Who Is Adam?

Who Is Adam?
Bersikap Aneh



Pukul empat pagi Adam sudah terbangun dari tidurnya, dia merasa jika tubuhnya terasa sulit untuk bergerak. Adam pun langsung menunduk, dan mendapati Sisil yang sedang memeluknya dengan posesif.


Bahkan Kaki Sisil kini berada tepat di atas milikny, hal itu membuat Adam menjadi gelisah.


"Ya Tuhan, dari kemarin aku sangat menginginkannya. Tapi Sisil benar-benar tak memberiku jatah, sekarang apa ini?" tanya Adam


Adam terlihat sangat kesal saat melihat kaki Sisil yang terlihat begitu nyaman menindih miliknya.


"Aaahhh..." desahh Adam.


Rasanya miliknya terasa sangat ngilu, kala Sisil tiba-tiba saja menggeliat dan kaki Sisil langsung menggesek miliknya.


"Ya Tuhan, dia begitu menyiksaku." Adam langsung menurunkan kaki dan tangan Sisil dari tubuhnya.


Perlahan-lahan, Adam turun dari tempat tidurnya. Dia ingin mendinginkan isi kepalanya, dia ingin menidurkan miliknya yang kini sudah mengembang dengan sempurna.


"Rasanya sakit sekali," umpatnya.


Adam langsung membuka pintu balkon, dia duduk dengan malas sambil menengadahkan wajahnya.


Dia menatap langit pagi itu, yang terlihat masih gelap. Belum ada tanda-tanda, jika sang surya akan terbit dari tempat peraduannya.


"Kenapa dia aneh sekali? Padahal biasanya dia agresif sekali, apa mungkin dia sudah menopause? Tapi, rasanya tak mungkin. Kan belum punya anak," ucap Adam lirih.


Adam menangadahkan wajahnya, kemudian dia menutup matanya. Rasa dingin seakan membelai wajahnya, rasanya hal itu membuat milik Adam makin meronta.


Kini celananya terasa begitu sesak, rasanya bahkan dia sudah tak bisa menundanya lagi.


Harap dimaklum ya, gengs. Biasanya Babang Adam sama Teteh Sisil bisa dua sampai tiga kali dalam semalam, lah ini... Babang Adam belum dapet jatah, puyeng-puyeng dah tuh.


Adam langsung bangun dan masuk ke dalam kamarnya, dia langsung mendekati Sisil dan mengecupi setiap inci wajah istrinya.


Saat bibir Adam menikmati manisnya bibir mungil istrinya, tangannya pun tak bisa diam. Dengan lincahnya dia membuka piyama tidur milik istrinya.


Setelah terlihat dengan jelas dada istrinya, Adam langsung merematnya dengan lembut. Dia sudah tak sabar ingin segera bermain di sana.


"Eungh..." terdengar suara lenguhan dari bibir Sisil, kala Adam mulai memainkan puncak dada istrinya.


Semakin lama, Adam semakin liar. Dia bermain dengan tak sabar, bahkan Adam menjepit dan menarik ujang dada istrinya dengan kasar.


"Aduh!"


Sisil langsung terbangun dan langsung mendorong dada Adam dengan kuat, dia sangat kaget kala membuka matanya.


Karena Adam sudah berada tepat di atasnya, bahkan Adam terlihat sangat menginginkan dirinya.


Adam terlihat begitu tak sabar ingin segera menikmati madu cinta yang selalu mereka berdua rasakan saat Adam dan Sisil menyatukan tubuhnya.


"Mas, ngapain?" tanya Sisil.


"Mas, pengen, Yang. Udah ngga kuat, Mas ngga tahan." Adam langsung membuka kimono mandinya, hingga senjata laras panjang milik Adam pun langsung terlihat dengan jelas.


"Mas!" pekik Sisil kala melihat milik suaminya yang begitu menantang.


"Ayolah, Yang. Mas ngga tahan, kalau kamu ngga ngasih, Mas minta sama siapa? Masa minta sama tetangga?" goda Ada


"Mas!" pekik Sisil.


Tanpa pikir panjang, Sisil langsung mendorong tubuh Adam. Adam pun langsung jatuh terlentang di atas kasur, tanpa banyak bicara, Sisil langsung membuka seluruh kain yang menutupi tubuhnya.


Sisil langsung menunduk dan mengulum milik Adam, Adam tersenyum puas kala melihat kelakuan istrinya.


Dia sangat suka kala miliknya dimanjakan oleh hangatnya bibir mungil istrinya, Sisil terlihat begitu lihay dalam memainkan milik Adam.


Sisil sebenarnya tidak ingin melakukannya, karena dari kemarin dia merasa gairahnya berkurang. Entah karena tubuhnya yang sedang tidak fit, atau karena apa.


"Aduh, Yang. Mas ngga kuat," ucap Adam.


Adam langsung bangun, dia mengangkat tubuh mungil Sisil dan mendudukannya di atas pahanya.


"Sekarang, Yang. Mas udah ngga kuat," ucap Adam memelas.


Sisil pun dengan patuh langsung menyatukan tubuh mereka, Adam langsung mendesis. Dia begitu suka saat Sisil bermain di atas tubuhnya, tubuhnya yang mungil bisa dengan cepat memainkan gairahnya.


Hingga pukul lima pagi, Adam pun langsung memeluk erat tubuh Sisil. Dia menekan paha Sisil agar miliknya bisa masuk lebih dalam hingga Adam bisa leluasa menyebarkan bibitnya.


"Enak banget, Yang." Adam langsung melepaskan pelukannya, dia menatap Sisil penuh kagum dan mencium bibir istrinya dengan lembut.


Setelah menuntaskan hasratnya, Adam langsung menggendong Sisil ke kamar mandi. Mereka harus segera mandi dan melaksanakan shalat subuh.


"Makasih, ya, Sayang. Kamu selalu luar biasa," ucap Adam.


Rasa dahaganya kini telah terobati, rengekan Adam dari semalam yang tak dihiraukan oleh Sisil pun kini bisa tersalurkan dengan baik.


Adam benar-benar merasa sangat puas, Adam merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Sisil.


Pukul enam pagi, Adam dan Sisil sudah keluar dari kamarnya. Wajah Adam terlihat sangat bersinar, berbeda dengan wajah Sisil yang terlihat tak ceria seperti biasanya.


Adam langsung duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan, sedangkan Sisil dengan cepat membuatkan kopi untuk suaminya itu.


"Makasih, Sayang." Adam menerima kopi buatan Sisil dan menyesapnya dengan perlahan.


"Sama-sama," jawab Sisil.


Walaupun terasa males, tapi Sisil tetap berusaha untuk memberikan senyum terbaiknya di depan suaminya.


Dia takut jika Adam akan berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya, Sisil hanya sedang tidak mood saja dari kemarin. Tapi, dia juga tidak mau membuat Adam kecewa terhadap dirinya.


"Aku masak dulu ya, Mas." Sisil langsung membuka lemari pendingin dan mecari bahan makanan yang ingin dia masak.


Adam hanya menganggukkan kepalanya, karena dia sedang menikmati secangkir kopi yang telah Sisil buatkan untuknya.


Saat sedang memilah-milah bahan masakan, Sisil melihat ada buah mangga mangkal di sana. Sisil langsung tersenyum, lalu dia menghampiri Adam dan langsung mengelus lembut punggung Adam.


"Mas, aku mau goreng ikan kembung sambel mangga, ya?" ucap Sisil.


"Masih pagi, Yang. Yang lainya saja," ucap Adam.


Mendengar jawaban Adam, Sisil langsung cemberut. Lalu, dia pun duduk tepat di samping Adam dengan bibir yang mengkerucut sempurna.


"Jangan marah, Sayang. Mas cuman khawatir kamu akan serat sakit perut, karena ini masih pagi." Adam langsung mengelus lembut puncak kepala istrinya.


Sisil langsung menepis tangan Adam, kemudian dia bangun dan berjalan dengan cepat menuju kamar mereka. Adam jadi bingung dibuatnya, sikap Sisil benar-benar aneh menurutnya.


Dari kemarin sore sikap Sisil benar-benar membuat kesabaran Adam di uji, Adam pun jadi bertanya-tanya.


Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada sesuatu hal dari sikap Adam yang membuat Sisil kesal?


Tepat di saat kepergian Sisil, Laila datang dan menghampiri Adam. Dia kemudian menepuk kedua bahu Adam dengan pelan dan bertanya kepada putranya tersebut.


"Ada apa dengan istri kamu? Kenapa dia terlihat begitu kesal dan berlalu begitu saja? Bahkan Ibu saja tidak disapa oleh sisil?" tanya Laila.


"Entahlah, Bu. Adam pun tak mengerti, dari kemarin sore Sisil terlihat bersikap dengan sangat aneh," jawab Adam.


"Coba kamu pikir-pikir lagi, mungkin kamu pernah membuat kesalahan yang membuat Sisil begitu kesal sama kamu." Laila mengelus lembut kedua tangan Adam.