
Tuan Arley nampak menepikan mobilnya, tak lama diapun langsung turun dan segera membukakan pintu buat Adisha
"Terimakasih, Mister." ucap Adisha.
"Sama-sama," jawab Tuan Arley.
"Kita mau kemana, Tuan?" tanya Adisha.
"Ke kantor, putraku." jawab Tuan Arley.
"Untuk apa?"
"Untuk meminta restu," jawab Tuan Arley.
Adisha langsung tersipu mendengar ucapan dari Tuan Arley, Tuan Arley segera menuntun Adisha menuju kantor Arkana.
Saat mereka masuk, Arkana dan Laila nampak mengernyit, karena tak biasanya Tuan Arley datang dengan seorang wanita.
"Dad?" Dahi Arkana berkerut, seolah meminta jawaban.
Tuan Arley nampak terkekeh, dia langsung menuntun Adisha sampai di depan Laila dan Arkana.
"Ini calon Ibu mu, Boy. Bolehkah, Daddy menikah lagi?" tanya Tuan Arley.
Arkana dan Laila nampak saling pandang, kemudian mereka pun langsung tertawa.
"Akhirnya, Dad. Aku senang karena Daddy, mau menikah." ucap Arkana.
"Laila, juga senang. Daddy bisa tenang, karena ada wanita cantik yang akan menemani Daddy." ucap Laila.
Adisha nampak tersipu mendengarnya, dia tak menyangka anak dan menantu Tuan Arley akan langsung berkata setuju.
"Adisha, Sayang. Ini putraku Arkana, dan Istrinya Laila." ucap Tuan Arley memperkenalkan.
Adisha nampak menghampiri Laila, kemudian dia memeluk Laila.
"Senang bertemu dengan mu," ucap Adisha.
"Aku juga, semoga kalian bisa bahagia." ucap Laila.
Adisha nampak melerai pelukannya, kemudian dia menatap Arkana. Arkana langsung tersenyum, Arkana juga tanpa ragu langsung memeluk Adisha.
"Aku titip Daddy ku padamu, walaupun dia terlihat tua, tapi jangan ragukan kemampuannya. Dia juga masih sangat tampan dan gagah, kamu tidak akan menyesal kalau menikah dengan Daddy'ku." goda Arkana.
"Ck, aku belum menikah dengannya. Tapi, kalian begitu senang menggoda ku." ucap Adisha.
Arkana melerai pelukannya, "Aku hanya menitipkan Daddy ku padamu, dan memberitahukan kebenarannya padamu."
"Baiklah, aku akan mencoba sebisanya untuk mengurus bayi besar itu." ucap Adisha tepat di dekat telinga Arkana.
"Apa yang dia katakan, Boy?" tanya Tuan Arley penasaran.
"Tidak ada," ucap Arkana.
"Kalian menyebalkan," ucap Tuan Arley.
"Lalu, kapan Daddy menikahi wanita cantik ini?" tanya Laila.
"Kalau Adisha mau, aku akan menikahinya hari ini juga." jawab Tuan Arley.
Adisha nampak melotot mendengar ucapan Tuan Arley, kemudian dia memukul lengan kekar Tuan Arley.
"Jangan sekarang !!" kesal Adisha.
"Lalu, maunya kapan? Jangan membuatmu menunggu terlalu lama, aku sudah tua. Tak sanggup, kalau harus menunggu lebih lama lagi." ucap Tuan Arley.
"Kalau begitu, minggu depan saja." ucap Laila.
"Aku setuju," ucap Tuan Arley.
"Jangan, itu terlalu cepat." ucap Adisha.
"Ayolah, Sayang." ucap Tuan Arley memelas.
"Aku janji, setelah kita menikah. Kita akan berkenalan lagi, kita akan berpacaran setelah menikah. Kita akan melakukan semuanya yang kamu inginkan, setelah kita menikah." ucap Tuan Arley.
Adisha nampak berpikir, tak ada salahnya, pikirnya. Bukankah itu lebih bagus, jadi tak perlu ada dosa yang bertebaran sebelum kata halal.
"Baiklah, Mister. Aku mau, kapan pun anda mengajakku untuk menikah, aku pasti mau." jawab Adisha.
"Benarkah?" tanya Tuan Arley.
"Benar, Mister. Tapi aku mau pulang ke kota B, aku mau mengajak keempat adikku untuk kemari. Boleh?"
"Tentu, Sayang. Bawa saja mereka kemari, biar mereka kerja di sini saja dan tinggal bersama kita." ucap Tuan Arley.
Mata Adisha langsung berbinar," Benarkah?" Tuan Arley nampak menganggukan kepalanya, " Semua adikku, boleh tinggal bersama kita?" lagi-lagi Tuan Arley menganggukan kepalanya.
Adisha langsung memeluk Tuan Arley dengan erat, Tuan Arley pun langsung tersenyum penuh kemenangan.
Laila dan Arkana nampak bahagia melihat kebahagiaan di mata Tuan Arley, mereka sangat senang karena akhirnya Tuan Arley menemukan jodohnya.
Setelah mengunjungi putra dan manantunya, Tuan Arley mengajak Adisha untuk menemui Haidar. Tuan Arley, ingin memberitahukan niat baiknya.
Sampai di Resto Haidar, Tuan Arley langsung membicarakan keinginannya. Awalnya Haidar dan istrinya nampak kaget, tapi kemudian, mereka pun tersenyum senang.
Karena akhirnya, keponakan mereka akan menikah dengan Tuan Arley. Mereka sangat percaya pada Tuan Arley, mereka sangat tahu jika Tuan Arley memang baik, hanya saja Tuan Arley kurang perhatian dan terkesan lebih tertekan dalam keluarganya.
Selsai mengunjungi Haidar, Tuan Arley mengajak Adisha untuk membeli cincin nikah mereka. Tak lupa, Tuan Arley juga mengajak Adisha untuk memilih gaun pengantin yang akan dia kenakan nantinya.
Setelah semuanya selsai, Tuan Arley mengajak Adisha untuk mengunjungi rumah miliknya. Rumah yang terlihat megah dan besar, namun selalu terlihat sepi.
Sampai di dalam rumahnya, Tuan Arley langsung mengajak Adisha untuk duduk di dalam ruang keluarga.
Adisha nampak duduk seraya menyandarkan kepalanya.
"Cape? " tanya Tuan Arley.
"Hem, sangat." jawab Adisha.
"Mau aku pijat?" tawar Tuan Arley.
"Jangan!! " tolak Adisha.
"Kenapa? "
"Kata orang, sentuhan lawan jenis itu terasa berbeda dan --"
"Apa? " tanya Tuan Arley penasaran.
"Pokoknya, Mister, ngga boleh pegang-pegang sebelum kita nikah." ucap Adisha.
"Baiklah, aku tidak akan pegang-pegang, tapi cium boleh'kan? " tanya Tuan Arley dengan menaik turunkan alisnya.
Adisha langsung memukul tangan Tuan Arley," Dasar mesum !!"
Tuan Arley langsung terkekeh, dia merasa beruntung karena Adisha mau menerima lamarannya. Tuan Arley sangat yakin jika Adisha masih perawan, bahkan Tuan Arley sangat yakin jika Adisha belum pernah berpacaran.
Semuanya dapat dilihat dari cara dia berperilaku terhadap pria, dari cara dia memandang pria, dan sikapnya yang terlihat malu-malu saat bersamanya.
"Kenapa marah? Tadi bilangnya ngga boleh pegang-pegang, kalau ciuman kan cuma bibir doang yang bertindak." Tuan Arley berusaha, untuk terus menggoda Adisha.
"Kalau kamu godain aku terus, aku pulang saja !!" kesal Adisha.
"Jangan, nanti aku antar pulang." ucap Tuan Arley.
"Tapi, Mister, ngga boleh nakal lagi." ucap Adisha.
"Aku ngga bakal nakal, tapi ada syaratnya." ucap Tuan Arley.
"Apa? "
"Panggil aku Sayang, atau Mas. Jangan panggil Mister," titah Tuan Arley.
Adisha langsung terdiam, rasanya bibirnya begitu kelu saat harus mengatakan kata Sayang.