
Sudah satu minggu Leo tak lagi berada di perusahaan Callweld, Adam, Gracia dan Mahendra terlihat semakin sibuk saja.
Hal itu membuat Tuan Arely merasa kasihan terhadap cucunya dan kedua orang kepercayaannya tersebut.
Namun sayangnya, belum ada orang yang bisa dia percaya seperti Leo. Karena merasa kasihan kepada Adam, Adisha pun memutuskan untuk turun tangan.
Awalnya Tuan Arley terlihat tak menyetujui usulan istrinya, namun karena perusahaan benar-benar membutuhkan bantuan akhirnya Tuhan Arley pun setuju.
Lelaki berusia enam puluh lima tahun itu pun datang dan mengantarkan istrinya ke perusahaan milik keluarga Callweld.
"Ingat Honey, kamu tidak boleh terlalu lelah!" Tuan Arley terlihat mengecup bibir istrinya.
Walau bagaimana pun juga, Tuan Arley tetap menghawatirkan keadaan istrinya.
"Iya, Sayang. Lebih baik kamu pulang, kalau kamu tetap di sini yang ada aku tidak akan bekerja," kata Adisha.
Dia sangat tahu jika Tuan Arley gairah bercintanya masih sangat bagus, dia tak ubahnya seperti lelaki yang masih berusia empat puluh tahunan kalau dalam masalah ranjang.
"Ya, aku merindukan saat-saat kita bercinta di atas sofa itu," kata Tuan Arley.
Ingatan Adisha pun melanglang buana, saat pertama kali mereka menikah. Tuan Arley begitu rajin mengajak dirinya untuk bercinta, mau di mana pun itu.
Dia selalu bersemangat dan seperti tak mengenal lelah, Adisha bahkan sempat berpikir jika ada sosok anak muda yang terjebak di dalam tubuh suaminya itu.
"Ya ampun, Sayang. Inget umur, aku tidak mau kalau sampai encok kamu kumat," keluh Adisha.
"Ya ampun, Honey. Aku tidak akan bergerak, aku hanya akan duduk manis sambil merasakan goyangan mautmu itu," kata Tuan Arley seraya mengerling nakal.
"Hey, Kakek tua. Sudah ku bilang inget umur, sudah pulang sana! Apa kamu tidak kasihan pada Adam? Apa lagi sekarang Sisil sedang hamil besar, aku takut kalau dia terlalu sibuk malah tidak bisa memperhatikan istrinya," kata Adisha mengingatkan.
"Baiklah, Honey. Kakek Tua ini akan pulang saja, jangan nakal!" kata Tuan Arley.
Setelah berpamitan, Tuan Arley nampak menautkan bibirnya. Kakek Tua itu seakan begitu enggan untuk berpisah dengan istri cantiknya.
Dia masih saja memanpaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Tuan, sebentar lagi kita harus menghadiri peresmian hotel X. Karena Tuan Adam sedang ada meeting," kata Gracia.
"Hem, berapa menit lagi?" tanya Mahendra.
Dia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas yang sedang dia periksa.
"Lima belas menit lagi," kata Gracia.
Setelah mendengarkan ucapan Gracia, Mahendra pun langsung merapikan berkas yang sedang dia pegang dan segera mengajak Gracia untuk pergi.
Sepanjang perjalanan menuju hotel X mereka saling diam, tak ada obrolan apa pun. Sesekali Gracia nampak menoleh ke arah Mahendra, namun Mahendra seperti tak ada niatan untuk menoleh ataupun mengobrol dengan Gracia.
"Terkadang aku heran sama kulkas enam belas pintu ini, apa kantong tertawanya sudah rusak sama seperti Squidward?" tanya Gracia dalam hati.
"Ngga usah mengumpat dalam hati, mendingan kamu perbaiki penampilan kamu. Karena sebentar lagi kita akan turun," kata Mahendra.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Mahendra, Gracia nampak mengambil cermin yang berada di dalam tasnya.
Dia pun langsung mematut dirinya, merapikan riasannya dan juga memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah muda.
"Selesai," kata Gracia dengan senyum di bibirnya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Gracia, Mahendra nampak menoleh ke arah Gracia. Lalu, dia kembali fokus mengemudikan mobilnya.
"Ternyata walaupun sudah berdandan wajahmu tetap jelek," kata Mahendra.
"Ish! Tidak bisakah menyenangkan hati orang lain walaupun hanya sebentar?" tanya Gracia kesal.
"Lebih baik menyatakan kenyataan, dari pada aku harus berbohong," kata Mahendra.
"Kenapa dia menyebalkan sekali? Andai saja aku bisa memilih, lebih baik aku tidak mengenal pria yang kini berada di sampingku," kata Gracia dalam hati.
Gracia terlihat mengkrucutkan bibirnya, dia benar-benar merasa sudah tak tahan menghadapi kanebo kering macam Mahendra itu.