Who Is Adam?

Who Is Adam?
Noah Oliver Callweld



Ketegangan yang terjadi di ruang persalinan tersebut tak berlangsung lama, karena 30 menit kemudian Sisil bisa melahirkan seorang bayi yang sangat tampan dan juga menggemaskan.


Bayi dengan bobot 4,5 kg dan panjang 55 cm telah lahir ke dunia yang fana ini. Sisil terlihat begitu bangga bisa melahirkan bayi yang terlihat begitu gembil secara normal.


Padahal tadinya dia merasa tidak akan kuat melahirkan bayi tersebut, namun berkat dukungan dari Adam, dokter dan para suster yang ada di ruangan tersebut, Sisil pun merasa semakin semangat untuk segera bertemu dengan baby-nya.


"Terima kasih, Sayang. Karena kamu telah melahirkan seorang bayi yang sangat tampan untukku," ucap Adam seraya mengecup kening istrinya.


"Sama-sama, Mas. Terima kasih juga karena Mas sudah menemani aku saat melahirkan, padahal aku sempat was-was kalau Mas tidak akan bisa menemaniku," ucap Sisil dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Demi kalian apa pun akan aku tinggalkan, jangan pernah berkata seperti itu," ucap Adam.


"Ya, suamiku sayang," ucap Sisil.


"Ehm, Babynya sudah dibersihkan. Mau diadzani dulu atau mau enen dulu?" tanya Dokter.


"Diadzani saja dulu," ucap Adam.


Dokter nampak mengangguk, kemudian dia pun memberikan baby tampan tersebut kepada Adam. Dengan sangat hati-hati Adam pun menggendong baby tampan tersebut.


Lalu, dia pun mengumandangkan adzan di telinga kanannya. Setelah itu, dia pun melafalkan iqamah di telinga kiri putranya.


Air matanya nampak menetes, rasa haru, rasa bangga dan rasa senang semua bercampur aduk menjadi satu.


Dia tidak menyangka jika dia sekarang sudah menjadi seorang ayah, dia merasa jika hidupnya terasa begitu sempurna.


Adam lalu menyerahkan baby tampan tersebut ke pangkuan istrinya untuk disusui, karena baby tampan tersebut terlihat akan menangis, bibirnya pun nampak mencari sumber makanannya.


"Uuuh, Cayangnya Ibu mau enen ya?" tanya Sisil seraya menoel pipi gembil putranya.


Sisil nampk membuka baju bagian atasnya, lalu baby tampan yang berada di pangkuan Sisil pun mulai mencari sumber makanannya.


Sisil terlihat meringis kala baby tampan tersebut mulai menghisap sumber makanannya, dia bahkan sampai mencengkram tangan Adam dengan kuat.


Adam terlihat khawatir, lalu dia pun bertanya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Adam.


"Sakit, Mas," ucap Sisil.


Adam lalu memalingkan wajahnya ke arah dokter, kemudian dia pun berkata.


"Dok, istri saya berkata jika menyusui itu sakit. Apakah itu wajar?" tanya Adam.


"Sangat wajar, karena ini baru pertama kalinya untuk Nyonya Sisil. Setelah tiga hari rasa sakitnya akan berangsur baik," jawab Dokter.


"Tapi, Dok. Saat saya bertanya kepada Bunda, katanya dia tidak pernah merasakan sakit saat menyusui," kata Sisil.


Ya, Sisil memang sering bertanya-tanya kepada Bunda Laila saat masa kehamilannya. Karena dia tidak ingin salah dalam mengurus anak-anaknya nanti.


Dokter pun kembali tersenyum, kemudian dia pun berkata.


"Tidak semua perempuan mengalami sakit saat menyusui, semua tergantung kondisi tubuh pada perempuan tersebut. Tergantung cara menyusuinya juga, benar atau salah. Posisi duduk kita yang salah saja, bisa membuat rasa sakit yang teramat kala kita menyusui bayi," jelas Dokter.


"Oh, terima kasih, Dok. Atas penjelasannya," ucap Sisil.


"Sama-sama," jawab Dokter.


Tak lama kemudian, Sisil pun dipindahkan ke ruang perawatan. Lalu, Laila, Arkana dan semua keluarga nampak hadir untuk menyambut kedatangan anggota keluarga baru tersebut.


Eliza dan juga Devano nampak datang untuk menjenguk putra Adam, tentunya bersama dengan ketiga putrinya.


Tanpa Adam duga, tuan Seno dan nyonya Alina pun datang untuk menjenguk cicit mereka. Mereka bahkan dengan tak sabarnya langsung menggendong putra Adam secara bergantian.


Beruntung baby tampan itu sangat anteng, dia tertidur dengan lelap walaupun banyak tangan yang menggendongnya.


"Sayang, siapa nama putra tampanmu ini?" tanya Tuan Arley.


"Noah Oliver Callweld," jawab Adam.


"Artinya?" tanya Tuan Seno.


"Lelaki yang tampan dan kreatif," jawab Adam.


"Sama seperti aku," celetuk Devano.


"No, tentu saja tampan seperti aku." Arkana langsung merangkul pundak Devano.


"Ya ampun, Kakek kamu tak mau mengalah, Nak," ujar Devano.


"Tenang saja, Ayah. Di rumah Ayah tetaplah lelaki yang paling tampan," ucap Alicia.


"Terima kasih putri cantikku," ucap Devano seraya memonyongkan bibirnya.


Alicia hanya tersenyum geli melihat tingkah ayahnya tersebut, sedangkan yang lainnya terlihat menertawakan tingkah Devano.