
Sambil menunggu pesanannya datang, Leo mengedarkan pandangannya, dia menatap ramainya jalanan ibu kota di sore hari yang terlihat macet. Apa lagi saat ini hujan, makin macet dan terlihat gelap.
"Gracia," ucap Leo lirih.
Dia melihat Gracia yang sedang duduk di halte bus, dia terlihat kedinginan. Kedua tangannya saling mengusap, sesekali dia terlihat menengadah memperhatikan rintik hujan.
Leo langsung bangun dan mengambil payungnya, dia pun langsung melangkahkan kakinya menuju halte.
"Hai," sapa Leo pada Gracia.
Gracia yang sedang duduk langsung menengadahkan wajahnya, dia menatap wajah tampan Leo yang sedang memegang payung dengan lengan kekarnya.
"Tuan, sedang apa di sini?" tanya Gracia.
Gracia langsung bangun, kini mereka pun berdiri saling berhadapan. Namun, tetap saja Gracia tak bisa menandingi tubuh Leo yang tinggi. Tinggi badan Gracia hanya sampai sebatas dada Leo saja.
"Aku mau makan soto di sana," tunjuk Leo pada sebuah kedai. "Kalau kamu mau, kita bisa makan bersama." Tanpa menunggu jawaban dari Gracia, Leo langsung merangkul pundak Gracia dan menuntunnya agar berjalan dan masuk ke dalam kedai.
Saat kakinya melangkah, tatapan matanya tak henti memandang wajah tampan Leo. Sesekali dia melihat tangan Leo yang terlihat besar namun sangat halus dan lentik bertengger cantik di pundaknya.
Rasa dingin yang sedari tadi menggerayangi tubuhnya, seakan hilang. Berganti dengan rasa hangat sampai ke dalam hatinya.
"Silahkan duduk," ucap Leo setelah menarik satu bangku untuk Gracia.
"Terima kasih, Tuan. Anda baik sekali," ucap Gracia tulus.
"Hem, kamu mau soto Ayam, sapi atau kambing?" tanya Leo.
"Ayam saja," jawab Gracia.
Leo langsung memanggil pelayan yang ada di sana, lalu menambah pesanannya menjadi dua. Tak lupa Leo juga memesan teh lemon hangat untuk mereka minum.
Sepuluh menit menunggu, pesanan mereka pun tiba. Gracia terlihat makan dengan lahap, Leo langsung tersenyum melihat tingkah Gracia yang begitu apa adanya.
"Enak?" tanya Leo.
"Enak," jawab Gracia dengan mulut penuh dengan makanan.
"Habiskan, Setelah itu kita pulang." Leo mengacak pelan rambut panjang Gracia.
Dia sedikit tersipu, dengan apa yang dilakukan oleh Leo. Lalu, dia pun teringat pada ibunya yang sedang sendirian di rumahnya. Dia sedang sakit, sekarang dia malah pulang terlambat.
Pasti waktu untuk memasak akan berkurang, Gracia pun jadi berpikir untuk memesan satu porsi soto untuk Ibunya.
"Em, Tuan. Tunggu sebentar ya, saya mau mesen sotonya lagi." Dahi Leo terlihat berkerut dalam mendengar ucapan Gracia, apakah perempuan di hadapannya begitu suka makan, pikirnya.
Melihat Leo yang menampilkan muka anehnya, Gracia pun langsung paham.
"Bukan untuk saya, tapi untuk ibu," kata Gracia.
"Oh, pesankan sebanyak yang kamu mau. Nanti biar aku yang bayar," ucap Leo.
"Eh, ngga usah, Tuan. Biar saya bayar sendiri, masa baru hari pertama bertemu udah punya utang." Gracia langsung berdiri dan segera memesan satu bungkus soto untuk Ibunya.
Leo sampai melongo dibuatnya, biasanya semua wanita yang dekat dengannya selalu minta ditraktir atau minta dibayari saat shoping.
Lalu, kenapa Gracia terkesan sangat tidak mau menerima pemberian dari Leo. Padahal hanya satu porsi soto, dan harganya pun tidak seberapa.
Leo langsung menghampiri Gracia yang sedang berdiri tepat di depan meja pemesanan, dia terlihat sedang mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
"Biar aku yang bayar, nanti kalau kamu sudah gajian bisa mentraktir balik. Gimana?" tawar Leo.
Gracia terlihat berpikir untuk sejenak, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, nanti kalau udah gajian aku akan mentraktir, Tuan." Gracia langsung tersenyum dengan sangat manis, bibir tipisnya yang berwarna merah muda terlihat begitu menggoda.
"Tua, kenapa diam saja? Aku sudah selesai, jadi mau bayarin atau ngga?" tanya Gracia.
"Ah, iya." Leo langsung mengambil dompetnya, lalu mengambil selembar uang seratus ribuan dan memberikannya pada wanita yang berdiri di belakang kasir.
Setelah mendapatkan kembaliannnya, Leo langsung mengajak Gracia untuk pulang.
"Rumah kamu di mana?" tanya Leo.
"Jalan melati no. 2," jawab Gracia.
"Tidak terlalu jauh," ucap Leo.
Jalanan yang macet ditambah guyuran hujan lebat, membuat Leo menjalankan mobilnya dengan pelan. Sesekali Leo melirik Gracia denga ekor matanya.
Gracia benar-benar terlihat sangat cantik dan manis di mata Leo, sedangkan Gracia terlihat anteng menatap jalanan sambil memperhatikan laju jalanan yang terlihat padat merayap.
"Dia cantik sekali, sayangnya masih polos. Ngga bisa gue setir, bisa mampus gue kalau dia hamil." Batin dan Pikiran Leo kini sedang berperang.
Ingin sekali dia mengajak Gracia untuk segera pulang ke apartemen miliknya, tentu saja dia ingin segera menggendong dan menindih tubuh mungil Gracia.
"Saya minta diturunkan di depan saja, Tuan." Gracia menunjuk sebuah gang yang tak jauh dari mobil yang Leo kendarai.
"Memangnya rumah kamu di mana?" tanya Leo.
"Masih masuk ke dalam gang, mobil bisa masuk. Tapi, nanti parkirnya bakalan susah." Gracia berusaha untuk menerangkan keadaan jalan yang menuju ke rumahnya, bukan menolak Leo untuk mampir.
"Ah, oke. Tapi, nanti kamu malah kehujanan," kata Leo.
"Saya pinjam payung, Tuan. Boleh?" tanya Gracia.
"Tentu saja," jawab Leo.
"Terima kasih ya, Tuan. Anda baik sekali," ucap Gracia setelah Leo memberhentikan mobilnya.
"Sama-sama," ucap Leo gemas.
Kalau saja Gracia bukan gadis polos, Leo sudah pasti akan mengajaknya untuk sekedar berciuman di dalam mobilnya.
"Sial! Kenapa gue jadi mikirin dia mulu?" umpat Leo di sela perjalanan menuju apartemen miliknya.
Jika Leo masih dalam perjalanan menuju pulang, Adam malah sudah sampai di rumahnya. Dia terlihat sedang memeluk istrinya di bawah selimut yang begitu tebal.
"Dingin, Yang." Adunya pada sang istri.
"Namanya juga ujan, Mas. Pasti dingin," jawab Sisil.
"Mau diangetin," pinta Adam.
Adam langsung mengecupi cuping telinga Sisil dan menggigitnya denga pelan.
"Mas," seru Sisil.
"Angetin, Yang. Kamunya di atas," pinta Adam.
Awalnya Sisil tak mau menuruti keinginan suaminya itu, lagi pula jam sudah menunjukkan pukul lima sore Sebentar lagi akan masuk waktu Maghrib, takutnya Adam malah lama, pikirnya.
Namun, jika mengingat Adam yang pernah merajuk dan sampai tak pulang, Sisil pun langsung menuruti keinginan suaminya itu.
Sisil langsung naik ke atas tubuh Adam dan mengecupi setiap inci tubuh suaminya, Adam langsung memejamkan matanya.
Dia begitu menikmati setiap kecupan yang terasa sangat menggelitik jiwa kelelakiannya, apa lagi saat Sisil bermain di area inti miliknya.
Membuat Adam langsung mendongakkan kepalanya, dia begitu suka saat melihat bibir mungil Sisil yang penuh dengan miliknya.