
Pagi ini, Devano, sudah terlihat sangat tampan. Dia ingin segera pergi ke rumah Eliza, dia sudah berencana akan mengajak Eliza, ke sebuah pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota.
Devano sengaja menyempatkan diri untuk pergi ke pusat perbelanjaan, karena hari ini adalah hari Minggu. Menurut Devano, hari ini adalah hari yang paling luang.
Devano, juga berpikir. Jika Eliza, sudah lama tidak pergi jalan-jalan. Jadi, selain membeli cincin pertunangan dan membelikan gaun, Devano juga ingin mengajak Eliza jalan-jalan.
Tiba di rumahnya Eliza, Devano, disambut baik oleh kedua orang tua Eliza.
"Pagi, Nak Devan." sapa Nyonya Berlin.
Devano pun langsung menjawab," Pagi, Tante."
" Tumben pagi-pagi sekali sudah ke sini, ini kan weekend. Kamu, enggak istirahat?" tanya Tuan Bram.
" Justru karena ini hari Minggu Om, Tante, saya mau mengajak Eliza, jalan-jalan ke mall. Boleh, nggak?" tanya Devano.
" Tapi Eliza, belum bisa berjalan. Dia, pergi ke mana saja, masih dibantu dengan menggunakan kursi roda." jelas Tuan Bram.
" Tidak apa, Om. Menggunakan kursi roda pun tak apa-apa, aku kan bisa mendorongnya." jawab Devano.
"Kalau begitu, kamu, tanyakan sendiri saja pada Eliza. Dia, mau pergi atau nggak sama kamu?" ucap Nyonya Berlin.
Senyum di wajah Devano, pun langsung mengembang." kalau begitu, saya, permisi dulu Om, Tante. Saya mau ke kamar Eliza, dulu." pamit Devano.
Tuan Bram dan nyonya Berlin pun langsung menganggukkan kepalanya, sedangkan Devano, langsung pergi menuju kamarnya Eliza.
Saat sampai di kamar Eliza, Devano, melihat jika Eliza, sedang menyisir rambutnya di depan meja rias. Devano pun langsung menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
"Kamu, sangat cantik, Sayang." puji Devano.
Eliza, nampak tersipu. Dia begitu senang karena mendapat pujian dari Devano, tapi sedetik kemudian Eliza, pun sangat kaget karena tiba-tiba saja Devano, mengecup pipinya.
Eliza, langsung mendorong wajah Devano, agar menjauh. Devano, pun langsung terkekeh mendapatkan perlakuan seperti itu dari kekasihnya.
"Mas, kenapa datangnya pagi-pagi banget? " tanya Eliza.
"Kangen," jawab Devano.
Devano langsung mengangkat tubuh Eliza, dan mendudukkannya di atas kasur. Devano pun mengusap kaki Eliza yang terlihat sudah mulai membaik.
Eliza, nampak tersenyum mendapatkan perlakuan tersebut. Dia, sangat senang karena kini Devano, terlihat lebih manis padanya.
"Mas, kamu kenapa sih? Kenapa jadi terlihat manis seperti ini?" tanya Eliza.
Devano, terlihat kaget karena Eliza, memanggilnya Mas.
"Coba katakan lagi, tadi kamu bilang apa?" titah Devano.
Yang ditanya bukannya menjawab, tapi malah langsung tersipu malu. Devano, pun langsung terkekeh.
Devano, mengangkat dagu Eliza, tatapan mereka pun langsung bertemu.
"Katakan, Sayang." pinta Devano.
"Mas, Mas Devano." ucap Eliza, menurut.
"Aku, suka panggilan itu. Kalau begitu tiap hari kamu panggil aku, Mas. Jangan Kakak, karena aku bukan Kakak kamu. Tapi aku calon suami kamu,"ucap Devano.
"Iya, Mas. Terus, untuk apa pagi-pagi Mas datang ke rumahku? Aku ngga yakin aja kalau cuma kangen," ucap Eliza.
"Aku ingin mengajakmu pergi, sayang. Kita harus membeli cincin untuk pertunangan kita nanti dan aku mau kamu yang memilihnya, agar aku tidak salah memilih cincin." ucap Devano.
Eliza nampak terdiam, dia masih mempertimbangkan ajakan, Devano.
Eliza, masih terdiam. Tapi sedetik kemudian, dia pun berkata pada Devano.
"Mas, kaki aku masih sakit. Aku tidak mungkin pergi berbelanja dengan kaki sakit seperti ini," ucap Eliza.
"Kamu tenang saja, Sayang. Aku tidak akan membiarkan kamu berjalan, aku akan menggunakan kursi roda, agar kamu bisa bergerak dengan leluasa. Dan aku, tinggal mendorong kamu saja. Bagaimana, mau?" tanya Devano.
Eliza pun nampak menganggukan kepalanya, dia merasa senang bisa jalan bersama Devano. Walaupun nanti dia akan menggunakan kursi roda untuk menemani, Devano.
Pukul sepuluh pagi, mereka pun sudah berangkat menuju pusat perbelanjaan di pusat kota.
Devano, dengan setia mendorong kursi roda milik Eliza, sampai di toko perhiasan, Devano pun langsung mengajak Eliza, untuk memilih cincin pertunangan mereka.
Eliza, pun memilih sepasang cincin putih yang terlihat sangat cantik untuk acara pertunangan mereka. Devano, nampak tersenyum, karna dia sangat suka dengan pilihan Eliza.
Ternyata Eliza, paham pikirnya. Jika lelaki muslim, tidak boleh menggunakan cincin emas.
Selsai membeli cincin, mereka pun langsung menuju butik ternama yang ada di pusat perbelanjaan tersebut, Eliza, nampak bahagia. Karma Devano, benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik.
Bahkan selain membeli gaun untuk pertunangan mereka, Devano, juga membelikan gaun-gaun yang sangat cantik untuk Eliza.
Setelah selesai berbelanja, Devano, pun meminta pemilik toko untuk mengantarkan semua belanjaannya ke rumahnya. Dia, tidak mungkin membawa belanjaan tersebut karena dia harus mendorong Eliza.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, akhirnya Devano, pun memutuskan mengajak Eliza, ke ke sebuah Resto yang ada di sana.
Karena Eliza, sangat menyukai makanan Jepang, Devano pun mengajak Eliza ke sebuah Resto Jepang yang ada di sana.
Baru saja Devano, dan Eliza, masuk ke dalam Resto tersebut, Devano, merasa ingin buang air kecil. Devano pun meminta izin pada Eliza, untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
"Sayang, Mas, ke kamar mandi dulu. Kamu tunggu di sini, kalau mau perlu apa-apa minta tolong sama pelayan." ucap Devano.
Eliza nampak menganggukan kepalanya," Iya, Mas."
"Gadis, baik." ucap Devano seraya mengacak pelan rambut Eliza.
Eliza, nampak cemberut karena rambutnya sedikit berantakan, namun Devano malah tertawa kecil saat melihat tingkah Eliza yang sangat menggemaskan baginya.
Devano, pergi menuju toilet. Sedangkan Eliza, telihat ingin pindah dari kursi rodanya.
"Pegel banget," keluh Eliza.
Eliza, berusaha untuk bangun dari kursi rodanya. Tangan nya berpegangan pada ujung meja, saat dia sudah bisa berdiri dengan tegak, senyumnya pun langsung mengembang.
Tapi sayangnya, itu tak berlangsung lama. Senyum Eliza langsung memudar saat tiba-tiba saja ada yang tak sengaja menyenggol Eliza, Eliza hampir saja terjatuh.
Beruntung ada seorang wanita yang dengan sigap menangkap tubuh Eliza, dari belakang. Eliza, langsung berpegangan pada tangan wanita tersebut.
Wanita itu pun langsung membantu Eliza berdiri, "Hati-hati, kalau perlu bantuan jangan sungkan."
"Terimakasih kak," ucap Eliza.
Wanita itu pun nampak tersenyum," Sama-sama, kamu sendirian? "
"Sama calon suami aku," jawab Eliza.
"Oh, kalau begitu saya tinggal ya.. Saya, sudah selsai soalnya." ucapnya.
"Iya Kak, silahkan. Terimakasih, sekali lagi." ucap Eliza tulus.
Perempuan itu nampak tersenyum, lalu dia pun langsung pergi dari sana bersama dengan teman-temannya.
Selepas kepergian perempuan itu, Devano pun datang dan langsung menghampiri Eliza. Devano nampak kaget karena melihat Eliza, yang sudah berpindah dari kursi rodanya.