Who Is Adam?

Who Is Adam?
Lelaki Hidung Belang



Setelah sampai di tempat tujuan, Mahendra pun langsung memarkirkan mobilnya. Lalu dia pun turun tanpa berkata apa pun kepada Gracia.


Gracia terlihat mencebikkan bibirnya, lalu dia ikut turun dari mobil dan mengikuti langkah Mahendra untuk masuk ke dalam ballroom hotel.


Saat mereka masuk ke ballroom hotel, di sana sudah terdapat banyak tamu. Tentunya tamu-tamu penting dari berbagai perusahaan, tanpa berbasa-basi Mahendra langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang empunya acara.


"Selamat siang Tuan Zayn, maaf karena Tuan Adam tidak bisa datang." Mahendra terlihat mengulurkan tangannya.


Dengan senang hati Tuan Zayn langsung menerima uluran tangan dari Mahendra.


"Tidak apa-apa," jawab Tuan Zayn. Pandangan matanya beralih pada Gracia, "siapa dia?" tanya Tuan Zayn.


Gracia pun langsung tersenyum, lalu dia mengulurkan tangannya kepada tuan Zatn.


"Saya Gracia, Tuan. Saya yang membantu pekerjaan Tuan Mahendra," ucap Gracia.


Tuan Zayn langsung menerima uluran tangan dari Gracia, lalu dia pun tersenyum sambil memperhatikan penampilan Gracia.


Gracia terlihat memakai kemeja berwarna biru laut dipadupadankan dengan rok span berwarna hitam, memakai high heels berwarna hitam.


"Cantik! Kamu mau, kan, menemani saya saat gunting pita nanti?" tanya Tuan Zayn.


"Hah?" tanya Gracia kaget.


Tuan Zayn langsung tertawa melihat ekpresi wajah Gracia, Tuan Zayn terlihat mencondongkan wajahnya. Lalu dia berbisik pada Mahendra.


"Sepertinya dia masih polos, saya suka." Tuan Zayn menatap Gracia, lalu dia terlihat mengerlingkan sebelah matanya.


Gracia terlihat kaget, dia langsung memundurkan tubuhnya dan memegangi ujung jas milik Mahendra.


Melihat kelakuan Gracia, Tuan Zayn langsung tergelak.


"Nikmatilah acaranya, nanti saya akan memanggil kamu kalau acaranya sudah mau di mulai," kata Tuan Zayn.


"I--iya, Tuan." Gracia terlihat menganggukan kepalanya.


Setelah itu Tuan Zayn terlihat menemui para tamu yang datang, dia pun menyambut mereka dengan ramah.


Setelah kepergian Tuan Zayn, Gracia terlihat meminta izin kepada Mahendra untuk mengambil minuman untuk mereka.


"Tuan duduklah dulu, biar saya ambilkan minuman dan kue di sana." Gracia terlihat menunjuk tempat di mana berjajar rapi makanan dan juga minuman yang khusus dihidangkan untuk para tamu.


"Aku tidak mau minuman yang aneh-aneh, air putih saja," kata Mahendra.


"Iya," jawab Gracia.


Mahendra terlihat duduk, berbeda dengan Gracia yang langsung mengambil segelas air putih untuk Mahendra, minuman dingin untuk dirinya dan mengambil beberapa potong kue untuk dirinya dan juga Mahendra.


Tak lama kemudian Gracia terlihat kembali dengan membawa nampan di tangannya.


"Ini air putihnya, Tuan. Ini kue untuk Tuan, dan ini untuk saya," ucap Gracia.


"Sama-sama," jawab Gracia seraya duduk tepat di depan Mahendra.


Wajah Gracia terlihat berbinar saat melihat kue yang ada di piring miliknya, Gracia pun langsung menyantap kue tersebut.


Sesekali dia tersenyum sambil memejamkan matanya, dia terlihat begitu menikmati kuenya. Mahendra sampai menggelengkan kepalanya, karena menurutnya itu terlalu berlebihan.


"Padahal dia hanya memakan kue coklat dengan taburan kacang mede, kenapa dia terlihat lebay sekali," keluh Mahendra dalam hati.


"Nona cantik, acaranya sudah mau di mulai. Tolong temani saya, karena saya akan sangat senang sekali jika kamu mau menemani saya." Tuan Zayn tiba-tiba saja mengusap kedua bahu Gracia dengan lembut.


Gracia terlihat risih akan hal itu, namun dia tidak mungkin berkata kasar pada klien dari perusahaan Callweld tersebut.


Saat Gracia hendak menjawab ucapan Tuan Zayn, tiba-tiba saja Mahendra bangun sambil membawa segelas air putih di tangannya.


Lalu....


BYUR!


Air putih tersebut langsung mengguyur tubuh bagian depan Gracia, Tuan Zayn dan Gracia nampak kaget dibuatnya.


"Maaf, saya tidak sengaja." Mahendra terlihat melepas jasnya dan menutupi tubuh Gracia.


Gracia hanya bisa menatap Mahendra dengan tatapan tajamnya, berbeda dengan Tuan Zayn yang terlihat sangat kesal.


"Maaf, Tuan Zayn. Sepertinya kami harus segera kembali, saya minta maaf karena tidak bisa menyaksikan acara peresmian hotel ini," ucap Mahendra.


"Ya!" jawab Tuan Zayn datar.


Setelah mengucapkan hal itu, Mahendra terlihat keluar dari ballroom hotel. Gracia terlihat mengekori langkah Mahendra dengan bibir yang mengerucut tajam, sesekali dia menghentakkan kakinya karena kesal.


Tiba di dalam mobil Gracia yang merasa kesal pun langsung melayangkan protesnya.


"Tuan keterlaluan! Masa aku di siram kaya gini," ucap Gracia seraya membuka jas Mahendra.


Mahendra mengambil jasnya lalu menutupkan kembali ke tubuh Gracia, melihat hal itu Gracia terlihat menatap Mahendra dengan tatapan penuh protes.


"Jangan menatapku seperti itu, apa kamu tidak sadar jika kamu melepas jas milikku maka bentuk tubuhmu akan terlihat jelas." Mahendra terlihat memasang sabuk pengamannya.


Mendengar hal itu, Gracia terlihat menatap tubuhnya. Bena rsaja apa yang dikatakan oleh Mahendra, kemudian dia pun kembali menutup tubuhnya dengan jas milik Mahendra dan segera memasang sabuk pengamannya.


"Anda keterlaluan, Tuan. Saya tahu jika anda sengaja," kata Gracia.


"Ya, aku sengaja ingin menyelamatkan dirimu dari lelaki hidung belang itu. Seharusnya kamu berterima kasih padaku," ucap Mahendra tanpa menoleh ke arah Gracia.


Mendengar ucapan Mahendra, Gracia terlihat menatap tajam kearah Mahendra. Namun Mahendra seolah tak peduli, dia malah melajukan mobilnya menuju perusahaan Callweld.


Sebenarnya Gracia Masih belum paham dengan apa yang diucapkan oleh Mahendra, dia ingin sekali menanyakannya. Namun dia enggan untuk berbicara ketika melihat wajah Mahendra yang terlihat menyebalkan di matanya.


"Dasar kulkas enam belas pintu, kalau ngomong ngga pernah kelar. Sebenarnya dia punya masalah hidup apa sih?" umpat Gracia dalam hati.