Who Is Adam?

Who Is Adam?
Menyelidiki



Hari ini senyum ceria selalu tersungging di bibir Sisil, dia begitu senang karena Adam selalu menuruti keinginannya.


Bahkan saat Sisil meminta makanan yang baru Adam dengar pun, Adam dengan cepat menurutinya. Tentu saja yang menjadi korbannya adalah Leo, namun Leo tidak dapat membantah perintah dari Bosnya itu.


Karena walau bagaimanapun juga, Leo sangat memuja kegeniusan Adam dalam berbisnis. Sebenarnya Adam merasa geli dengan makanan apa yang diminta oleh Sisil.


Dia meminta Adam untuk membelikan Sisil semacam makanan yang terbuat dari tepung tapioka, digoreng dengan menggunakan tepung roti.


Saat makanan itu digigit terlihat menggelikan buat Adam, karena akan terlihat memanjang dan terlihat kenyal.


Lebih terlihat seperti keju mozarella di mata Adam, sedangkan Adam sangat tidak menyukai makanan meleleh seperti itu.


" Yang, kamu jorok banget sih!" ucap protes Adam.


" Jangan protes Mas, ini keinginan calon Baby kita," ucap Sisil seraya mengelus lembut perutnya yang masih rata.


Jika Sisil sudah mengatakan hal itu, Adam sama sekali tidak bisa berkutik. Karena memang kebenarannya seperti itu, Sisil menjadi aneh, manja dan banyak maunya setelah mengandung benihnya.


"Ternyata orang hamil itu sangat merepotkan, tapi juga sangat menyenangkan bisa menuruti semua keinginan dari dirinya. Hati ini seakan puas, batin ini terasa senang." Gumam Adam dalam hatinya.


Pukul empat sore Adam dan Sisil pun langsung pulang ke kediaman Laila, begitu pun dengan Leo dan juga Gracia.


Leo terlihat terburu-buru ingin menjemput Cindy, karena dia ingin mengajak Cindy pergi ke suatu tempat. Sedangkan Gracia, dia terlihat mencegat angkot untuk bisa pulang ke rumahnya.


Rumah sederhana yang dia tempati bersama ibunya, setelah ditinggal pergi oleh ayahnya. Tanpa Gracia sadari, ternyata Mom Maura mengikuti langkah Gracia.


Dia terlihat begitu penasaran dengan sosok Ibunda Gracia yang kemarin dia lihat di Rumah Sakit, saat tiba di gang menuju rumahnya, Gracia terlihat memberhentikan angkot tersebut.


Terpaksa Mom Maura pun menepikan mobilnya, dia mengikuti langkah Gracia tanpa menggunakan mobil mewahnya.


Tentu saja dia memakai selendang kecil untuk menutupi kepalanya, dia juga memakai kaca mata dan masker agar tak ketahuan.


Dia sempat memperhatikan wajah Gracia yang tak jauh darinya, dia bisa melihat wajah Gracia yang begitu tertekan, capek, lelah dan seperti banyak pikiran.


Sampai di depan rumah kecil nan sederhana, Gracia pun langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam .


"Assalamualaikum, Bu. Aku pulang," ucap Gracia setengah berteriak.


Tak lama Ibu Gracia pun langsung membuka pintunya, wanita itu sudah terlihat lebih segar wajahnya. Tak sepucat kemarin lagi.


Mom Maura pun memperhatikan wajah ibunda Gracia, dia sangat yakin jika itu adalah wanita yang sangat dia kenal.


"Apakah itu kamu, Naura?" tanya Mom Maura lirih.


Dia ingin sekali langsung menghampiri dan menyapa ibunda Gracia, namun dia tidak ingin gegabah sebelum memastikan kebenarannya.


Tak lama kemudian, Gracia dan ibundanya terlihat masuk kedalam rumah sederhana tersebut.


Mom Maura pun mengendap-ngendap dan mengintip dari jendela yang sedikit terbuka, dia bisa melihat ruangan tersebut tertata dengan rapi walaupun terlihat kecil.


Tak lama kemudian, Mom Maura melihat Gracia bersama Ibunya keluar dari rumah tersebut. Mom Maura pun langsung bersembunyi di balik tembok samping rumah tersebut.


Gracia dan Ibunya terlihat rapi, walaupun pakaian yang mereka gunakan hanya pakaian yang mereka beli dari pasar tradisional.


Karena dia masih bisa membelikan baju untuk Ibunya, yang selalu saja sakit-sakitan dan tak pernah bisa bekerja itu.


Senyum di wajah Gracia terlihat mengembang, wajah lelah Gracia tak terlihat lagi.


Sepertinya dengan melihat Ibunya sehat saja Gracia bisa terlihat sangat bahagia, karena itulah do'anya sedari dulu.


Ingin melihat Ibunya sehat kembali, sayangnya dia tak mempunyai biaya kala itu. Kuliah pun karena dia pandai dan mendapatkan beasiswa.


Beruntung dia bertemu dengan Leo, biar kata orang dia itu lelaki playboy dan suka menggoda wanita.


Namun bagi Gracia, Leo adalah malaikat penyelamat untuknya. Dia mau dengan suka rela membiayai semua pengobatan Ibunya.


"Kita akan kemana? Kenapa ibu di suruh pake baju rapih kaya gini?" tanya Ibunya.


"Hari ini aku dapat bonus besar, Bu. Karena berhasil membantu Tuan Adam dalam mendapatkan project besar, aku ingin mengajak ibu untuk makan di luar," ucap Gracia.


"Ya ampun, Sayang. Kalau punya uang ditabung aja, enggak usah buat makan di Restoran. Sayang duitnya, kamu pasti capek kerja. Masa uangnya dihamburkan begitu aja," ucap Ibunya.


"Tak apa-apa, Bu. Sekali-sekali, selama ini Ibu tidak pernah sama sekali merasakan makanan enak di luar," ucap Gracia dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar penuturan dari putrinya, hati Ibunda Gracia pun luluh.


"Ya sudah, Ibu menurut," ucap Ibunya.


Ibu Gracia terlihat mengelus lengan Gracia dengan lembut, tak lama kemudian Ibu Gracia terlihat mengunci pintu rumahnya.


Lalu dia menyimpan kunci rumahnya di bawah pot bunga yang berada di pojokan rumah.


Kemudian mereka pun pergi meninggalkan rumahnya untuk makan di sebuah Restoran yang tak jauh dari rumahnya.


Hal itu Gracia lakukan karena dia ingin sekali membahagiakan Ibunya, tentunya dengan memberikan makanan enak dan juga pakaian yang layak.


Setelah dirasa aman, Mom Maura langsung mengambil kunci pintu rumah tersebut dari bawah pot bunga di pojokan rumah.


Setelah merasa aman, dia pun membuka pintu rumah tersebut. Mom Maura sudah benar-benar seperti maling saja, namun semua itu rela dia lakukan karena ingin membuktikan prasangkanya.


Setelah masuk, Mom Maura kembali menutup pintunya. Dia tidak merasa kesulitan dalam memperhatikan ruangan demi ruangan yang ada di rumah tersebut, karena memang rumah tersebut terlihat sangat sederhana.


Hanya ada dua kamar, satu ruang tamu, satu ruang keluarga dan dapur yang menyatu dengan ruang makan.


"Ya Tuhan, rumah ini kecil sekali. Kira-kira di mana ya, kamar Naura?" ucap Mom Maura lirih.


Maura pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar yang ada di dekat ruang keluarga, karena menurutnya kamar yang berada di dekat ruang tamu kemungkinan adalah kamar Gracia.


Saat dia masuk, kamar itu terlihat sangat sempit. Namun tertata dengan rapi, Maura pun langsung berjalan menuju nakas yang berada di samping tempat tidur, di situ ada foto Gracia dan juga Ibunya.


Bahkan di sana ada foto Ibunya Gracia yang masih terlihat cantik, dia terlihat menggendong Baby di tangannya.


"Ya Tuhan Naura, kenapa nasibmu jadi seperti ini? Padahal kamu dulu begitu cantik, banyak lelaki yang memujamu. Kenapa malah memilih lelaki brengsek itu!" ucap kesal Mom Maura.