
Tuan Arley benar-benar marah, dia tak menyangka jika Laurent bisa melakukan hal sekeji ini pada Adisha. Dengan langkah cepat, Tuan Arley langsung menggendong Adisha dan membawanya ke klinik perusahaan.
Adisha langsung di rebahan di atas brankar, dengan cepat seorang Dokter cantik pun menghampirinya.
Adisha pun langsung mendapatkan pertolongan pertama, selang oksigen pun langsung dipasangkan. Karena Adisha terlihat kehabisan nafas, kemudian seorang dokter cantik pun langsung melakukan pemeriksaan secara intens.
Dua kancing kemeja bagian atas yang Adisha pakai pun langsung di buka, untuk memudahkan Adisha dalam bernafas dan saat diperiksa.
Dokter cantik itu pun, mencarikan posisi ternyaman untuk kekasih Bosnya, itu. Dia bantal dia jadikan, penyangga untuk kepala dan bagian punggung atas Adisha.
Raut wajah Tuan Arley, terlihat begitu cemas. Dia bahkan langsung duduk di samping Adisha, dan menggenggam erat tangannya.
Tuan Arley sama sekali merasa tak terganggu, saat Dokter sedang melakukan pemeriksaan pada kekasihnya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Tuan Arley.
"Sudah lebih baik, beruntung segera di bawa kemari. Kalau tidak, Nona Adisha, bisa kesulitan untuk bernafas, bahkan bisa saja nyawanya tak akan tertolong lagi." jelas Dokter cantik itu.
Tuan Arley nampak marah, saat mendengar penjelasan dari Dokter. Dia sungguh berjanji dalam hati, jika dia akan memberikan pelajaran pada Laurent.
Setelah mendengarkan penjelasan Dokter, Tuan Arley nampak menemani calon istrinya. Dia tak beranjak sedikitpun dari samping Adisha.
Setelah setengah jam mendapatkan perawatan, wajah Adisha nampak terlihat segar. Tuan Arley pun bisa bernafas dengan lega.
Dengan perlahan, dia usah pipi Adisha dengan lembut. Tangan Adisha nampak bergerak, mungkin itu adalah respon dari tubuh Adisha.
"Kamu tenang saja, Sayang. Aku pasti akan memberikan pelajaran pada wanita jahat itu," ucap Tuan Arley.
Tangan Tuan Arley, masih setia mengelus pipi Adisha. Tak lama, Adisha pun nampak terbangun. Adisha nampak mengerjap-ngerjapkan matanya.
Adisha terlihat sangat lucu saat berlaku seperti itu, senyum di wajah Tua Arley pun, nampak mengembang.
Tak lama, Adisha nampak mengucek matanya. kemudian dia memegang lehernya yang terasa sangat sakit dan perih. Karena ternyata, ada bekas kuku Laurent di sana.
"Kenapa, Sayang? Apa ada yang sakit?" tanya Tuan Arley.
Adisha langsung terlonjak, saat mendengar ucapan Tuan Arley.
"Ya ampun, Mister. Kamu ngagetin!! "ucap Adisha sambil mengelus dadanya.
Tuan Arley seakan tak menghiraukan ucapan Adisha, dia langsung saja menarik tangan Adisha dan memeriksa leher wanitanya.
Di lehernya nampak garis merah kebiruan, Tuan Arley pun bisa menduga jika Laurent telah mencekiknya dengan sangat kencang.
Kilatan amarah begitu kentara di matanya, Tuan Arley begitu kesal dan tentunya dia akan memberikan hukuman yang setimpal untuk Laurent.
"Apa saja yang dia lakukan padamu, hem?" tanya Tuan Arley.
"Dia, dia mengurungku di gudang." ucap Adisha menunduk.
"Jangan ada yang kamu tutupi, Sayang. Katakan dengan jelas, apa yang dia lakukan padamu?" tanya Tuan Arley.
"Dia mencekikku, dia marah, karena kamu sudah melamarku, Mister." jawab Adisha.
"Ck, jangan panggil aku Mister. Panggil aku Sayang," pinta Tuan Arley.
"Malu," ucap Adisha.
Adisha nampak tertunduk sambil memilin ujung kemejanya ,sedangkan Tuan Arley nampak terkekeh melihat kelakuan wanitanya.
"Dasar," ucap Tuan Arley.
Tuan Arley langsung menarik tubuh kecil Adisha ke dalam pelukannya, awalnya Adisha ingin menolak. Tapi, rasanya pelukan dari Tuan Arley membuatnya terasa sangat nyaman.
" Terima kasih, sudah menolongku." ucap Adisha tulus.
" Aku tidak butuh ucapan terimakasih, berterimakasihlah dengan ini." Tuan Arley, nampak mengusap bibir bawah Adisha.
"Ishh,, kenapa nakal lagi?" ucap Adisha seraya memukul dada Tuan Arley.
Tuan Arley langsung terkekeh," Kita nikah sekarang saja, aku sudah tak sabar."
Adisha langsung memundurkan tubuhnya," Jangan!! Mister sudah janji, kalau kita nikah semua keluargaku akan hadir."
"Kalau begitu, panggil aku, Sayang." titah Tuan Arley.
"Kalau ngga mau panggil Sayang, aku bakal nikahin kamu sekarang juga." ancam Tuan Arley.
Adisha nampak ketakutan, Adisha kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Tuan Arley.
"Sayang," ucap nya berbisik.
"Ck, pelan sekali. Aku tak mendengarnya." ucap Tuan Arley.
Adisha nampak mendesis kesal, kemudian dia memukul tangan kekar Tuan Arley. Dengan gerakan cepat, Tuan Arley nampak menggenggam tangan Adisha.
"Mau panggil aku, Sayang, atau aku cium sekarang juga?" tanya Tuan Arley.
"Iya, Sayang. Maaf telah membuatmu kesal," ucap Adisha.
Adisha langsung memeluk Tuan Arley dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Tuan Arley, rasanya dia begitu malu dengan apa yang sesudah dia sebutkan.
"Mulai sekarang, kamu ikut pulang ke rumah ku. Aku tidak mau ambil risiko, jika nanti Laurent melakukan hal yang tak diinginkan." ucap Tuan Arley.
"Tapi, Mister--"
Ucapan Adisha langsung terhenti kala melihat sorot mata tajam dari Kekasihnya.
"Maaf --"
Ucapan Adisha langsung terhenti kala bibir Tuan Arley, kini telah mengecup bibirnya. Adisha langsung mendorong tubuh besar, Tuan Arley.
"Kamu, nakal !!" Kesal Adisha.
"Mulai sekarang, aku akan menciumi jika kamu tidak mau memanggilku dengan sebutan Sayang. Kesalahan mu, aku anggap sebuah permintaan." jelas Tuan Arley.
"Mana bisa, seperti itu?!" kesal Adisha.
"Tentu bisa, Sayang." ucap Tuan Arley.
"Iya, Sayang. Lalu bagaimana dengan Om Haidar, kalau aku tinggal di rumahmu, Sayang?" tanya Adisha.
"Kamu jangan khawatir, Haidar dan Rena sudah setuju. Keempat adik kamu juga sedang dalam perjalanan ke sini. Mereka, akan tinggal bersama dengan kita." ucap Tuan Arley.
"Benarkah?"
"Hem, sekarang kita pulang. Sebentar lagi, keempat adikmu akan datang." ucap Tuan Arley.
Adisha begitu senang, dia pun segera bangun dan turun dari brankar. Tuan Arley langsung merangkul pundak Adisha, dia sangat khawatir, jika calon istrinya akan kenapa-kenapa.
...****************...
Kini Adisha sudah berada di depan rumah Tuan Arley, Tuan Arley pun langsung menuntun Adisha untuk masuk ke dalam rumahnya.
Saat masuk ke dalam ruang keluarga, Adisha nampak kaget. Karena ternyata, di sana sudah ada Om Haidar, Tante Rena, keempat adiknya dan juga Arkana bersama keluarga kecilnya.
Adisha langsung menangis haru, kemudian dia memeluk Tuan Arley dengan erat.
"Terimakasih, Sayang." ucap Adisha tulus, Tuan Arley nampak senang.
"Kakak," panggil ke empat adiknya Adisha.
Adisha langsung melerai pelukannya, kemudian dia pun menghampiri ke empat adiknya dan langsung memeluk mereka dengan erat.
Rona kebahagiaan terlihat jelas di wajah Adisha sore itu, apa lagi keempat adiknya Adisha, mereka terlihat sangat bahagia karena bisa bertemu dengan kakak sulungnya.
Ke empat adik Adisha, yang semuanya berjenis kelamin laki-laki itu langsung melerai pelukan mereka. Kemudian mereka menghampiri Tuan Arley, mereka pun memeluk Tuan Arley secara bergantian.
"Terimakasih, Mister." ucap mereka bersamaan.
Tuan Arley nampak kesal, karena mereka memanggilnya Mister.
+
+
+
Sampai di sini dulu, Othor mau cari nama buat keempat adiknya Adisha 😁😁😁🤔