Who Is Adam?

Who Is Adam?
Gelisah Galau Merana



Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Sisil terlihat sangat gelisah karena Adam tak kunjung datang walau hanya untuk menampakkan batang hidungnya.


Sisil pun semakin merasa bersalah, karena sudah dari siang dia berusaha untuk menghubungi Adam. Namun sayangnya, Adam tak kunjung mengangkat telepon dari Sisil.


"Mas, kamu kemana?" tanya Sisil, "maafkan aku, Mas. Aku tidak berniat untuk menolak mu, Sayang." Ucap Sisil seraya meremat dress yang dia pakai.


Sisil benar-benar merasa gelisah, dia juga merasa sangat bersalah karena sudah menolak suaminya itu. Rasa khawatir dan juga rasa takut bercampur aduk jadi satu, Sisil juga sangat takut karena sebentar lagi waktu makan malam tiba.


Bagaimana jika Laila dan juga Arkana bertanya tentang keberadaan Adam?


Sisil makin tak enak hati dibuatnya, apalagi Laila sekarang sedang bersedih karena Al yang dipindahkan ke negara Adidaya.


Ditambah lagi sekarang dengan Adam yang sedang marah kepadanya, Sisil jadi takut jika Laila dan Arkana menganggap dirinya sebagai istri yang tidak becus mengurus suaminya.


Sehingga Adam memilih untuk pergi, bahkan tanpa memberitahu dirinya. Parahnya lagi, Adam sama sekali tak mau mengangkat panggilan telpon darinya.


Sisil melangkahkan kakinya ke sana-kemari, dia sudah seperti setrikaan panas yang melicinkan pakaian kusut. Jika saja lantai marmer itu bisa berkata, mungkin saja mereka sudah mengaduh kesakitan.


"Mas... kamu di mana? Jangan bikin aku khawatir, aku janji kalau Mas pulang aku akan kasih apa pun yang Mas minta. Mau kapan dan di mana pun, aku Mau, Mas." Sisil menggigit kuku jarinya, dia benar-benar gelisah dan takut.


Tak lama terdengar pintu kamarnya di ketuk, dengan langkah ragu dia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya.


"Sayang, sudah waktunya makan malam. Ayah sudah menunggu," kata Laila.


"I--iya, Bu." Sisil terlihat tergagap saat membalas ucapan Laila, dia takut jika dia akan mempertanyakan tentang Adam padanya.


"Ayo," ajak Laila.


Tanpa banyak bicara Sisil langsung menutup pintu kamarnya, lalu berjalan mengikuti Laila menuju ruang makan.


Benar saja, di sana sudah ada Arkana yang menunggu. Namun, tak ada Adam di sana. Hal itu benar-benar membuat Sisil gelisah, dia takut jika kedua mertuanya akan bertanya.


Lalu, jawaban apa yang akan Sisil katakan pada kedua mertuanya tersebut. Pikiran Sisil kalut, otaknya kalang kabut. Dia harus segera berpikir, untuk memberikan jawaban yang pas pada kedua pasangan paruh baya tersebut.


"Duduk, Nak. Kenapa malah berdiri saja?" kata Arkana.


Mendengar ucapan Arkana, jantung Sisil terasa berdegup lebih kencang. Baru mendengar suara Arkana saja, rasanya Sisil sudah ketakutan.


"I--iya, Ayah." Sisil menjawab dengan sangat gugup, membuat Arkana dan Laila mengernyitkan dahinya.


Ragu-ragu Sisil menarik kursi dan duduk di sana, Laila dan juga Arkana menatap Sisil dengan tatapan penuh tanda tanya.


Mereka pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Sisil terlihat begitu takut? Kenapa Sisil terlihat begitu gelisah? Dan kenapa tak ada Adam disisinya?


Karena mulut Laila terasa sangat gatal sedari siang dia tidak melihat Adam, bahkan Sisil malah terlihat mencarinya, Laila pun pada akhirnya bertanya.


Jantung Sisil makin berdetak tidak karuan, dia bingung harus berkata apa. Apakah Sisil harus jujur saja dan mengatakan yang sebenar-benarnya?


Atau Sisil harus berbohong? Atau mungkin Sisil harus mencari alasan yang masuk akal? Akan tetapi, kalau Sisil berbohong dia takut nantinya akan menjadi masalah baru dan Adam akan disalahkan oleh kedua orang tuanya.


"Begini Yah, Bu. Tadi siang Mas adam meminta itu pada Sisil, karena Sisil takut Mas Adam akan kecapean, Sisil menolaknya." Sisil akhirnya mengatakan yang sebenarnya, walaupun dia merasa sangat malu.


Laila dan Arkana terlihat saling pandang, lalu kemudian mereka pun langsung tersenyum.


"Namanya juga pengantin baru, harusnya kamu lebih pengertian. Lagian ya Sil, sebagai kaum lelaki, kita akan merasa lebih segar dan merasa lebih bersemangat kalau sudah mendapatkan jatah batin dari istri tercinta. Bukan kelelahan, bahkan dalam bekerja pun terasa lebih bersemangat." Jelas Arkana panjang lebar, hal itu membuat Laila mencubit gemas tangan kekar Arkana.


"Mas!" protes Laila.


"Itu kenyataan, Sayang. Jika aku sebagai kaum lelaki yang sudah mendapatkan jatah batinku, akan merasa sangat sehat. Bahkan obat termahal sekalipun tak bisa menyegarkan hati, tubuh dan pikiran yang sudah terpenuhi kebutuhan batinnya." Jawab Arkana seraya mencubit gemas hidung Laila.


"Mas, ih!" protes Laila, dia merasa tak enak hati pada menantunya itu.


Sisil langsung tertunduk lesu, pantas saja menurutnya Laila dan arkana sampai sekarang tidak pernah terlihat cekcok. Bahkan, mereka terlihat sangat bahagia.


Karena kunci utama dalam rumah tangga adalah saling memuaskan dan saling membahagiakan. Tentunya, saling mengerti keinginan dan kebutuhan masing-masing pasangan.


Sisil jadi makin merasa bersalah, yang ingin dilakukan saat ini adalah mencari Adam dan mengabulkan apapun yang suaminya minta.


Sisil benar-benar menyesal, ternyata dia salah jika menganggap Adam akan kelelahan karena meminta jatahnya, padahal pekerjaannya masih esok hari dan Adam memintanya siang hari.


Dia pun semakin tertunduk lesu, andai saja waktu bisa diulang. Ingin sekali dia memberikan apapun yang Adam minta, karena memang dari dulu Adam tak pernah meminta apapun.


Lagipula, Sisi memang tak punya apa-apa. Masih beruntung Adam mau menerima kekurangan Sisil, masih beruntung Adam mau menyembuhkan Sisil.


Membuat Sisil yang sekarang bisa berjalan dengan sempurna, masih beruntung Adam mau memberikan perawatan yang terbaik untuk Sisil.


Membuat tubuhnya yang memang sudah cantik, kini terlihat lebih molek lagi. Bahkan kulitnya pun, kini terlihat lebih cantik dan terawat.


Walaupun tanpa bedak, karena memang Sisil mendapatkan perawatan di seluruh bagian tubuhnya dan tentu hal itu tidak gratis, semuanya menggunakan uang Adam.


Melihat kesedihan di mata menantunya, Lalila menghampiri Sisil dan. mengelus lembut puncak kepala Sisil.


"Jangan sedih, mungkin Adam sedang ada keperluan jadi belum bisa pulang." Kembali Laila mengusap lembut punggung Sisil agar menantunya itu merasa lebih tenang.


"Tapi, Bu. Dia tak mau mengangkat telpon dari Sisil," adu Sisil dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kalau lagi kesel Adam memang suka gitu, dia akan menyibukan dirinya dengan bekerja. Karena dia takut akan mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya," ucap Laila.


"Jadi ibu tahu Mas Adam kemana kalau lagi ngambek?" tanya Sisil.