
Sudah hampir dua jam mereka mengobrol dan memuji ketampanan Babby Al, sampai-sampai tak ada satu pun dari mereka yang sadar jika Adam tak berada di ruangan tersebut.
Hingga ponsel Tuan Arley yang sempat di pegang Adam pun berdering, Tuan Arley yang sedang duduk di samping Laila pun langsung berdiri dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas sofa.
Senyumnya mengembang, kala melihat nama 'Mommy Adisha' yang menelponya. Tuan Arley, segera keluar untuk menerima panggilan telpon dari istrimya tersebut.
Ternyata, Adisha hanya ingin memberitahukan jika adik bungsunya datang untuk berkunjung karena dia mendapatkan tugas dari universitas'nya untuk magang di salah satu perusahaan yang ada di Jakarta.
Tuan Arley nampak senang, karena dengan begitu, Adisha bisa sering bertemu dengan sodara kandungnya.
Setelah sambungan teleponnya terputus, Tuan Arley langsung masuk kembali ke dalam ruang perawatan Laila.
Tuan Arley pun seakan tersadar, karena dari tadi tak melihat Adam.
"Ar, Adam Mana?" tanya Tuan Arley.
Saat Tuan Arley menanyakan keberadaan Adam, barulah semua orang tersadar. Jika sedari tadi, mereka tidak mendengar celotehan Adam sama sekali.
Mereka pun menjadi khawatir, mereka takut jika Adam merasa cemburu dan merasa tidak diperhatikan. Lalu, Adam pergi entah kemana.
"Dad, bantu aku cari Adam." Arkana segera keluar dari ruang perawatan Laila, dia terlihat panik dan langsung mencari keberadaan Adam.
Sedangkan Tuan Arley, terlihat menggelengkan kepalanya. Untuk apa berlari mencari Adam tak tentu arah, kan ada ponsel, pikirnya. Tinggal langsung hubungi Adam saja, beres pikirnya.
"Kenapa, Dad?" Laila yang penasaran pun, langsung bertanya kepada Tuan Arley, disaat Arkana khawatir dan berlari mencari anaknya, dia malah melihat Tuan Arley yang malah tertawa melihat kepergian Arkana.
"Aku hanya merasa lucu saja, ternyata rasa panik bisa membuat orang kehilangan otak pintarnya." Tuan Arley langsung tertawa renyah, melihat kepanikan dimata Arkana.
Sedangkan semua yang ada di sana, terlihat tak mengerti dengan ucapan Tuan Arley yang di rasa ambigu.
"Maksudnya Om?" tanya Devano, yang akhirnya bertanya karena penasaran.
" Telepon Adam, sekarang Dev. Dia membawa ponsel," titah Tuan Arley.
Barulah semua tersadar, dengan apa yang di ucapkan oleh Tuan Arley.
"Ah, Om benar." Devano langsung mengeluarkan ponselnya, baru satu kali panggilan Adam pun langsung menyahut panggilan tersebut. Tak lama kemudian Devano pun langsung tersenyum dan memutuskan sambungan teleponnya.
"Dimana Adam?" tanya Eliza tak sabar.
"Di taman, biar aku susul." ucapnya pada Eliza," Oh iya, Om. Jangan lupa, kabarin Arkana." Kata Devano.
Tuan Arley, langsung menganggukkan kepalanya. Sedangkan Devano, langsung berlari menuju taman Rumah Sakit tersebut.
Saat Devano, masuk ke area Taman. Devano melihat Adam sedang bermain dengan gadis kecil yang terlihat sangat cantik, tapi sayangnya, gadis kecil itu terlihat duduk di atas kursi roda.
Tetapi, walaupun gadis kecil itu hanya bisa duduk di atas kursi roda, gadis kecil itu terlihat sangat bahagia. Apalagi, saat Adam menghiburnya.
"Boy, kamu sedang apa?" Adam yang mendengar namanya dipanggil pun, langsung menoleh ke arah Devano.
"Om!"Pekik Adam.
"Yes, Boy. Sejak kapan kamu di sini?" Adam langsung melihat jam yang melingkar di tangannya, ketika mendengar pertanyaan dari Devano.
"Sekitar 2 jam yang lalu Om, memangnya kenapa?" tanya Adam.
Devano pun tersenyum, dia mengelus lembut puncak kepala Adam. Dia tahu, kalau Adam sedang cemburu. Makanya, Adam berusaha menghindari perkumpulan yang mereka lakukan di dalam ruang perawatan Laila.
"Jangan cemburu terhadap adikmu, Boy. Semua orang menyayangi kamu, tak hanya menyayangi Babby Al." Devano masih saja mengelus puncak kepala Adam, hal itu membuat Adam tenang.
Setelah gadis kecil yang berada di sampingnya berbicara pada Adam, Adam pun menjadi sadar jika Adam tak boleh cemburu terhadap adiknya.
"No, Om. Adam tak cemburu, Karena ada seorang gadis kecil yang mengatakan, jika kita itu harus bersyukur bila mempunyai banyak anggota keluarga. Karena, hidup akan terasa sangat menyedihkan jika tidak mempunyai satu keluarga pun."
Adam, langsung menatap kearah Pricilia yang sedang tersenyum hangat kepadanya. Devano pun ikut melihat kearah Pricilia, lalu dia pun bertanya kepada Adam.
" Siapakah gadis kecil ini, apakah Om Boleh berkenalan?" tanya Devano dengan alis yang terangkat sebelah.
"Tentu saja boleh, kenalin Om ini teman baru aku namanya Pricilia Gunandari." Adam memperkenalkan Pricilia kepada Devano.
Devano pun langsung menghampiri Pricilia, dia berjongkok di hadapannya, untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Pricilia.
"Hai, Cantik. Nama Om, Devano. Senang bisa bertemu dengan kamu, Sayang." Devano langsung mengulurkan tangan kanannya.
Pricilia, pun dengan cepat menyambut uluran tangan Devano dan mencium punggung tangan kanan Devano. Devano pun langsung tersenyum hangat, karena ternyata, anak itu begitu tahu sopan santun.
Padahal, kalau dilihat dari usianya, dia terlihat masih sangat kecil.
"Aku juga senang, karena hari ini. Aku bertemu banyak orang baik, Semoga Om selalu baik dengan kebahagiaan yang baru saja Om dapat." Kata Pricilia.
"Maksudnya?" tanya Devano.
"Tidak apa-apa, Om. Aku hanya melihat kebahagiaan, di raut wajah Om. Tapi, Om juga terlihat Cemas. Berserah diri pada Tuhan, Om." Devano terlihat sangat kaget dengan apa yang diucapkan oleh Pricilia, karena tebakannya itu benar-benar tepat sasaran.
"Kamu tahu dari mana jika kamu sedang bahagia? Kamu juga tahu dari mana, jika Om sedang dilema?" Pricilia pun langsung tersenyum, kemudian dia mengusap pipi Devano dengan lembut.
"Aku hanya melihat dari raut wajah, Om." Devano langsung aja kagum, karena ternyata saat ini dia sedang berada di antara dua anak genius dengan keahlian masing-masing.
"Kamu hebat, Sayang. Lalu, kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Devano.
Pricilia pun langsung tertunduk lesu, masih teringat di dalam pikirannya. Kejadian yang menimpa keluarganya, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Hingga membuat kedua orang tuanya dan juga adiknya meninggal ditempat.
Hanya dia yang selamat, tetapi, kalau boleh memilih, dia lebih baik ikut pergi bersama orang tuanya dan juga adiknya.
Dia merasa sendirian sekarang, dia sangat resah dan takut.
"Kecelakaan mobil, Om." Jawab Pricilia singkat.
Devano, pun langsung tersenyum mendengar jawaban dari gadis kecil itu.
"Kamu sama siapa di sini, Sayang?" tanya Devano, lalu Pricilia pun menunjuk ke arah suster yang sedang duduk manis tak jauh darinya.
" Terima kasih untuk waktunya, tapi, Om, sekarang harus pergi bersama Adam. Lain kali, kalo ada kesempatan, kita pasti akan bertemu lagi." Pamit Devano, kepada Pricilia. Pricilia pun, hanya menganggukkan kepalanya.
Devano pun mengajak Adam untuk kembali ke dalam ruang perawatan Laila, sebelum Adam pergi kedalam ruang perawatan Laila, Adam pun sempat berpamitan kepada Pricilia.
"Aku pergi, " pamit Adam, Adam lalu melepaskan gelang miliknya." Ini untuk kamu, harganya tidak seberapa. Tapi, semoga saja kamu suka." Adam pun lalu menyimpan gelang miliknya, ke tangan kecil Pricilia.
+
+
+
Selamat beristirahat semuanya, semoga hari kalian menyenangkan. Besok sudah hari senin, jangan lupa sisain Vote nya ya buat aku..