Who Is Adam?

Who Is Adam?
Nasehat Grandpa



"Siapa wanita tadi?" tanya Tuan Arley.


Tuan Arley yang notabene mantan Cassanova itu, tak akan rela jika ada anak, cucu, cicit dan semua keturunannya berlaku buruk seperti dirinya.


Dia ingin jika semua keturunannya bisa bersikap lebih baik dari pada dirinya, biarlah hanya dia yang pernah melakukan dosa besar semasa hidupnya.


Adam dan Sisil terlihat Saling pandang, kemudian Adam pun memberanikan diri untuk menatap Tuan Arley.


"Wanita itu bernama Reinata, Grandpa. Dia temanku semasa kuliah dulu," jawab Adam.


Mendengar ucapan Adam, Tuan Arley pun langsung paham. Kenapa wanita yang bernama Reinata itu terlihat so akrab dengan Adam, bahkan dia terlihat seperti sangat mengenal cucunya tersebut.


"Oh, seperti itu. Grandpa hanya ingin mengingatkan, jika wanita seperti dia bukanlah wanita yang baik. Dia terlihat begitu terobsesi, dia terlihat harus mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Berhati-hatilah menghadapi perempuan seperti itu," ucap Arley.


"Tapi, Grandpa. Perusahaan kita sudah mengadakan kerjasama bersama dengan perusahaannya Reinata," kata Adam.


"Pindahkan kerjasama yang kalian lakukan ke kantor cabang, jangan di kantor pusat. Jika perempuan itu tetap memaksa, bilang saja kerja sama antara perusahan kita batal." Tuan Arley terlihat tak bermain-main dengan apa yang dia ucapkan.


Adam pun tentu sangat tahu, jika Grandpanya tersebut pasti akan melakukan hal yang lebih tegas lagi terhadap orang yang melakukan kesalahan.


Apa lagi, orang seperti Reinata yang secara terang-terangan mengibarkan bendera perang antara dirinya dan juga Sisil.


Saat bertemu dengan Sisil pun, Renata bahkan seakan tak menghargai posisi Sisil di dalam kehidupan Adam.


Adam terlihat kebingungan, di satu sisi dia pun tahu jika kehadiran Reinata itu mengancam ketenangannya bersama dengan Sisil.


Namun, di sisi yang lain dia juga merasa kasihan terhadap Reinata. Dia baru saja memulai bisnisnya, dia berusaha memajukan bisnis almarhum ayahnya.


Namun di sisi lain, Adam juga sangat sadar jika dia membiarkan Reinata untuk masuk ke dalam celah yang Adam berikan, maka rumah tangganya bersama dengan Sisil akan menjadi taruhannya.


Bahkan bukan tidak mungkin, jika Reinata akan melakukan hal yang sama seperti yang telah Mharta lakukan kepada dirinya.


"Jika Reinata masih tetap berada di dekat kamu, maka Grandpa sangat yakin jika dia akan menjadi pelakor di dalam rumah tangga kamu," kata Tuan Arley.


"Baiklah, Grandpa. Nanti akan aku bicarakan dengannya," kata Adam.


"Ajak istrimu, jika kamu ingin bertemu dengannya. Kalau tidak, ajak Mahendra. Agar tak ada kesalah pahaman diantara kalian nantinya," kata Tuan Arley.


"Ya, Grandpa," jawab Adam.


"Kamu dengar, Boy. Jangan bermain-main dengan perempuan, karena jika istrimu marah. Habislah kamu," ledek Arkana.


"Ya,ya,ya. Aku tahu," kata Adam.


Suasana di dalam, ruangan Adam kembali ramai dengan canda tawa. Sedangkan Reinata yang merasa tak mendapatkan celah pun langsung memutuskan untuk pergi dari perusahaan Callweld.


Reinata pergi dengan wajah ditekuk, Leo dan Gracia hanya bisa saling pandang menyaksikan kepergian wanita itu.


"Gracia," panggil Leo.


"Ya, Kak. Ada apa?" tanya Gracia.


"Aku sudah izin mau pergi ke butik, kamu tahu sendiri kan jika pernikahan aku tinggal satu minggu lagi?" tanya Leo.


"Yes, Kak. Lalu?" tanya Gracia.


"Siap abangku, Sayang." Gracia terlihat mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Anak pintar," ucap Leo seraya mengacak pelan rambut Gracia.


Setelah berpamitan kepada Gracia, Leo pun memutuskan untuk segera menjemput Cindy.l karena dia tahu jika calon istrinya tersebut sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Beruntung hari ini ada waktu luang, sehingga Leo pun mendapatkan izin untuk pergi ke butik bersama dengan Cindy.


Tiba di depan perusahaan Cindy, Leo melihat Cindy sedang menunggunya sambil tersenyum dengan sangat manis.


Leo pun dengan cepat turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Cindy.


"Masuklah, Sayang," ucap Leo.


"Terima kasih, Mas," kata Cindy.


Setelah memastikan Cindy duduk dengan benar, Leo pun menutup pintu mobil tersebut. Lalu kemudian, dia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


Leo pun langsung melajukan mobilnya menuju butik tempat mereka memesan gaun pengantin.


Ternyata kebersamaan mereka selama hampir 1 bulan, membuat mereka dekat dan lebih saling mengenal lagi satu sama lain.


Apa lagi Leo juga sering mampir ke rumah Cindy setelah mengantarkan calon istrinya itu pulang, Leo bahkan sudah sangat dekat dengan calon mertuanya.


Tiba di butik yang mereka tuju, Cindy langsung mencoba gaun pengantin yang sudah dia pesan. Begitu pun dengan Leo, dia pun segera mencoba tuksedo yang sudah dia pesan.


Mereka berdua terlihat begitu puas dengan hasil pesanan mereka, Cindy terlihat sangat cantik dan Leo terlihat sangat tampan dengan baju pengantin yang sudah mereka pesan.


"Yang, mumpung lagi ada waktu kita ngopi dulu yuk di Caffe," ajak Leo seraya melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Iya, Mas," jawab Cindy menurut.


Akhirnya Leo dan Cindy pun memutuskan untuk ngopi terlebih dahulu di sebuah Caffe yang tak jauh dari butik tersebut.


Saat masuk ke dalam Caffe tersebut, tanpa sengaja tatapan mata Leo menangkap siluet tubuh wanita yang sangat dia kenal.


Wanita itu terlihat sedang memeluk tubuh seorang pria sambil menyandarkan kepalanya di pundak pria tersebut.


Untuk sesaat Leo terdiam, dia tahu jika hubungannya dengan perempuan itu sudah berakhir.


Namun, Leo tak menyangka jika perempuan itu berani membohongi dirinya dengan alasan pekerjaan.


Kalau memang dia sudah merasa bosan terhadap Leo, kenapa tidak jujur saja? Kenapa harus bohong dengan berkata akan pergi untuk bekerja ke luar negeri?


Cindy yang menyadari tatapan mata Leo pun seakan mengerti, dia terlihat mengelus lembut punggung lelaki yang satu minggu lagi akan resmi menjadi suaminya itu.


"Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita bisa pindah dari Caffe ini," kata Cindy.


" Ya, sebaiknya kita pindah saja," ucap Leo


Leo pun langsung merangkul pundak calon istrinya dan mengajak Cindy untuk segera pergi dari Caffe tersebut.


"Kamu tega sekali Catherine, padahal apa pun selalu aku berikan untukmu. Bahkan barang sampah berharga fantastis pun selalu aku berikan untukmu. Bahkan disaat dunia menentang hubungan kita, aku tetap membelamu." Geram Leo dalam hati.