Who Is Adam?

Who Is Adam?
Pernikahan Mharta



Pagi-pagi sekali Sisil sudah terlihat sangat cantik, begitupun dengan Adam, dia terlihat sangat tampan. Tentunya mereka akan segera pergi untuk menghadiri acara ijab kabul Bastra dan juga Mharta.


Tuan Arley yang memang mempersiapkan acara pernikahan untuk Bastra dan juga Mharta, sudah terlebih dahulu sampai di tempat acara. Karena dia pun tak ingin melewatkan acara sakral anak buah kesayangannya itu.


Bastra kecil yang dulu pernah dia selamatkan dari perdagangan manusia, kini telah besar dan dengan setia terus mengabdi pada Tuan Arley.


Jadi sudah sepantasnya dia mendapatkan pesta pernikahan yang meriah, sayangnya dia memilih menikah secara sederhana saja.


"Kamu cantik, Sayang." Adam memeluk Sisil dari belakang sambil menciumi pundaknya yang terlihat terekspos.


Sisil yang sedang mematut dirinya di depan cermin, langsung berbalik dan mendorong wajah Adam.


"Ngga usah mancing-mancing, nanti kita ngga jadi ke acara nikahannya, Kak Mharta." Ucap Sisil dengan tatapan penuh penolakan.


"Ya ampun... istri aku jadi galak sekarang." Adam langsung mengecupi bibir Sisil bebrapa kali, hal itu membuat Sisil berdecak tak suka.


Adam belum paham, Sisil merasa jika dia gampang terangsa.ng. Dia takut akan dengan mudahnya menggeliat di bawah kuasa suaminya itu.


Apa lagi sekarang Adam sudah sangat pandai memberikan kenikmatan pada istrinya itu, membuat Sisil pasti tak akan bisa menolak pesona dari Adam Putra Caldwell.


"Mas! Kita berangkat sekarang aja, biar ngga telat." Ajak Sisil.


Dia sengaja menghindar, tentunya demi kebaikan mereka bersama.


"Kita belum sarapan, Yang." Protes Adam.


"Aku udah minta bibi buat siapin makanan di kotak bekal, kita sarapan di mobil aja." Jawab Sisil.


"Tapi, Yang--"


"Ngga ada tapi-tapian, aku suapin kamu nanti. Lagian kita diantar supir." Sisil langsung mengambil kado untuk Mharta lalu berlalu dari hadapan Adam.


"Ya ampun... kemana istriku yang dulu pendiam dan malu-malu? Kenapa sekarang jadi suka marah-marah dan memerintah?" tanya Adam lirih.


Adam segera menyusul istrinya yang ternyata sudah berada di dalam mobil, Adam langsung duduk di samping Sisil, menyandarkan kepalanya di pundaknya dan memeluknya.


Sisil yang tahu jika suaminya berada dalam mode manja hanya membiarkannya, dengan santai dia membuka kotak bekal dan mulai menyuapkan satu suapan ke dalam mulut suaminya itu.


"Aaa, Sayang." Pinta Sisil, dengan cepat Adam pun membuka mulutnya.


Sopir peribadi Arkana terus saja memperhatikan kemesraan Sisil dan Adam, dia seperti tak ada niatan untuk melajukan mobilnya.


Adam yang sadar tengah diperhatikan pun langsung menatap Pak Sopir dari pantulan kaca.


"Jalan, Pak." Nada perintah pun keluar dari mulut Adam.


"Eh, iya Den." Sahutnya, dengan cepat dia pun melajukan mobilnya.


Pernikahan Mharta dan Bastra, ternyata dilaksanakan di kota kelahiran Bastra di kota D. Sehingga membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai di sana.


Tentunya hal itu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Adam, selama perjalanan Adam terus saja bersikap manja. Bahkan Adam tak hentinya menciumi wajah Sisil, jika Sisil sedang lengah dia akan mencuri ciuman dari bibirnya.


Awalnya Sisil terlihat kesal, lama-kelamaan dia pun membiarkan apa pun yang diinginkan oleh suaminya itu. Toh nanti dia bisa memperbaiki riasannya saat tiba di kota D.


Adam bahkan tak segan untuk mengusap puncak dada Istrinya, Sisil sempat melayangkan protesnya. Namun si anak genius yang terlihat kehilangan akalnya itu pun tak memperdulikannya.


Bahkan Adam pun sesuka hatinya mengecupi leher jenjang istrinya, sepanjang perjalanan menuju kota D, Sisil dibuat kesal, geli dan menginginkan hal yang lebih secara bersamaan.


Satu jam perjalanan penuh tantangan pun telah berlalu, Adam langsung turun dari dalam mobilnya. Sedangkan Sisil terlihat memperbaiki riasannya.


"Sudah...."


Sisil langsung memeluk tangan kanan Adam dan langsung melangkahkan kakinya menuju rumah Bastra, rumah Bastra kini telah disulap menjadi tempat pernikahan yang sangat indah.


Saat Sisil dan Adam masuk, bertepatan dengan Bastra yang sedang mengucapkan kata kabulnya. Bastra menjabat tangan Wiliam tanpa ragu, tepat di samping William ada beberapa polisi yang berjaga.


Miris rasanya, jika melihat akan hal itu. Akan tetapi, Sisil memakluminya dan mungkin itulah cara Tuhan memberikan hukuman pada pamannya yang telah membunuh kedua orang tuanya.


Sisil sempat beradu pandang dengan Tuan Arley, setelahnya Sisil dan Adam pun langsung duduk tepat di samping Tuan Arley.


"Jangan pernah dendam, kesal boleh, marah boleh. Yang terpenting, kamu harus tetap bisa memaafkan siapa pun yang telah menyakiti hati kamu. Biar hidup kita terasa tenang." Tuan Arley langsung mengelus lembut punggung Sisil.


"Ya, Grandpa. Aku sudah memaafkan mereka, ngga ada gunanya dendam. Mereka juga sudah mendapatkan ganjarannya," ucap Sisil.


"Waah, istriku memang sangat manis. Sudah cantik, pemaaf lagi." Adam mencuil dagu Sisil dan langsung memeluknya.


"Mas!" Sisil berucap dengan pelan tapi penuh penekanan.


"Iya, maaf. Aku diem," kata Adam.


Setengah jam kemudian, acara pernikahan pun telah selsai. William langsung diborgol, dia harus segera dibawa kembali ke hotel prodeo tempat dia tinggal sebelum nantinya di hukum mati.


Mharta terlihat memelum Dad'nya dengan erat, William terlihat menangis sambil mengecupi puncak kepala Mharta.


Terlihat dengan jelas raut kesedihan, raut penyesalan dan rasa tenang bercampur menjadi satu di wajah William.


"Nak Bastra, terima kasih karena sudah menikahi putri saya. Saya titip anak saya, tolong jaga dia. Sayangi dia, perlakukan dia dengan baik." Pinta William tulus.


"Tentu, saya akan memperlakukan istri saya dengan baik. Saya akan berusaha untuk membahagiakan istri saya, karena saya mencintai putri anda dengan tulus." Ucap Bastra tegas.


"Terima kasih," ucapnya.


Pandangan matanya beradu dengan Sisil, dia sangat kaget karena melihat wajah yang begitu sama dengan Kakak iparnya Merissa.


"Cia... " panggil William.


Sisil langsung menghampiri William, dia langsung memeluk William dengan erat. Air matanya mengalir begitu saja, dia tahu William sudah jahat terhadapnya.


Akan tetapi, Willian adalah keluarga baginya. Sedih rasanya jika mendapati kenyataan, bahwa William akan meninggalkan dunia dengan cara dihukum mati.


"Cia, apakah ini kamu, Sayang?" tanya William.


Sisil melerai pelukannya, dia menatap William dengan intens lalu menganggukkan kepalanya.


"Ya, Paman. Ini Cia," jawab Sisil.


"Ya Tuhan, terima kasih karena sudah mempertemukan aku dengan Cia. Cia Sayang, sebelum paman mati, maukan kamu memaafkan semua kesalahanku?" tanya William


Sisil langsung menganggukkan kepalanya, "Iya, Paman."


"Mau kah kamu menjaga Mharta, putriku?" tanya William.


"Paman tenang saja, kalau Kak Bastra berani macam-macam pada Kak Mharta, aku akan. meminta Grandpa untuk memotong Burungnya," ucap Sisil seraya mengusap air matanya.


William terkekeh mendengar penuturan Sisil, "Terima kasih."


Ucap William sebelum para polisi menyeret William dengan paksa, karena waktu yang diberikan sudah habis.