
Adam terlihat diam saja saat mendengar ucapan dari Ibunya, Laila merasa takut dengan reaksi Adam. Arkana yang melihat kegelisahan di wajah istrinya, langsung menghampiri mereka.
Arkana langsung berjongkok, dia berusaha untuk mensejajarkan tubuhnya dengan putra geniusnya.
"Kenapa Adam, diam saja? Apa, Adam tak suka dengan hadirnya keluarga baru?" tanya Arkan.
Adam langsung memandang wajah Ayahnya, lalu Adam menggeleng lemah.
"Adam bukannya tak senang, hanya saja, Adam melihat banyak luka di tubuh ibu. Apa mau punya Dede baru, harus terluka terlebih dahulu?" tanya Adam polos.
Adam memang anak yang genius, tapi mengenai proses membuat bayi... Tentu saja Adam yak tahu seperti apa.
Semua yang ada di sana, sontak langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka lalu mendekat ke arah Adam, Tuan Seno bahkan dengan cekatan langsung menggendong cucu pertamanya.
"Ibu terluka bukan karena mau punya Dede bayi, tapi karena habis di jambret." ucap Tuan Seno.
Adam terlihat sangat kaget, anak itu meminta turun dari gendongan Kakeknya.
"Ibu di jambret?! Ya ampun... Awas aja kalau Adam ketemu sama orang itu, Adam bakalan pukul wajahnya sampai babak belur." Adam berucap sambil memukulkan kedua kepalan tangannya.
Sontak semua orang yang ada di sana, langsung tergelak.
"Om, kira, kamu tidak mau punya Dede baru?" tanya Devano.
"Enak saja, Adam, mau. Kalau buat Dede bayinya gampang, Adam mau Dede bayi yang banyak. Adam mau, rumah kita jadi ramai." ucap Adam.
Adam selalu merasa kesepian, karena biasanya memang dia hanya tinggal bersama Laila saja. Makanya, Adam selalu meminta pada Tuhan, agar di berikan anggota keluarga yang banyak.
Agar Adam tak merasa kesepian, agar Adam merasa banyak teman untuk berbagi. Tentunya dalam hal suka, atau pun duka.
Laila yang mendengar putranya meminta Dede bayi yang banyak, nampak terdiam. Dia bingung harus menjelaskan seperti apa, tentang proses pembuatan Dede bayi itu seperti apa.
"Bu, apakah membuat Dede bayi itu susah?" tanya Adam.
"Hah?!" tanya Laila.
Laila nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Adam, Laila hanya bisa menggaruk pelipis nya yang tak gatal.
Sedangkan yang lainnya nampak mengatupkan mulutnya menahan tawa, saat melihat raut bingung di wajah Laila.
Adisha yang mengerti dengan keadaan pun, langsung menghampiri Adam.
"Nini, laper. Bisakah kita makan sekarang?" tanya Adisha.
"Ah, Nini benar. Kita makan sekarang, Adam sangat laper." ucap Adam.
"Sebelum makan, Grandpa bantu Adam ganti baju." Tuan Arley langsung menggendong Adam, dan membawa anak itu ke dalam kamarnya.
Selama Adam dan Tuan Arley di kamar Adam, semua yang ada di sana nampak bersiap menata makanan di atas meja makan. 5 menit kemudian Adam pun terlihat sudah mengganti bajunya dengan pakaian santai.
Mereka semua langsung makan siang bersama, sesekali terdengar candaan dari mulut Adam. Adam terlihat sangat ceria karena sebentar lagi dia akan mempunyai Dede bayi, dia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Adiknya itu.
Setelah dirasa semuanya selesai, Devano bersama Eliza berpamitan kepada Arkana. Mereka beralasan, jika masih ada yang harus mereka kerjakan.
"Abang, pamit ya, De." ucap Devano.
"Kenapa tidak nanti saja?" tanya Arkana.
"Ada hal yang harus kami kerjakan," ucap Devano.
"Ck, bilang saja kalau kalian mau melakukan proses pembuatan keponakan yang lucu-lucu untuk ku." ucap Arkana.
"Kamu benar, De." ucap Devano, seraya memukul tangan Arkana.
Eliza terlihat malu-malu mendengar jawaban dari Devano, dia tahu jika suaminya memang sangat menginginkan keturunan. Karena usia Devano yang memang sudah tidak muda lagi.
Setelah berpamitan, Devano dan Eliza pun langsung pulang ke kediaman mereka. Devano sudah tidak sabar, untuk segera melakukan proses pembuatan Dede bayi.
Devano sudah tidak sabar, melihat perut istrinya membesar karena ulahnya. Dia harus extra kerja keras untuk yang satu itu, pekerjaan nikmat yang menghasilkan.
Selepas kepergian Devano dan Eliza, Tuan Arley pun berpamitan kepada putranya.
"Boy, Dad pulang. Dad juga harus berusaha untuk membuat perut Mommy mu cepat membesar," ucap Tuan Arley.
Arkana langsung terkekeh, sedangkan Adisha langsung memberikan cubitan di perut Tuan Arley.
"Sakit, Sayang." ucap Tuan Arley.
"Habisnya, kamu ngomongnya kaya gitu. Aku malu," ucap Adisha.
"Tak usah malu, dia pasti paham." ucap Tuan Arley.
"Tentu saja aku paham, Daddy memang harus bekerja ekstra. Perusahaan Daddy banyak, Daddy harus punya keturunan yang banyak. Karena aku, tak akan sanggup untuk meneruskan perusahaan Daddy sendirian." ucap Arkana.
"Ck, kamu benar, Boy. Dan aku harap, Mommymu mau melahirkan banyak anak untuk ku." Tuan Arley merangkul pundak Adisha, lalu membawanya ke dalam pelukannya.
Adisha nampak malu-malu, tapi dia tetap membalas pelukan Tuan Arley.
"Kamu mau kan melahirkan keturunan untuk ku?" tanya Tuan Arley.
"Jika Tuhan mengizinkan, aku mau." ucap Adisha.
"Oh, Sayang. Aku jadi makin cinta," ucap Tuan Arley.
Tuan Arley langsung melabuhkan kecupan hangat di kening Adisha, Tuan Seno yang melihat kebahagiaan Tuan Arley pun langsung menghampiri nya.
"Jangan sia-siakan kesempatan Indah yang Tuhan berikan," ucap Tuan Arley.
"Pasti, terimakasih untuk kamu yang sudah berbaik hati padaku." ucap Tuan Arley.
"Hem, semua orang selalu mempunyai kesempatan kedua untuk memperbaiki diri nya." ucap Tuan Seno.