Who Is Adam?

Who Is Adam?
Hanya Ingin ketenangan



Sisil sangat keget karena ternyata, Tuan Arley mengetahui silsilah keluarga Gunandari. Sisil juga sangat kaget, saat tahu jika Ayahnya Anggara sempat bekerja sama dengan Tuan Arley dengan perusahaannya yang berada di negeri Adidaya.


Sisil bahkan tak tahu, kemana perusahaan tersebut sekarang. Karena yang Sisil tahu, hanya bisa perusahaan yang ada di Indonesia saja.


"Katakan Sisil, apakah paman tirimu bernama Wiliam?" tanya Tuan Arley yang terlihat menuntut jawaban.


Sisil jadi serba salah dibuatnya, dia takut kalau identitasnya yang selama ini dia sembunyikan akan ketahuan oleh keluarga Khalastra.


Tuan Arley yang melihat ketakutan di mata Sisil pun, langsung menepuk pundaknya dengan pelan. Lalu, dia pun berusaha untuk menenangkan Sisil.


"Jangan pernah takut Sil, ada aku yang akan membantumu. Yang penting, kamu harus jujur kepadaku dan juga Adam. Percayalah kepada kami, kami hanya ingin membantumu. Apalagi, saat aku tahu jika cucuku sangat mencintaimu."


Tuan Arley sangat berharap jika Sisil, bisa berkata jujur kepadanyam Karena sekarang, Sisil sudah menjadi bagian dari hidup cucunya.


Tuan Arley sangat tahu, jika Adam sudah menyukai gadis yang bernama Pricilia Gunandari, dari semenjak berumur 6 tahun setengah.


Tuan Arley pun yakin, jika Adam tidak akan melepaskan orang yang menyakiti wanita yang sangat dia cintai.


"Ya, Mister. Wiliam Dianada Khalastra adalah adik tiri Ayah, anak dari Nenek Maira Khalastra." Sisil langsung menunduk setelah mengiyakan pertanyaan dari Tuan Arley.


Adam dan Tuan Arley pun bisa bernapas dengan lega setelah mendengarkan penuturan dari Sisil, kini tinggal memikirkan cara untuk merebut kembali hak Sisil.


Tentunya, Tuan Arley juga harus mengembalikan identitas asli Sisil. Karena tak mungkin bukan, jika Sisil harus bersembunyi di balik nama samaran dari Bi Narti.


"Apa kamu mau aku membalaskan dendam kamu?" tanya Tuan Arley.


Dengan cepat Sisil langsung menggelengkan kepalanya, di dalam hatinya dia sama sekali tidak ingin membalaskan dendam terhadap siapapun.


Karena memang tidak ada kata dendam, di dalam hatinya. Selama ini, dia sudah merasa tenang walaupun hidup dalam berkekurangan.


Dia merasa sangat bahagia, walaupun hidup hanya dengan Bi Narti dan juga Pak Paijo. Karena mereka merupakan orang yang sangat menyayangi Sisil, walaupun dia bukan anak kandung mereka.


"Tidak usah, Master. Aku hanya ingin hidup dengan tenang," jawab Sisil pasti.


Adam dan Tuan Arley, langsung tersenyum mendengar ucapan Sisil. Mereka tidak menyangka, jika Sisil merupakan wanita yang bisa dengan mudah merelakan hak miliknya.


Akan tetapi, di dalam hati, mereka benar-benar memuji sikap Sisil yang bisa menerima semuanya dengan lapang dada.


Walaupun Sisil berkata tidak usah, dalam hatinya Tuan Arley berjanji akan mengembalikan hak milik Sisil. Karena tidak sepantasnya, William Dianada Khalastra menikmati harta kekayaan yang memang bukan miliknya.


"Baiklah, jika itu maumu. Tapi, apakah kamu tidak takut jika Mharta akan merebut Adam dari kamu? apa kamu tidak ingat cara licik Mharta untuk mendapatkan Adam?" tanya Tuan Arley, yang niatnya ingin memanas-manasi Sisil.


Dengan cepat Sisil menatap Tuan Arley," tapi aku yakin dia tidak akan berani lagi untuk mengejar Tuan Adam."


Sisil menunduk kembali setelah mengatakan hal itu, dia takut Tuan Arley akan marah karena secara tidak langsung dia sudah menolak bantuan dari Tuan Arley.


"Yakin, kamu? setahu aku, wanita seperti itu tidak akan menyerah sebelum keinginannya tercapai." Tuan Arley langsung tersenyum setelah melihat wajah Sisil yang nampak gusar.


Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat Grandpa'nya yang secara tidak langsung telah mengancam Sisil.


"Jangan dipikikan, aku akan menjaga dirimu. Bukankah aku sudah berjanji, kalau aku hanya akan menjadi milik kamu." Adam langsung merangkul pundak Sisil, Tuan Arley pun dengan cepat memukul tangan Adam.


"Jangan sembarangan pegang-pegang, cukup Grandpa saja yang dulu nakal. Kamu jangan, halalin dulu baru boleh megang." Tegas Tuan Arley, Adam pun langsung terkekeh.


"Siap, Grandpa." Jawab Adam," jadi gimana, mau nikah sama aku?" tanya Adam.


Adam langsung menatap Sisil dengan penuh harap, dia sungguh berharap jika Sisil mau mengatakan 'iya'.


"Ngga mau," jawab Sisil.


"Kamu serius, nolak cucuku?" tanya Tuan Arley penasaran.


Tuan Arley langsung bertanya, agar tak merasa penasaran.


"Kalau tidak romantis, belum bisa disebut dengan lamaran." Kata Sisil pelan, bahkan hampir tak terdengar.


Tapi, Tuan Arley dan juga Adam masih bisa mendengar ucapan Sisil.


"Ya ampun, maaf. Nanti aku siapin lamaran yang romantis," ucap Adam sambil menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal.


Adam tidak punya pengalaman mengenai wanita, jadinya dia terlihat sangat bingung. Di saat Sisil secara tidak langsung mengatakan jika dia ingin dilamar secara romantis.


"Tenang saja, Boy. Nanti Grandpa Bantu, serahkan pada sang Master." Tuan Arley berucap sambil menepuk dadanya, Jumawa.


Adam langsung menggelengkan kepalanya, dia tak menyangka jika sifat jeleknya kembali kumat.


"Tidak perlu, aku mau usaha sendiri." Adam berucap dengan tegas.


Tuan Arley langsung terkekeh, dia tahu jika Adam adalah anak yang terlahir dengan otak yang bisa berpikir dengan tingkatan paripurna.


Akan tetapi, apa salahnya, jika sang mantan Casanova ingin membantu. Karena biasanya, pencinta dekor seperti Sisil akan mudah meleleh dengan sedikit sentuhan kata 'romantis'.


"Oke, Boy. Terserah kamu saja, Grandpa mendukung apa pun yang akan kamu lakukan." Tuan Arley langsung bangun, dia hendak bersiap untuk bekerja.


Karena memang, ada hal yang tidak bisa dia wakilkan. Baik kepada Mahendra ataupun kepada Leo.


"Grandpa mau kemana?" tanya Adam.


"Aku mau bekerja, bukankah cucu kesayanganku yang tampan ini sedang sakit?" tanya Tuan Arley.


Adam langsung terkekeh, dia tak percaya jika Tuan Arley masih sangat pengertian.


"Tank's Grandpa," ucap Adam tulus.


"Yes, Boy." Tuan Arley langsung meninggalkan apartemen milik Adam.


Tak lama setelah kepergian Tuan Arley, Laila pun datang dengan membawa buah-buahan dan juga camilan untuk Adam.


Laila merasa sangat senang, karena saat dia datang Adam dan Sisil sedang berada di ruang keluarga. Adam terlihat sudah sangat segar, berbeda dengan semalam yang terlihat pucat dan pias.


"Bu," sapa Adam.


"Ibu bawain kamu buah, mau Ibu lepasin?" tawar Laila.


"Nanti saja, Bu. Aku baru selesai sarapan," jawab Adam.


Laila pun lalu tersenyum, kemudian dia menatap Sisil yang terlihat duduk tak jauh dari Adam.


"Kalau kamu mau nggak, Sil? kalau mau, Ibu kupasin." Laila hendak mengambil buah yang dia bawa.


Tapi dengan cepat Sisil langsung mengibaskan kedua tangannya.


" Tidak usah, Nyonya. Nanti kalau aku mau, aku akan kupas buahnya sendiri." Kata Sisil.


"Baiklah kalau begitu, Ibj simpan saja buahnya di dalam lemari pendingin." Kata Laila