Who Is Adam?

Who Is Adam?
Pindah Ke Apartemen



Setelah terjadi perdebatan kecil antara Al dengan dirinya, kini Adam sedang merebahkan tubuhnya. Dia merasa cape dan mengantuk.


Padahal hanya joging, pergi ke pasar tradisional dan memasak bersama dengan Sisil. Tapi, rasanya sangat melelahkan.


"Kamu cantik, Sil. Padahal cuma pakai kaos sama celana trening, tapi kamu terlihat manis. Sangat manis, aku jadi betah berlama-lama sama kamu." Adam mengambil ponselnya.


Dia memandang wajah Sisil di galery ponselny, Adam mengambil foto Sisil secara diam-diam dengan berbagai pose.


"Kamu lucu, aku suka." Adam mengelus galery ponselnya, seolah sedang mengelus wajah Sisil.


Setelah puas memandang wajah Sisil, Adam pun segera memejamkan matanya. Tak perlu menunggu waktu yang lama, dia langsung tertidur dengan pulas.


*/*


Hari pun telah berganti, hari senin pun telah menyapa. Di mana banyak orang yang mengatakan, i hate Monday. Tapi tidak dengan Adam, dia tetap suka dalam bekerja, walaupun pada hari senin.


Adam tetap semangat dalam bekerja, begitu pun dengan hari selasa, rabu, kamis dan Jum'at merupakan hari yang penuh semangat untuk Adam bekerja.


Hingga hari pun sudah kembali ke hari sabtu, di mana banyak muda-mudi yang pergi untuk berkencan, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan bahkan menghabiskan untuk waktu berlibur dan kadang malah tidur seharian.


Sedangkan Adam, dia sudah bersiap untuk pindah ke apartemen miliknya. Bukan tanpa alasan, apartemen milik Adam memang sangat dekat dengan kantor BAC Corp.


"Sayang, kamu beneran mau ninggalin, Ibu?" tanya Laila.


Laila terlihat sedih, karena Adam memutuskan untuk tinggal sendiri.


"Bu, aku tak meninggalkan kalian. Aku hanya ingin mandiri, dan tentunya biar lebih dekat dengan kantor Grandpa." Adam duduk di samping Laila, lalu memeluk Ibunya dengan erat.


Arkana yang melihat kesedihan di mata istrinya pun langsung menghampiri Adam dan duduk di sampingnya.


"Boy, apa kamu sudah memikirkannya dengan baik?" tanya Arkan.


"Sudah, Ayah. Lagi pula, kalian bisa datang kapan pun ke apartemen. Kalau tidak, aku yang akan datang kalau hari libur." Adam mengecupi wajah Laila.


Laila langsung tersenyum, karena Adam masih saja seperti dulu. Selalu berusaha merayunya dengan mengecupi wajahnya, jika ada kemauan yang belum terpenuhi.


"Baiklah, terserah padamu saja. Kami akan selalu mendukung kamu, Sayang." Kata Laila pada akhirnya.


Laila sadar jika Adam sudah besar, dia juga berhak menentukan pilihannya.


"Adam sayang, Ibu." Adam makin mengeratkan pelukannya.


Laila pun langsung mengusap lembut punggung Adam, rasanya memang berat. Tapi, dia tak bisa menghalangi jalan yang sudah di pilih oleh Adam.


"Sesekali menginaplah, jangan terlalu asik di apartemen." Pinta Laila.


"Siap, Bu." Jawab Adam.


Setelah berpamitan pada ibunya, Adam langsung melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya. Hanya kotak kecil berisi Sweter pemberian dari Pricilia, yang dia bawa ke apartemen.


Karena di apartemen milik Adam, memang sudah komplit semua. Itu semua bukan karena pekerjaannya jin ya every badeh, tapi karena Tuan Arley yang menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan semua keperluan cucunya.


Arkana bukannya tak mau menyiapkan apa pun, hanya saja Tuan Arley berdalih, jika semua yang menyangkut dengan keperluan Adam, adalah tanggung jawabnya.


Itu semua, karena Adam yang sudah mau mengelola bisnis Tuan Arley.


Sampai di apartemen, Adam langsung masuk dan menyimpan kotak yang dia bawa di atas meja ruang tamu.


Adam melirik jam mewah yang melingkar di tangannya, waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Adam pun berinisiatip untuk menelpon Sisil, dia ingin meminta Sisil untuk datang dan membuatkan makan siang untuknya.


Tanpa membuang waktu, Adam pun langsung menelpon Sisil dan Adam pun merasa sangat beruntung. Karena Sisil mau datang saat itu juga, padahal perjanjiannya mulai hari Senin Sisil baru akan memasak di apartemen Adam.


Sisil sudah sampai di apartemen milik Adam dengan memakai sepeda kesayangannya, dia segera menghampiri security untuk menanyakan di mana tempat Adam.


"Permisi, Pak. Saya mau ke tempatnya Tuan Adam Putra Caldwell," ucap Sisil sopan.


Tapi, saat melihat plastik berisi sayuran di tangannya, Pak Salim berpikir, jika Sisil mungkin adalah pembantunya Adam.


"Neng, mau masak buat Den Adam ya?" tanya Pak Salim.


Sisil pun langsung tersenyum, Dia pikir security tersebut akan mengusirnya. Tetapi, security tersebut malah tersenyum dan menyapa Sisil dengan baik.


"Iya, Pak. Saya mau masak buat, Tuan Adam." Jawab Sisil cepat.


Mendengar jawaban dari Sisil, Pak Salim pun langsung menyebutkan di lantai mana Adam tinggal. Dia juga memberitahukan nomor apartemennya berapa.


Dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya, Sisil langsung melangkahkan kakinya menuju apartemen mereka Adam. Saat sudah tiba di depan Apartemen Adam, Sisil pun langsung mengetuk pintu apartemen milik Adam.


Tapi, pintunya tak kunjung dibuka. Sisil pun jadi penasaran, padahal Adam sendiri yang menyuruh Sisil agar cepat datang.


Sisil terlihat hendak mengambil ponselnya, dia akan menelpon Adam.


Tepat disaat Sisil akan menelpon Adam, Marta keluar dari dalam apartemen miliknya. Dia begitu penasaran saat melihat Sisil yang sedang berdiri tepat di depan Apartemen milik Adam.


Mharta langsung menghampiri Sisil dan langsung bertanya kepadanya.


"Hai, kamu siapa?" tanya Mharta sambil menatap Sisil dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Saya Sisil, Nona. Saya di suruh Tuan Adam, buat masak. Tapi sudah dari tadi pintunya saya ketuk, Tuan Adam, tak kunjung membukanya." Jawab Sisil.


Mharta langsung tersenyum, dia mengira Sisil adalah pacarnya Adam. Ternyata, hanya pembantunya, pikirnya.


"Oh, mungkin. dia sedang ke kamar mandi." Kata Mharta.


Ceklek!


Pintu pun terbuka, nampaklah Adam yang langsung menyapa Sisil.


"Hai, Sil. Maaf, tadi aku habis dari kamar mandi." Adam langsung mengambil blanjaan dari tangam Sisil.


Dia menuntun Sisil untuk masuk ke dalam apartemen miliknya, lalu menutup pintunya tanpa menatap Mharta sedikitpun.


Mharta terlihat kesal karena merasa diabaikan, padahal dia sudah tersenyum dengan sangat manis. Sialnya, Adam tak meliriknya sama sekali.


Sedangkan Adam langsung mengajak Sisil, untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Duduk dulu, Sil. Aku ke kamar dulu bentar, mau ganti baju." Pamit Adam.


Sisil hanya menganggukan kepalanya, tanda mengiyakan. Selepas kepergian Adam, Sisil pun memperhatikan apartemen milik Adam. Terlihat rapih dan bersih, semua barang terlihat tertata dengan baik.


Saat melihat meja ruang tamu, dia melihat sebuah kotak kecil di sana. Sisil jadi penasaran dengan apa isinya, tapi dia tak berani membuka kotak tersebut.


"Kamu kenapa lihatin kotak itu terus?" tanya Adam yang ternyata sudah berada tepat di samping Sisil.


"Tak apa, hanya penasaran saja." Jawab Sisil jujur.


"Kamu tahu, di sini ada Sweter cantik dari teman kecilku. Namanya Pricilia Gunandari, dia anaknya manis dan cantik." Adam mengambil kotak tersebut, lalu menyerahkannya pada Sisil.


"Kenapa diberikan kepada saya?" tanya Sisil.


"Bukalah, biar kamu tak penasaran." Titah Adam.


Sisil menurut, dia membuka kotak tersebut. Lalu, Sisil pun mengambil Sweter cantik yang berada di dalam kotak tersebut.


Tangannya terlihat bergetar, saat dia merentangkan Sweter cantik tersebut. Raut wajah Sisil, nampak berubah tegang. Hal itu, tak luput dari pengawasan Adam.


"Ke--kenapa, Sweternya harus kamu bawa, Tuan? Apa benda ini sangat berharga?" tanya Sisil tergagap.