Who Is Adam?

Who Is Adam?
Makan Siang Bersama



Sampai di depan rumah, Sisil dan Adam langsung mengambil belanjaan yang di letakan Kang Ojek di atas bangku kayu depan rumah Sisil.


Sisil langsung masuk dibantu oleh Adam, mereka langsung ke dapur dan merapihkannya ke dalam lemari pendingin.


Walaupun terlihat kecil dan warnanya sudah terlihat pudar, tapi masih berpungsi dengan baik.


Waktu menunjukkan pukul 11 siang, Adam yang niatnya hendak pulang, ditahan oleh Sisil. Bukannya karena apa, Sisil ingin mengajak Adam untuk makan siang bersama.


Hal itu dia lakukan sebagai ucapan terima kasihnya kepada Adam, karena Adam telah memborong kuenya dan memeberikan uang yang banyak untuk Sisil.


Awalnya Sisil sempat ragu untuk mengajak Adam masuk ke dalam rumahnya, takutnya banyak orang yang menyangkanya melakukan hal yang tidak-tidak.


Tapi, Sisil pun berpikir positif. Hanya memasak bersama dan makan bersama, sepertinya tak ada salahnya.


Lagi pula, di dekat rumahnya saja ada kost-kostan khusus wanita malam. Mereka tak pernah mendapatkan teguran, bahkan mereka bisa dengan bebas keluar masuk dengan lelaki yang bukan mahram mereka.


Sisil pun dengan penuh semangat memasak makanan untuk Adam, Adam pun tak tinggal diam. Dia membantu Sisil yang sedang memasak untuknya.


Adam membantu memotong sayuran, mengupas bawang dan mengirisnya. Adam memang seorang lelaki, tetapi dia pernah tinggal di luar negeri. Hidup berjauhan dari orangtua, membuat Adam menjadi mandiri.


Adam bisa memasak, Adam bisa merapihkan rumah, Adam bisa mencuci dan semua pekerjaan rumah dia bisa kerjakan sendiri. Satu jam bergelut dengan peralatan dapur, membuat Adam dan Sisil bisa menyelsaikan masakannya.


Tumis jamur, udang pedas manis, tahu goreng dan sambel terasi sudah terhidang di atas meja makan. Membuat Sisil dan Adam berdecak senang, karena mereka telah menyelsaikan acara masak memasak walaupun membuat tubuh mereka kepanasan.


Karena memang, di dapur kecil milik Sisil tak ada AC atau yang namanya kipas angin. Hanya ada jendela kecil, yang berfungsi sebagai pertukaran udara di dapur itu.


Sisil hanya mempunyai satu kipas angin saja, itu juga dia gunakan di kamar tidurnya.


Adam dan Sisil langsung duduk bersama di meja makan, mereka sudah bersiap untuk makan siang bersama.


Baru saja Adam mengambil piring dan mau mengendok nasi, adzan dzuhur sudah berkumandang. Adam pun menghentikan gerakannya tangannya.


Lalu, Adam pun mengajak Sisil untuk melakukan salat dzuhur berjamaah.


"Sil, kayaknya kita shalat dulu aja deh, baru setelah itu kita makan siang. Kayaknya, bakalan lebih tenang." Mendengar ucapan Adam, Sisil pun langsung tersenyum senang. Karena ternyata, Adam merupakan lelaki yang taat beribadah.


"Boleh, Tuan. Kalau begitu, saya ambilkan sarung dan baju koko punya Almarhum Bapak saya. Nanti kita salat berjamaahnya, di ruang tengah saja." Sisil langsung beranjak dari ruang makan menuju kamarnya.


Dia mengambil mukena dan juga sarung beserta baju koko untuk Adam. Sedangkan Adam, langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Sisil sengaja mengajak Adam untuk melakukan shalat berjamaah di ruang tengah, karena memang di sana tidak ada sofa sama sekali. Jadi, jika Sisil ingin menonton TV, Sisil hanya cukup menggelar tikar dan tiduran di sana.


Saat Sisil tiba di ruang tengah, ternyata Adam pun sudah berdiri di sana. Sisil pun segera memberikan sarung dan juga baju koko kepada Adam.


Adam pun langsung bergegas untuk memakainya, sedangkan Sisil pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Sisil sempat menoleh kearah Adam, yang sedang membuka bajunya.


Mata Sisil seketika membulat sempurna, Bahkam Sisil sempat menelan ludahnya berkali-kali saat melihat tubuh kekar Adam yang terlihat berotot.


Tiba-tiba saja, jantung Sisil berdetak dua kali lebih cepat. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi sambil memegang dadanya.


"Astagfirullah, badannya itu loh. Beh, kalau bayi aku pasti udah ileran. Perut nya juga, udah kaya roti sobek. Aduh, mata ku jadi ternoda." Sisil bukannya berwudhu malah sibuk dengan pikirannya.


"Dipakai dulu Sil, mukenanya. Biar bisa cepat shalat nya, aku sudah lapar." Tita Adam.


Sisil dengan cepat memakai mukenanya dan setelahah itu, merekapun shalat berjamaah.


10 menit kemudian, mereka pun selesai melakukan shalat dzuhur berjamaah. Setelah itu, mereka pun makan bersama.


Tentunya setelah Adam mengganti bajunya kembali, tak lupa, Sisil juga meminta Adam untuk mengganti baju di dalam kamar mandi.


Karena Sisil tak mau, jika matanya harus kembali terkontaminasi oleh kemolekan tubuh Adam. Sisil mang masih perawan, boro-boro bobo bareng cowok.


Megang otot perut cowok yang terlihat menggoyahkan iman pun, dia belum pernah.


Adam terlihat begitu menikmati makanan yang Sisil buat, dia merasa sangat cocok dengan masakan Sisil.


Bahkan menurutnya, apa pun makanan dan minuman yang dibuat oleh Sisil, semuanya terasa pas di lidah Adam.


Apa lagi saat mencolek sambel terasi buatan Sisil, menurut Adam sangatlah enak. Masakannya hampir sama dengan Laila, ibunya. Sederhana, tapi selalu enak.


"Alhamdulillah, masakan kamu selalu enak. Besok jangan lupa masakin aku daging rica-rica, sama tumis brokoli." Pinta Adam.


"Siap, Tuan. Titah mu adalah hal wajib yang akan selalu aku kerjakan," jawab Sisil.


Sisil langsung berdiri dan membungkuk hormat, tepat di depan Adam.


Adam pun tersenyum, karena Sisil bertingkah dengan sangat lucu di matanya.


"Kalau begitu, aku pulang dulu." Pamit Adam.


"Jangan lupa cuci tangan yang bersih, Tuan." Sisil mengingatkan Adam yang baru saja makan dengan sambel terasi.


"Kamu benar," jawab Adam.


Adam, langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci tangannya dengan sabun. Agar tangannya bersih, setelah selesai, Adam pun langsung berpamitan kepada Sisil.


Tak lupa, Adam juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Sisil. Karena hari ini, dia sudah mau menghabiskan harinya dengan Adam.


Yang paling penting, Sisil sudah memasakkan makanan yang begitu enak menurut Adam.


Adam kembali mengayuh sepedanya, karena hari sudah menunjukkan pukul 2 siang. Dia takut, jika ibunya akan mencarinya dan menghawatirkan nya, karena Adam juga lupa membawa ponselnya.


Benar saja, yang Adam khawatirkan. Saat Adam masuk kedalam rumah, dia langsung diberondong banyak pertanyaan oleh ibunya.


Arkana yang berada di sana pun, langsung ikut bertanya kepada putranya. Karena Adam tak biasanya pergi tanpa kabar.


Sedangkan Al, dia langsung menghampiri Adam dan mengendus bau tubuh Adam.


"Badan Kakak, bau terasi. Hayo, Kakak habis ngapain coba?" tanya Al dengan tatapan mata yang mengintimidasi.