Who Is Adam?

Who Is Adam?
Semangat



"Bonusnya apa, Tuan?" tanya Gracia penuh semangat.


"Nanti kamu saya cium kalau ngomong terus!" kata Leo santai.


Sontak hal itu membuat Gracia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Leo langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa, dia tak menyangka jika wanita yang kini satu ruangan dengannya adalah wanita yang benar-benar masih polos, pikirnya.


Selama ini Leo selalu bertemu dengan wanita bar-bar, bahkan selama Leo berpacaran pun dia selalu dengan mudahnya mengajak para wanitanya itu untuk tidur bersama.


Semua wanita yang pernah dia tiduri, tentu saja bukan perawan. Mereka semua merupakan wanita yang bergaul dengan bebas, hal itu membuat Leo lebih gampang dalam meneguk madu dari setiap wanita yang dia kencani.


Namun, Setelah melihat kepolosan Gracia, dia pun jadi ingin merasakan wanita yang masih perawan. Untuk sesaat Leo memindai gestur tubuh Gracia, tak lama tersungging sebuah senyuman.


"Cantik, menarik, tingginya pas seratus enam puluh tujuh centi. Badan aduhai, tapi dadanya terlihat kurang gede. Mungkin karena belum pernah disentuh," gumam Leo pelan.


"Kenapa, Tuan? Anda berbicara dengan aku?" tanya Gracia.


"Bukan-bukan," jawab Leo seraya mengibaskan kedua tangannya.


Gracia terlihat mengerutkan dahinya, kenapa Leo tak mengaku, pikirnya. Padahal dia tadi jelas bergumam, hanya saja begitu pelan sehingga tak terdengar dengan jelas.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Leo.


"Tidak apa-apa, Tuan. Mungkin aku salah denger," ucap Gracia pada akhirnya.


Baik Leo atau pun Gracia mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka kembali, tak ada lagi obrolan diantara mereka.


Leo dan Gracia terlihat fokus dalam bekerja, saat Adam dan Sisil melewati ruangan mereka pun, baik Leo atau pun Gracia tak ada yang menyadari.


Adam dan Sisil hanya tersenyum, melihat mereka berdua yang terlihat begitu fokus. Tuan Arley memang sengaja mendesain ruangan Leo dengan berdinding kaca.


Karena dia tahu jika Leo merupakan seorang Casanova, dia tak mau kalau Leo sampai berbuat tak senonoh di dalam ruangannya.


Bahkan di sana tak ada tirai sama sekali, sehingga dengan mudahnya semua pergerakan Leo bisa terlihat dengan jelas.


Berbeda dengan ruangan Mahendra yang memang lebih tertutup, karena dia memang lebih pendiam. Jarang bicara dan bahkan terkesan dingin.


"Mas," panggil Sisil saat tiba di dalam ruangan Adam.


"Apa, Yang?" tanya Adam yang kini sudah duduk di kursi kebesaran miliknya.


"Ngga apa-apa, cuma mau ngomong itu. Kak Leo sama cewek yang tadi cocok ya?" ujar Sisil.


Adam terlihat mengerutkan dahinya, cocok bagaimana, pikirnya. Leo terkesan playboy, sedangkan Gracia terlesan polos menurutnya.


"Menurutku mereka tidak cocok, sifat mereka berbanding terbalik." Adam langsung bangun dan menuntun istrinya untuk duduk di sofa.


"Kamu ngga paham, Mas. Kak Leo itu bisa sembuh kalau disatukan dengan cewek tadi," ucap Sisil.


Adam langsung mengangkat tubuh mungil Sisil, lalu mendudukannya di atas pangkuannya.


"Jangan mikirin orang lain, mending mikirin kita berdua aja. Mau nambah lagi?" tanya Adam.


"Issh, nyesel aku ke sini. Jadinya kamu malah ngga fokus kerja, aku pulang aja ya, Mas." Sisil mengecupi setiap inci wajah Adam.


Adam langsung terkekeh mendengar ucapan dari Sisil, "bagaimana bisa fokus kalau di depan mata aku ada suguhan yang sayang kalau untuk dilewatkan."


Adam langsung meremat bokong istrinya, lalu bibirnya pun mengecupi leher jenjang istrinya.


"Tuh kan, aku pulang aja." Sisil langsung turun dari pangkuan Adam, lalu mengambil tas selempangnya.


"Sayang," seru Adam.


"Nanti malam lagi ya, Mas? Ngga enak sama Grandpa, nanti disangkanya kamu ngga bertanggung jawab. Aku janji, malam nanti aku kasih servis yang spesial." Sisil mengerling nakal ke arah Adam.


"Janji?" tanya Adam.


Sisil kembali duduk di pangkuan Adam, "Ya."


"Pake lingerie yang kemarin aku beliin tapi," rajuk Adam.


"Hem," jawab Sisil.


"Yang lama maunya," kembali Adam merajuk.


"Iya, Sayang. Aku pulang dulu," pamit Sisil.


Sebelum Sisil pergi, tentu Adam tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung menautkan bibirnya lalu memagutnya dengan lembut.


"I love you," ucap Adam seraya menyatukan kening mereka.


"Me too," jawab Sisil seraya mengusap bibir Adam yang terlihat basah.


Akhirnya Sisil pun pulang di antar sopir kantor, sedangkan Adam langsung mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda.


Hatinya terasa bahagia, dalam bekerja pun jadi terasa bersemangat. Karena Adam sudah mendapatkan vitamin B. Sampai sore menjelang Adam terlihat masih bersemangat, bahkan dia sampai tak sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," seru Adam tanpa melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Maaf, Tuan. Ini sudah sore, apa anda belum berniat untuk pulang?" tanya Leo.


Adam langsung melihat jam mewah yang melingkar di tangannya, Adam terlihat kaget karena ternyata ini sudah waktunya untuk pulang.


"Kamu duluan Leo, aku mau merapihkan semua berkas ini." Tangan Adam pun dengan cekatan merapihkan semua berkas yang ada.


"Iya, Tuan. Kalau begitu saya duluan, ini berkas yang sudah selesai. Hanya butuh tanda tangan anda saja," kata Leo.


Leo pun segera memberikan berkas yang sedari tadi dipegang olehnya, berkas itu adalah berkas yang sudah dikerjakan bersama dengan Gracia.


"Oke, simpan saja di atas meja." Leo pun langsung menyimpan berkas-berkas tersebut di atas meja.


"Permisi, Tuan." Setelah mengundurkan diri Leo langsung keluar dari ruangan Adam.


Dia masuk ke dalam ruangannya sebentar untuk mengambil kunci mobilnya dan juga dompet beserta handphone, setelah itu dia pun langsung pergi menuju parkiran.


"Sebelum pulang, enak kali ya beli soto yang ada di deket halte bus?" gumam Leo.


Leo pun langsung melajukan mobilnya menuju kedai soto yang tak jauh dari halte bus, kedainya memang tidak terlalu besar. Namun, rasa sotonya terkenal enak.


"Hujan, ternyata," gumam Leo.


Tiba di depan kedai, Leo langsung mengambil payung lalu keluar dari dalam mobilnya.


"Lumayan rame," gumam Leo saat masuk ke dalam kedai tersebut. "Pak, soto Aymnya satu." Leo memesan soto kesukaannya.


Leo langsung mencari tempat duduk, dia sengaja mencari tempat duduk di dekat jendela agar bisa melihat ke arah luar.


Sambil menunggu pesanannya datang, Leo mengedarkan pandangannya, dia menatap ramainya jalanan ibu kota di sore hari yang terlihat macet. Apa lagi saat ini hujan, makin macet dan terlihat gelap.


"Gracia," ucap Leo lirih.


Dia melihat Gracia yang sedang duduk di halte bus, dia terlihat kedinginan. Kedua tangannya saling mengusap, sesekali dia terlihat menengadah memperhatikan rintik hujan.