
Sampai di rumah Mom Maura, Leo nampak murung. Dia tak menyangka jika Caterine akan memilih untuk pergi ke luar negeri demi urusan pekerjaan.
Padahal Leo mengira jika dirinya teramat penting untuk Caterine, sayangnya tidak. Ternyata hubungan mereka hanya benar-benar sudah seperti sistem simbiosis mutualisme.
Namun, sekarang semuanya sudah tidak masalah baginya. Karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Cindy, wanita polos yang begitu gigih dalam menjalani kehidupannya.
"Sayang, Mom perhatikan dari tadi kamu hanya melamun saja. Kenapa?" tanya Mom Maura.
Leo terlihat sangat kaget kala melihat Mom Maura yang sudah berada tepat di sampingnya.
"Tidak ada apa-apa, Mom. Hanya sedang memikirkan hubunganku dengan Cindy saja," jawab Leo.
"Memangnya kenapa dengan hubungan kamu dan juga Cindy?" tanya Mom Maura.
Leo terlihat menghela nafasnya, lalu dia pun tersenyum dengan sangat manis pada Mom Maura.
"Aku pernah berkata pada Cindy, kalau kita akan mengadakan pendekatan selama satu bulan. Kalau misalkan kami cocok, kita akan menikah." Leo terlihat mengusap pundak Mom Maura dengan lembut.
Mom Maura jadi merasa curiga kepada Leo, dia takut jika anaknya akan meminta hal yang tidak-tidak .
"Terus, maksudnya bagaimana?" tanya Mom Maura.
"Menurut, Mom. Apakah aku harus bertunangan dulu dengan Cindy, atau langsung menikah saja?" tanya Leo.
Mom Maura langsung tertawa mendapat pertanyaan dari Leo, dia pikir putranya akan meminta hal yang aneh-aneh.
Namun ternyata itu hanya ketakutan Mom Maura saja, Leo bahkan ternyata sudah memikirkan tentang pernikahan.
"Langsung nikah aja, jadi kalau kamu khilaf, tinggal hap. Cindy masih segel, kamu ngga bakal rugi dapet dia." Mom Maura terlihat tertawa meledek.
"Mom!"
Leo terlihat menampakan wajah protesnya, memang benar apa yang dikatakan oleh Mom Maura. Menikah akan terasa lebih baik, karena tak akan ada dosa lagi dengan apa yang akan Leo lakukan terhadap istrinya.
Jadi Leo tak perlu lama lagi untuk merasakan yang namanya kenikmatan di atas ranjang, bahkan setelah menikah dengan Cindy justru Leo akan mendapatkan pahala jika sering melakukannya.
"Mom, benar. Aku harus langsung menikah saja, biar bisa cepat memberikan cucu untuk, Mom," ucap Leo.
"Biar cepat memberikan Mom cucu, atau... biar cepat buat buka segel?" tanya Mom Maura seraya menaik turunkan alisnya.
"Mom!"
Leo terlihat begitu malu kala Mom Maura mampu menebak apa yang ada dipikirannya, tentu saja Mom Maura tahu apa yang dipikirkan oleh putranya, karena dialah yang melahirkannya.
"Tidurlah, sudah larut malam." Mom Maura mengelus lembut puncak kepala Leo dan mengecup keningnya dengan lembut.
Setelah itu Mom Mauara pun langsung keluar dari kamarnya Leo, dia pun ingin beristirahat karena begitu lelah mengurusi urusan kantor.
Malam ini Sisil tak bisa tidur, karena Sisil ingin sekali memakan makanan yang dilihat di sosial media.
Namun keinginan Sisil kali ini membuat Adam pusing tujuh keliling, karena Sisil menginginkan makanan yang bernama Colenak.
Makanan khas Sunda yang tidak ada dijual di daerah ibu kota, Adam sudah mencarinya ke berbagai tempat di ibu kota.
Namun sayangnya, dia tak menemukannya di mana pun. Adam bahkan sampai meminta tolong kepada Laila, siapa tahu ibunya tersebut mempunyai kenalan yang bisa memberitahukan tentang di mana letak penjualan Colenak tersebut.
Sayangnya temannya Laila pun tidak ada yang tahu tentang makanan yang satu itu, mereka terlihat asing saat mendengar kata makanan yang disebutkan oleh Adam.
"Ya Tuhan! Anak Ayah, apa tidak ada keinginanmu yang lain yang bisa Ayah wujudkan dengan segera, Nak?" tanya Adam frustasi.
Adam terlihat mengelus lembut perut Sisil, sesekali dia mengecupi perut Sisil yang sudah mulai menonjol itu.
"Ngga mau, Mas. Maunya Colenak, nggak mau makanan yang lain lagi," jawab Sisil seraya merengek.
Adam lalu mendongakkan kepalanya, dia menatap wajah Sisil dengan sangat lekat.
"Lalu, Mas harus berbuat apa sekarang? Mas nggak tahu lagi harus nyari makanan itu kemana," kata Adam.
"Pokoknya aku mau makan Colenak saat ini juga, Mas," ucap Sisil dengan nada mengancam.
"Tapi, Sayang. Di sini nggak ada yang jual," jawab Adam dengan mata yang berkaca-kaca.
Rasanya Adam ingin meraung dan menangis sambil menggulingkan tubuhnya di atas lantai, dia sudah tidak sanggup menuruti keinginan istrinya tersebut.
"Kalau begitu kita ke Bandung saat ini juga," ucap Sisil tegas.
Adam langsung memelototkan matanya, dia merasa tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Sisil.
"Mas sayang nggak sama aku? Mas sayang nggak sih mas sama Dede kita? Kenapa Mas malah melotot seperti itu?" tanya Sisil penuh protes.
"Eh... nggak, nggak, Mas nggak yang seperti kamu pikirkan. Mas hanya kaget, apa Kamu nggak lihat ini pukul 10.00? Kalau kita ke Bandung mau sampai pukul berapa!" Kata Adam.
"Pokoknya nggak mau tahu, aku maunya kita ke Bandung sekarang juga," ucap Sisil.
Adam terlihat menghela napasnya dengan kasar, lalu Adam pun bangun dan mengambilkan jaket untuk dirinya dan juga untuk Sisil.
Tak lama kemudian Adam pun menuntun Sisil untuk keluar dari dalam kamarnya, dia ingin mengajak Sisil untuk pergi ke Bandung.
Tentu saja sebelum pergi dia pun meminta izin kepada Laila dan juga Arkana terlebih dahulu. Setelah berpamitan, Adam pun pergi ke kota Bandung.
Ttentu saja Adam tidak menyetir sendiri, tapi dia meminta bantuan sopir karena takut akan mengantuk saat di jalan.