan.


Tak lama Laila pun kembali menghampiri Devano dengan membawa ponsel nya, Devano pun langsung tersenyum. Ternyata apa yang di katakan oleh Adam ,Laila pergi untuk mengambil ponsel nya.


"Ini kak, kirim ke sini,"Ucap Laila seraya menyerah kan ponsel nya .


"Berapa? "


Laila pun memicing kan mata nya,"Apa nya yang berapa? "


"Harga untuk desain yang Adam buat, kamu tarif berapa? "


"Oooh, kami tak pernah menarif nya. Karna menurut kami, seorang pengusaha pasti sudah tahu harga yang harus di bayar untuk sebuah desain pesanan nya,"


Devano pun nampak manggut manggut, dia pun segera menekan beberapa tombol angka di ponsel nya. Tak lama terdengar lah bunyi dentingan dari ponsel Laila, hal itu menandakan jika uang Devano sudah beralih ke rekening Laila.


Laila pun tersenyum, tak lupa dia pun mengucap kan banyak terimakasih. Devano pun sama dengan Laila, mengucap kan banyak terimakasih karna sangat suka dengan desain nya.


Selsai dengan urusan nya, Devano pun langsung berpamitan dengan membawa desain di tangan nya.


Adam dan Laila sangat senang, karna Devano sangat ramah dan mau membayar mahal untuk pekerjaan Adam.


+


+


+


Terimakasih karena sudah mampir..


Jangan lupa tinggal kan jejak ya..


๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“Untuk Kaleyan semua..


TBC