Who Is Adam?

Who Is Adam?
Cemen!



Dua orang bertubuh besar nampak menggeret tubuh Deanandra, sedangkan beberapa orang lainnya nampak membereskan kekacauan yang mereka buat.


Kini semuanya terlihat sudah rapih, namun Leo terlihat kebingungan. Cindy kini berada dalam keadaan tubuhnya yang polos, dia terlihat terlelap dalam balutan selimut tebal di atas ranjang berukuran sedang di kamar penginapan itu.


Namun, baju pengantin milik Cindy terlihat tergeletak di lantai dalam keadaan mengenaskan.


Sepertinya Deanandra menggunting baju tersebut, karena dia kesusahan dalam membukanya.


"Ck! Aku harus bagaimana sekarang?" keluh Leo.


Leo terlihat menghampiri Cindy, lalu dia duduk di tepian ranjang dan mengusap lembut puncak kepala istrinya.


Tak lama kemudian, Mahendra datang menghampiri Leo. Dia memberikan sebuah kunci kepada Leo, Leo menatap heran kepada kunci yang Mahendra berikan kepadanya.


Lalu, dia pun bertanya.


"Kunci apa ini?" tanya Leo.


"Tentu saja kunci kamar penginapan yang baru, tidak mungkin bukan kamu membawa Cindy pulang dalam keadaan seperti itu? Sekarang pindahlah ke tempat penginapan yang baru, aku sudah menyewakan sebuah kamar yang layak untuk kalian," ucap Mahendra.


Sebenarnya Mahendra ingin meminjamkan baju untuk Cindy, agar Cindy bisa pulang kerumahnya.


Namun, tiga wanita yang berada di warung remang-remang tersebut hanya mempunyai baju minim bahan.


Rasanya tidak mungkin Cindy harus dipakaikan baju seperti itu, oleh karenanya Mahendra pun memutuskan untuk menyewa kamar saja untuk Leo dan juga Cindy.


Lagi pula, Leo pasti kecapean setelah melaksanakan acara ijab kabul dan acara resepsi pernikahan seharian penuh.


"Ah, kamu benar. Tapi, bagaimana dengan Cindy? Apakah keadaannya baik-baik saja setelah dibius oleh si brengsek itu?" tanya Leo.


Mahendra tersenyum, lalu dia pun menepuk pundak Leo, dia seakan berusaha untuk menenangkan hati Leo.


"Kamu tenang saja, ternyata dia hanya memberikan obat tidur kepada Cindy. Namun, dia memeberikannya dalam dosis berlebih. Mungkin dia melakukannya agar bisa menggauli istrimu dalam keadaan yang tidak sadar," kata Mahendra.


Mendengar Mahendra mengungkapkan alasannya, Leo terlihat marah sekali.


Beraninya lelaki brengsek itu bermain-main dengan dirinya, pikirnya. Beruntung dia datang sebelum semuanya terlambat.


"Kalau begitu, tolong bantu aku." Leo kembali menyerahkan kuncinya pada Mahendra.


Leo pun segera mengangkat tubuh polos Cindy yang dibalut dengan selimut tebal keluar dari kamar tersebut.


Tentu saja tujuan Leo adalah membawa Cindy ke kamar penginapan yang baru saja di sewa oleh mahendra.


Tiba di depan kamar penginapan yang baru, Mahendra pun segera membukakan kunci pintu kamar tersebut.


Dengan perlahan, Leo pun merebahkan tubuh Cindy di atas ranjang yang terlihat lebih baik dari pada di kamar penginapan sebelumnya.


Ternyata Mahendra menyewakan sebuah kamar penginapan yang paling bagus di sana, namun mang sebagus-bagusnya kamar penginapan di sana tak seperti kamar hotel yang sudah Leo siapkan untuk sang istri.


"Terima kasih," kata Leo.


"Sama-sama, aku pulang dulu. Nanti pagi aku akan mengirimkan baju ganti untuk kalian," kata Mahendra terdengar pengertian.


"Ya!" kata Leo seraya terkekeh.


Mahendra pun segera pergi dari sana, setelah kepergian Mahendra, Leo pun langsung mengunci pintu kamarnya.


Lalu, dia pun membuka tuxedo yang masih melekat di tubuhnya dan melemparkannya ke bangku kayu yang berada di pinggir jendela.


Hanya boxer saja yang dia pakai, setelah itu Leo pun langsung ikut merebahkan tubuh lelahnya di samping istri tercintanya.


Untuk sesaat Leo tertegun saat melihat tubuh polos istrinya, tubuh Cindy benar-benar terlihat sangat bagus.


Dadanya bahkan terlihat membusung dan sangat sekal sekali, berbeda dengan milik Caterine. Walaupun terlihat sekal, namun tak seranum milik Cindy.


Milik Cindy bahkan terlihat menantang, membuat milik Leo nampak menggeliat. Apa lagi saat melihat milik Cindy yang terlihat terawat dan polos tanpa rumput liar yang tumbuh.


Rasanya Leo sudah tak sabar ingin mengelus, mencium dan mencicipinya.


Leo pun jadi berpikiran, mungkin karena Cindy masih perawan, masih orisinil. Makanya badannya terlihat sangat bagus, rasanya ingin sekali dia memperkosa istrinya.


Namun, dia sadar jika dia ingin melakukan hal itu dengan sangat lembut kepada istrinya. Leo pun berusaha untuk menahan hasratnya, dia langsung menarik tubuh Cindy kedalam pelukannya.


Dia berusaha memejamkan matanya dengan sekuat tenaga, walaupun rasanya sangat tersiksa.


Namun, Leo tetap berusaha untuk menahan hasratnya. Leo sempat melirik ke arah jam dinding yang berada di kamar tersebut, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam.


Leo terlihat mendesahh pasrah, lalu dia pun mengusap miliknya yang sudah terlihat sesak di dalam sarangnya.


"Sabar ya, Tong. Besok kita tempur, kita masuki goa sempit di sana," ucapnya terlihat mengenaskan.


Setelah mengatakan hal itu, Leo pun berusaha untuk memejamkan matanya. Sesekali dia mengusap perut rata istrinya dan tak lama kemudian Leo pun ikut terlelap dalam mimpinya.


Jika Leo sedang asik dalam buayan mimpinya, Deanandra kini sudah di bawa ke penangkaran buaya milik keluarga Caldwell, sesuai dengan perintah dari Tuan Arley.


Dia sengaja meminta anak buahnya untuk memberikan pelajaran berharga pada lelaki yang berani mengusik anak buah kesayangannya.


Mereka terlihat mengikat tangan dan kaki Deanandra dalam keadaan duduk pada tiang yang ada di pinggir kolam buaya.


Para buaya langsung terlihat melompat-lompat, mereka berusaha menerkam Deanandra. Sayangnya tak akan bisa, karena terhalang besi pembatas yang menjulang tinggi di sana.


Anak buah Tuan Arley pun dengan segaja membawa banyak ayam untuk mereka lemparkan ke kolam buaya.


Satu lemparan pertama, seekor ayam melayang ke dalam kolam berisikan ribuan buaya tersebut.


Suara riuh pun langsung terdengar karena mereka saling berebut makanan yang datang, Deanandra yang mendengar riuh di telinganya pun langsung terbangaun.


Alangkah kagetnya saat dia melihat banyaknya buaya yang terlihat saling berebutan makanan.


Melihat Deanandra yang terbangun, salah satu anak buah Tuan Arley pun langsung tersenyum.


Kemudian, dia pun kembali mengambil ayam dan melemparkannya ke dalam kolom buaya tersebut.


Suara riuh kembali terdengar, para buaya tersebut melompat-lompat seakan hendak menerkam Deanandra.


Dia pun langsung berteriak ketakutan, bahkan dia sampai terkencing di celana. Anak buah Tuan Arley pun langsung tertawa terbahak-bahak melihat akan hal itu.


"Lepasin gue brengsek!" makinya dengan suara bergetar.


"Ck! Dalam mode takut saja masih berani berteriak," kata Bodyguard A.


Bodyguard yang lainnya pun kembali mengerjai Deanandra, dia melempar satu ayam dan membuat para buaya tersebut melompat-lompat memperebutkan ayam tersebut.


Deanandra kembali berteriak dengan histeris, setelah lemparan yang kelima, Deanandra terlihat berteriak lebih kencang dan tak lama kemudian dia pun langsung pingsan dalam ketakutan.


"Cemen!" kata Bodyguard C, lalu dia memoyor kepala Deanandra.