
Tuan Arley kini sedang berada di kursi kebesarannya, dia sedang memeriksa berkas yang diberikan oleh Leo. Senyumnya langsung mengembang tatkala tahu jika investor terbesar dari perusahaan Gunandari adalah perusahan milik Tuan Aleandro.
Tuan Aleandro adalah sahabatnya, mereka sama-sama pernah bekerja sama saat mengembangkan bisnis di negara adidaya.
"Bersiaplah Wiliam, hanya tinggal menunggu sebentar lagi." Tuan Arley langsung terkekeh setelahnya.
Melihat senyuman di wajah Tuan Arley, Leo seketika bergidig. Bukan senyum kebahagiaan yang dia lihat, Leo melihat senyum yang biasa dia lihat saat Tuan Arley akan menghancurkan lawannya.
"Kenapa, Leo?" tanya Tuan Arley.
"Tidak apa-apa, Master. Apa yang harus saya kerjakan saat ini?" tanya Leo.
"Tidak ada, sekarang kamu kembali ke ruangan kamu. Jangan lupa, suruh Mahendra ke ruangan saya sekarang." Titah Tuan Arley.
"Siap, Master." Jawab Leo.
Leo pun segera keluar dari ruangannya Tuan Arley, Tak lupa sebelum dia masuk ke dalam ruangannya, dia terlebih dahulu meminta Mahendra untuk menemui Tuan Arley.
Mahendra yang paham pun, langsung menyiapkan berkas yang sudah diminta oleh Tuan Arley.
"Selamat pagi, Master." Mahendra langsung membungkuk hormat kepada tuan Arley.
Mahendra langsung menyodorkan berkas yang sudah dia siapkan kepada Tuan Arley.
Tuan Arley langsung tersenyum senang saat melihat Mahendra, apa lagi saat melihat berkas yang kini sudah berada di tangannya.
"Duduk," titah Tuan Arley.
Sesuai dengan titah Tuan Arley, Mahendra langsung duduk tepat di depan Tuan Arley. Secara perlahan Tuan Arley membuka berkas dari Mahendra, dia pun membaca berkas tersebut dengan sangat teliti.
Dia sangat senang, karena ternyata Mahendra benar-benar bisa diandalkan. Mahendra juga ternyata bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang pembunuhan terencana yang dilakukan oleh William terhadap Anggara.
William yang hanya anak bawaan dari istri kedua Ayah Anggara, hanya diberikan perusahaan cabang yang berada di luar kota.
Dia merasa tidak terima, dia langsung berencana untuk membunuh pewaris tunggal dari keluarga Gunandari.
Rencananya memang berhasil, akan tetapi William sangat kesal. Karena ternyata, semua aset yang dimiliki oleh Anggara sudah di wariskan kepada putri tunggal mereka Pricilia Gunandari.
Wiliam sangat marah, sehingga dia terus mencari keberadaan Pricilia. Otak liciknya ternyata sangat bekerja, saat mengetahui jika Pricilia tak kunjung ditemukan.
Wiliam memalsukan kematian Pricilia, pada akhirnya sang pengacara kepercayaan Gunandari pun melimpah kuasakan seluruh harta keluarga Gunandari pada Wiliam.
"Ck, sangat licik!" Gumam Tuan Arley.
Tuan Arley langsung tersenyum, dia sudah punya rencana agar perusahaan Gunandari pailit dalam sekejap mata.
Mahendra yang semudah paham akan senyum dari sang Master, langsung bangun dan berkata.
"Saya siap melakukan perintah anda, secepatnya." Kata Mahendra.
"Tidak usah, sekarang giliranku. Kamu kembalilah ke ruangan kamu," titah Tuan Arley.
"Baik, Master." Mahendra membungkukan badannya, lalu kembali menuju ruangannya.
Tuan Arley pun langsung mengambil ponselnya, kemudian dia segera menghubungi Tuan Aleandro. Akan tetapi, sayangnya sampai panggilan ketiga, tak ada juga yang mengangkat telponnya.
Pada akhirnya Tuan Arley pun memutuskan untuk pergi langsung ke perusahaan Tuan Aleandro.
Saat Tuan arley sampai di lobby kantor Tuan Aleandro, dia langsung menghampiri seorang resepsionis untuk menanyakan keberadaan Tuan Aleandro.
"Permisi, Nona. Apakah Tuan Aleandronya ada?" tanya Tuan Arley sopan.
Seorang resepsionis tersebut pun langsung melihat ke arah Tuan Arley, dia sangat tahu jika di depannya adalah pengusaha besar yang wajahnya sering wara-wiri di majalah bisnis.
Resepsionis tersebut pun dengan sopan berkata kepada Tuan Arley.
"Maaf, Mister. Karena Tuan Aleandro sedang sakit, sekarang perusahaan ini dipegang oleh cucunya, Nona Fatimah." Ucapnya sopan.
"Tentu saja boleh, Mister. Tunggu sebentar, saya telepon dulu." Ucap resepsionis tersebut.
Resepsionis tersebut langsung menghubungi Nona Fatimah dan ternyata Nona Fatimah bersedia untuk bertemu dengan Tuan Arley .
Tuan Arley pun berdecak senang, karena ternyata dia masih di sambut dengan sopan di sana.
"Mari, Mister. Saya antar," kata resepsionis tersebut.
Tuan Arley pun menganggukkan kepalanya, setelah itu dia pun mengikuti langkah dari resepsionis tersebut.
" Selamat pagi, Nona. Maaf mengganggu, ini ada Mister Arley yang ingin bertemu dengan anda." Ucap resepsionis tersebut dengan sangat sopan.
Fatimah yang sedang bekerja pun, langsung mendongakkan kepalanya. Dia melihat Tuan Arley sekilas lalu dia pun tersenyum, karena pada dasarnya Fatimah memang mengenal sosok Tuan Arley.
Karena, lelaki yang seumuran dengan Grandpa nya itu memang sering terlibat langsung dalam bisnis yang dia geluti. Dia bahkan sangat sering tampil dalam majalah bisnis, tentunya bersama dengan anak dan juga cucunya.
"Silahkan duduk, Mister." Ucap Fatimah.
Dengan senang hati, Tuan Arley pun langsung duduk tepat dihadapkan Fatimah. Melihat Tuan Arley yang kini sudah bertemu secara langsung dengan atasannya, resepsionis yang mengantarkan Tuan Arley pun langsung pamit undur diri.
"Maaf, Nona. Kalau kedatangan saya mengganggu pekerjaan anda," ucap Tuan Arley.
Karena memang, Fatimah terlihat sedang serius dengan a yang sedang dia kerjakan. Sebenarmya dia merasa tak enak hati, akan tetapi Tuan Arley benar-benar sangat membutuhkan bantuan dari Fatimah.
"Tidak apa-apa, Mister. Apa yang perlu saya bantu?" tanya Fatimah.
"Begini, Nona. Saya mau meminta bantuan anda," kata Tuan Arley.
"Bicaralah, Mister. Kalau bisa, pasti akan saya bantu." Kata Fatimah.
Fatimah pernah mendengar jika Grandpanya berkata bahwa dia berteman dengan Tuan Arley pun tidak mungkin bukan jika dia mengabaikan permintaan dari Tuan Arley.
"Begini, Nona--"
Tuan Arley pun lalu menceritakan maksud dan tujuannya datang ke sana. Tuan Arley juga menceritakan tentang kejahatan William terhadap keluarga Gunandari.
Tujuannya, agar Fatimah tidak salah paham. Kejahatan William sudah terlalu besar dan sulit untuk dimaafkan menurutnya.
Awalnya Fatimah merasa keberatan dengan rencana dari Tuan Arley, akan tetapi setelah mendengarkan penuturan dari Tuan Arley, hati Fatimah pun luluh.
Fatimah pun membenarkan jika aset keluarga Gunandari, memang harus dikembalikan kepada pewaris yang sesungguhnya.
"Bagaimana, Nona." Tanya Tuan Arley.
"Insya Allah, saya bisa bantu." Kata Fatimah.
"Terima kasih, Nona. Tuan Aleandro pasti sangat senang mempunyai cucu yang sangat pintar dan berpotensi seperti anda." Puji Tuan Arley.
Fatimah hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Tuan Arley.
"Terima kasih, Nona. Kalau begitu, saya permisi." Pamit Tuan Arley.
"Silahkan," jawab Fatimah.
Tuan Arley pun keluar dengan wajah sumringah dari ruangan Fatimah, dia tidak menyangka jika wanita muda seperti Fatimah mau membantunya.
Dia juga sangat bersyukur, karena ternyata Tuhan mempermudah jalannya. Tuan Arley berjanji, jika aset keluarga Gunandari harus berpindah tangan kepada Sisil. Karena hanya dialah, yang memang berhak mendapatkan semua aset milik keluarganya kembali.
+
+
Hai, Hai, Hai.... selamat siang, jangan lupa Like, Vote dan koment'nya ya..