Who Is Adam?

Who Is Adam?
Terpisah Jarak



Setelah peresmian pemimpin perusahaan baru, Sisil lebih sering kedatangan Pak Hartono. Tentunya untuk mendapatkan tanda tangan dari pemilik perusahaan Gunandari yang sesungguhnya.


Karena memang banyak project baru yang mereka harus tangani, apa lagi setelah perusahaan Caldwell menjadi salah satu investor terbesar di perusahaan Gunandari. Membuat banyak perusahaan lain yang melirik perusahaan Gunandari.


Sisil sekarang terlihat lebih sibuk, selain belajar berbisnis. Dia juga harus melakukan perawatan dan juga melakukan persiapan untuk acara pernikahannya.


Sebenarnya dia tak mau terlibat dalam urusan bisnis, akan tetapi Tuan Arley mengharuskan Sisil untuk mempelajari bisnis. Bukannya apa, setidaknya dia harus tahu dengan apa yang dia kelola, walaupun dia tak terjun secara langsung.


Hal itu membuat Adam merasa sedih, karena ternyata setelah Sisil diangkat menjadi pemimpin perusahaan baru, dia tak kembali pulang ke rumah Laila.


Melainkan di bawa pulang ke rumah Tuan Arley, karena menurut Tuan Arley, Sisil harus dipingit. Tak baik bukan, jika wanita yang akan menikah, harus tinggal satu rumah dengan calon pengantin prianya.


Adam awalnya sempat protes, akan tetapi keputusan Tuan Arley tak terbantahkan. Walaupun begitu, Adam masih saja suka datang ke rumah Tuan Arley dan meminta untuk bertemu dengan Sisil.


Walupun Tuan Arley tak pernah mengizinkan Adam untuk bertemu dengan Sisil, dia terus berusaha untuk bertemu dengan Sisil. Dia berharap jika Tuan Arley akan berbaik hati dengan mengizinkanmya bertemu dengan Sisil.


Seperti hari ini, tiga hari menuju hari H Adam datang ke rumah Tuan Arley dengan membawa sebuket bunga dan coklat kesukaan Sisil.


"Nini, tolong izinkan Adam untuk ketemu sama Sisil. Adam rindu," ucap Adam memelas.


Adisha terlihat memutar bola matanya, dia seakan sudah cape meladeni Adam yang tiap hari datang. Dia merengek seperti anak kecil meminta bertemu dengan Sisil.


"Ya ampun, Sayang. Baru juga tiga hari tak bertemu, kamu sudah kelabakan. Lagian tiga hari lagi kalian menikah, kalian cukup bertemu saja di hotel pas akan ijab kabul. Oke?" kata Adisha menjelaskan.


"Ah, Nini sama kaya Grandpa. NINI PELIT!" kesal Adam.


"Ck! Sabar, Sayang. Kalau udah sah, kamu boleh ngurung dia seharian di dalam kamar. Kamu boleh lakuin apa pun yang kamu mau, udah ngga dosa." Kata Adisha.


"Aku cuma ketemu Sisil sebentar saja, kangen banget aku tuh. Tiga hari kan ngga ketemu, Ayolah Nini." Adam menggoyang-goyangkan tangan Adisha sepertianak kecil yang sedang merajuk.


Haidar yang melihat kelakuan Adam, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya lelaki yang sudah berumur bertingkah konyol seperti itu, pikirnya.


"Elu berisik, Bang. Kak Sisil ada di taman belakang," kata Haidar yang tak tahan dengan rengekan keponakannya itu.


"Terima kasih, paman kecil." Kata Adam.


Adam langsung berlari menuju taman belakang dengan membawa bunga dan coklat, sedangkan Adisha hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Adisha pun pasrah, toh Adam sudah besar. Tak mungkin pikirnya akan berbuat macam-macam, lagi pula mereka berduaan di taman belakang. Pasti akan ada pelayan yang lalu lalang.


Saat tiba di taman belakang, Ada. melihat Sisil sedang bermain dengan ponselnya. Adam langsung menghampiri Sisil dan duduk tepat di samping kekasih hatinya.


"Mas, kok di sini?" tanya Sisil heran, bukankah dia sedang dipingit. lalu kenapa Adam bisa menemuinya.


Tanpa basa basi, Adam langsung memeluk Sisil dan mengecupi puncak kepala kekasih hatinya itu.


"Mas, rindu, Sayang. Tiga hari ngga ketemu rasanya kok lama banget, Mas ngga bisa tahan lagi." Adam mengeratkan pelukannya, lalu kembali menciumi kening Sisil.


Sisil tersenyum mendengar penuturan Adam, dia berusaha melerai pelukannya. Lalu menatap Adam, dia bisa melihat rasa rindu yang menggebu dari raut wajah Adam.


"Kamu kenapa tertawa?" tanya Adam.


Sisil langsung menghentikan tawanya, kemudian dia meraih coklat dan sebuket bunga dari tangan Adam.


"Terima kasih, Mas. Aku suka coklat dan bunganya," ucap Sisil seraya mengatupkan mulutnya menahan tawa.


Dia tak menyangka, jika lelaki pendiam seperti Adam juga memiliki hasrat yang menggebu.


"Mau di makan sekarang coklat'nya?" tanya Adam.


"Boleh," jawab Sisil.


Adam langsung membuka coklat'nya, lalu menyuapkannya ke mulut Sisil. Belum sempat Sisil menutup mulutnya, Adam sudah mengambil coklat tersebut dari bibir Sisil.


Bukan dengan tangannya, melainkan dengan bibirnya. Sisil sampai melotot tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Adam. Sisil berusaha untuk mendorong wajah Adam, Adam malah dengan cepat menangkap tangan Sisil dan memperdalam ciumannya.


Rasa manis dari coklat tersebut, membuat tautan bibir mereka terasa lebih manis. Sisil sebenarnya sangat kesal, tapi tak bisa dia pungkiri dia sangat suka dengan apa yang Adam lakukan.


Walaupun terasa... sedikit kaku, wajarlah ya... Adam memang tak pernah pacaran. Apa lagi untuk hal ciuman, beh... Adam belum tahu rasanya dan cara bermainnya seperti apa.


Dia sudah kalah dengan Al, yang usianya baru lima belas tahun. Karena Al sudah jago dalam hal itu, pastinya karena dia juga sering berpacaran dengan wanita yang lebih dewasa darinya.


Bahkan, untuk saat ini saja. Al sedang berpacaran dengan anak kuliahan. Al bener-bener titisan Tuan Arley kalau dalam hal merayu wanita, untungnya Al tidak pernah kelewat batas. Hanya sampai tahap ciuman saja.


"Ehm.... "


Suara deheman yang begitu keras mengagetkan Adam dan Sisil, Adam langsung melepaskan tautan bibirnya. Sisil dan Adam langsung terlihat salah tingkah, apa lagi saat melihat Tuan Arley yang kini berada tepat di samping mereka.


"Bagus! Bagus sekali ya? Baru tiga hari tak bertemu kamu sudah seperti angsa, main sosor aja. Inget... bentaran lagi juga halal. Ngga bisa nunggu tiga hari lagi?"


Adam terlihat menundukan wajahnya, dia sangat takut dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Arley.


"Adam!" sentak Tuan Arley.


"Yes, Grandpa." Jawab Adam seraya mendongakkan kepalanya.


"Sabar, Boy. Tiga hari lagi, sekarang pulanglah. Aku tidak mau kalau sampai kamu malah ngasih dp dulu sebelum nikah," ucap Tuan Arley.


"Iya, Grandpa." Dengan lesu Adam langsung bangun, dia hendak pergi dari sana.


Sebelum dia benar-benar melangkahkan kakinya, dia menghampiri Sisil dan langsung mengecup bibir Sisil. Setelah itu, dia langsung berlari dari sana.


Tentu saja dia tak perlu menunggu Grandpa'nya untuk marah-marah. Sisil langsung melotot tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Adam, sedangkan Tuan Arley hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Dasar bocah nakal!" rutuknya.