Who Is Adam?

Who Is Adam?
Bahagia



Senyum senang kian mengembang di bibir Adam, binar bahagia terlihat jelas di netra biru matanya. Masih terngiang di telinganya saat Tuan Arley menyanggupi untuk menikahkannya dengan wanita pujaan hatinya.


Bunga-bunga cinta seakan bertebaran di ruang hatinya, kupu-kupu cantik nan penuh warna berterbangan dan serasa menyesakan dadanya. Buncah bahagia seakan tak tertampung lagi dalam hatinya.


"Ya Tuhan, tinggal seminggu lagi. Rasanya aku sudah tidak sabar," ucap Adam.


Adam terlihat sangat tak sabar, entah apa yang ingin. dia lakukan setelah menikah nanti. Entah ditunjukan untuk apa kata tak sabar itu.


Entah tak sabar untuk segera memiliki Sisil seutuhnya, entah tak sabar untuk segera menikahi Sisil, atau entah tak sabar untuk melepas keperjakaan.


Ah... Othor ngga tahu, ngga mau asal nebak juga. Takutnya salah, entar Adam marah. Yang pasti Othor ngga sabar pengen segera lempeng pikirannya, dari kemarin belok mulu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Adam seakan tak sabar untuk segera bertemu dengan kekasih hatinya. Wanita yang mampu membuat seorang Adam betah tanpa berpaling pada wanita lain.


Pricilia kecil yang telah mampu menarik perhatian Adam di usianya yang kala itu baru berusia lima tahun, Pricilia kecil yang mampu memberikan kebahagiaan dengan cara yang sederhana.


"Assalamualaikum," ucap sapa Adam saat sampai di rumahnya.


"Waalaikum salam," jawab Arkana dan Al bersamaan.


Adam terlihat mengedarkan pandangannya, kemudian duduk tepat di samping Arkana.


"Yah, Ibu sama Sisil mana?" tanya Adam.


Arkana yang sedang asik berselancar dengan ponselnya, langsung menatap netra Adam dengan lekat.


"Ibu sama Sisil sedang belanja, Memangnya ada apa, hem? Kenapa kamu terlihat bahagia sekali?" tanya Arkana.


Senyum indah Adam tampilkan di hadapan sang Ayah, Al yang melihat Adam merasa sangat aneh. Karena tak biasanya Adam bertingkah aneh seperti itu.


Al merasa penasaran, jiwa keponya seakan meronta untuk segera mendapatkan penjelasan. Al yang sedang asik bermain game'pun langsung menghampiri Adam dan duduk tepat di sampingnya.


"Sepertinya Abang terlihat sangat amat bahagia sekali, ada apakah gerangan?" tanya Al.


Adam langsung memutar bola matanya, pertanyaan Al seakan sangat tak enak untuk di dengar. Akan tetapi, karena Adam sedang bahagia dia langsung menjawab pertanyaan Adam.


"Abang emang lagi seneng, seneng banget malah. Mau tahu kenapa?" tanya Adam, Al langsung menganggukan kepalanya. " KEPO!" ucap Adam tepat di telinga Al.


Al sampai memundurkan wajahnya sambil menggosok telinganya, dia bahkan sampai memicingkan matanya saat menatap Adam.


Melihat interaksi antara Al dan Adam, Arkana malah tertawa dengan lepas. Dia merasa sangat senang, walaupun Al dan Adam jarang berbicara mereka selalu akur dan bisa berkomunikasi dengan baik.


"Abang ngga lagi kesambet kan, ya? Ko kelakuannya aneh gini?" tanya Al.


Tangan Al langsung terulur, dia mengecek kondisi kening Adam dengan punggung tangannya.


"Ngga panas, tapi kok aneh?" tanya Al pada dirinya.


Adam dan Arkana langsung tertawa melihat tingkah Al, Adam langsung merangkul pundak Al dan memukul pelan tangan kanannya.


"Bang, gue jadi takut. Hari ini elu aneh!" keluh so Bontot.


Adam makin mengencangkan tawanya, dia merasa lucu melihat ekspresi wajah Al yang memandang aneh dirinya.


Saat sedang asik tertawa, Sisil dan juga Laila tiba dengan membawa barang belanjaan yang banyak. Adam segera menghampiri mereka lalu mengambil semua barang belanjaan yang ada di tangan Laila.


Ternyata Laila dan Sisil baru pulang dari swalayan untuk membeli keperluan dapur yang sudah habis.


''Biar Adam yang bawa, Bu. Sekalian Adam tata di dapur ya, Bu?" kata Adam, Laila mengangguk." Ayo Sil." Ajak Adam.


Sisil menurut, dia mengikuti Adam ke dapur. Sedangkan Laila langsung duduk di samping Arkana.


Arkana terlihat berbincang dengan Laila, sedangkan Al kembali melanjutkan game onlinenya yang sempat tertunda.


"Mas, Adam kenapa?" tanya Laila.


"Itu loh, Mas. Adam terlihat sangat bahagia, ada apaan sih?" tanya Laila.


"Entahlah, Mas juga belum tahu. Nanti kita tanya kalau Adam sudah terlihat santai," jawab Arkana.


"Iya, Mas." Jawab Laila.


Laila memegang pundaknya yang terasa pegal, Arkana yang melihatnya langsung menurunkan tangan Laila. Dia pun dengan perhatian langsung memijat pundak Laila.


"Iya, Mas itu enak. Sebelah situ tambah enak, aah.. enak banget, Mas." Racau Laila.


Al yang sedang bermain game online pun langsung melihat ke arah Ayah dan ibunya, Laila terlihat kenakan karena pijatan Arkana.


Al langsung menggelengkan kepalanya, karena sempat berpikir yang tidak-tidak.


Sementara di dapur....


Tiba di dapur, Sisil langsung mencuci semua sayuran dan ikan yang baru saja dia beli. Tangan Adam langsung membantu dengan menata belanjaan lainnya di dalam lemari, dia tak mau hanya diam saja melihat Sisil yang nampak sibuk.


Selesai dengan pekerjaannya, Sisil langsung menatanya di dalam lemari pendingin.


Terlihat sekali jika Sisil memang sudah terbiasa dengan apa yang dia lakukan, terlihat cekatan dan hasilnya tertata dengan rapih.


"Sil," panggil Adam, Sisil nampak menutup lemari pendingin dan menghampiri Adam.


"Apa, Mas?" tanya Sisil.


Sisil menatap heran pada wajah Adam, untuk sesaat dia menatap Adam. Ada gurat kebahagiaan di sana yang terlihat tak sabar untuk segera diwujudkan.


Adam menarik satu kursi untuk Sisil, "Duduk sini," pinta Adam.


Sisil menurut, dia nampak duduk sambil menatap netra Adam dengan lekat.


Sisil nampak tersenyum, dia bisa membaca jika wajah Adam seakan bertuliskan sebuah permintaan yang tak ingin ditolak. Apa pun itu, Sisik belum tahu.


"Ada apa? Kenapa Mas terlihat serius sekali?" tanya Sisil.


Adam terlihat sangat gugup, beberapa kali dia terlihat menghela napas panjang. Lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Sil, aku ingin secepatnya kita nikah." Kata Adam, Sisil terlihat kaget. "Minggu depan kita nikah, aku udah ngga sabar pengen cepet-cepet halalin kamu." Lanjutnya seraya menggenggam tangan Sisil.


Sisil nampak mengerjapkan matanya berkali-kali, dia merasa tak percaya jika Adam akan segera mengajaknya untuk menikah dengan cepat.


Adam merasa gemas, saat melihat wajah Sisil. Kalau saja tak dosa, ingin rasanya dia menyesap bibir Sisil yang terlihat menggoda.


"Hah?"


+


+


+


Aku sih yes, Sisil mau ngga ya?


BTW, makasih buat kalian yang selalu mau baca karya saya yang masih acak adul ini. Baik dalam penulisan atau pun dalam ide cerita.


Buat yang mau kasih saran, boleh banget. Yang mau ngasih ide cerita apa lagi. Yang mau ngasih kritik juga boleh, asal sama solusinya ya.


Jangan memberi masalah dengan masalah, tapi memberi solusi untuk yang salah.


Selamat hari senin, selamat beraktifitas. Semoga kalian bahagia selalu.


Jangan lupa likenya..