
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, akan tetapi wanita yang kemarin sudah sah menjadi istrinya itu tak juga kelihatan batang hidungnya.
Hal itu membuat Adam Putra Caldwell merasa resah, pasalnya tiap kali dihubungi Sisil tak mau mengangkatnya. Mengirim pesan pun tak di baca sama sekali, apa lagi di balas.
Bahkan saat Adam menghubungi ketiga sepupunya itu, mereka terlihat sangat kompak untuk tidak mengangkat panggilan telpon darinya.
Alhasil sang genius pun terlihat uring-uringan, apa lagi saat melihat si imin yang sedari tadi berdiri tegak saat mengingat tubuh indah istrinya yang tadi malam sempat dia jamah.
Membuat Adam semakin resah, apa lagi Adam yang terus saja memikirkan bagaimana caranya agar istrinya bisa terpuaskan di atas ranjang. Membuat dia merasa semakin resah dan gelisah.
"Sial! Kenapa dia tak pulang juga?" tanya Adam lirih.
Adam pun segera keluar dari kamar pengantinnya, kemudian dia menuju kamar ketiga sepupunya. Dia ingin memastikan, apakah istrinya ada di sana atau tidak.
Tok! Tok! Tok!
Adam mengetuk pintu kamar hotel ketiga sepupunya itu dengan tak sabar, tak lama pintu pun nampak terbuka. Adam dengan tak sabar langsung masuk dan mencari istrinya di sana.
Benar saja, sesuai dengan dugaannya, Sisil sedang duduk di depan meja rias sambil membersihkan sisa masker yang baru saja dia kenakan.
"Ya ampun, Sayang. Apa kamu tidak mau kembali ke kamar kita?" tanya Adam yang kini sudah berada tepat di samping Sisil.
"Kamu ngga sopan sekali, Kak. Kakak ngga lihat kita sedang apa?" tanya Alicia.
Adam mengedarkan pandangannya, terlihat dua orang perawat kecantikan sedang memijat tubuh Anggelica dan juga Airin. Sedangkan Anggelica nampak sedang melakukan perawatan wajahnya.
"Ya Tuhan... kalian aneh sekali, kenapa malam-malam begini malah melakukan perawatan?" keluh Adam.
"Kami cape, Kak. Karena seharian shoping membuat badan dan kaki kami terasa pegal," ucap Airin dengan mata terpejam menikmati sensasi pijatan lembut di tubuhnya.
"Ck, ayo, Sayang. Kita kembali ke kamar kita saja," ajak Adam. Namun sayangnya, Sisil langsung menggeleng.
"Ngga mau," jawabnya.
"Ya Tuhan, Sayang. Aku sudah rindu, seharian ini aku ditinggal sendirian. Ayolah," ucap Adam memelas.
"Aku sedang menunggu giliran, aku juga mau di pijat seperti mereka." Kata Sisil dengan jari telunjuk yang sudah terarah pada Airin dan Alicia.
"Biar aku saja yang memijat kamu," ucap Adam.
Sisil langsung mendelik sebal, sayang nya Adam seolah tak perduli. Dengan cepat Adam menggendong tubuh kecil istrinya, Sisil nampak kaget dan langsung memeluk leher Adam dengan kuat.
"Mas! Aku takut," ucap Sisil.
Adam tak memedulikan ucapan Sisil, dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar ketiga sepupunya itu.
Airin, Alicia dan Anggelica hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sedangkan dua perawat kecantikan yang sedang memijat Airin dan Alicia nampak mengatupkan mulutnya menahan tawa.
Mereka pun jadi membayangkan keromantisan yang akan terjadi di dalam kamar pengantin Sisil dan Adam, secara mereka memang sudah dewasa dan pasti sangat paham dengan apa yang akan dilakukan oleh pengantin baru.
Tiba di dalam kamar, Adam langsung merebahkan tubuh Sisil dengan perlahan. Adam mencoba meloloskan dress selutut yang dipakai oleh Sisil, namun dengan cepat Sisil menahannya.
"Katanya mau di pijat, bajunya harus di buka." Kata Adam.
"Ngga jadi di pijat, mau mandi aja terus tidur. Sisil langsung bangun dan mengambil handuk, dia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Adam pun langsung mengikuti Sisil dengan masuk ke dalam kamar mandi hal itu membuat Sisil kesal bukan kepalang dibuatnya.
"Keluar, Mas. Aku mau mandi!" Sisil mendorong dada Adam agar segera keluar dari kamar mandi tersebut.
Adam langsung menangkap tangan Sisil lalu mengecupinya beberapa kali.
"Jangan usir, Mas. Mas cuma mau mandiin kamu doang, Sayang." Kata Adam seraya membuka resleting belakang dress Sisil dan meloloskan dress tersebut dari tubuh istrinya.
Adam langsung mengecupi pundak Sisil, tangannya mencoba meraba-raba permukaan kulit tubuh istrinya. Dia ingin mengenali letak area sensitif tubuh istrinya di sebelah mana.
Saat Adam meremat puncak dada istrinya, Sisil terlihat menggelinjang. Begitupun saat tangan kanan Adam mengusap perut sampai ke area intinya, dia terdengar mendesis.
Adam pun mulai paham, apa lagi saat Adam mengecupi leher bagian belakang Sisil. Sisil nampak menggeliat dan memejamkan matanya dengan kuat, Adam dengan cepat membalikan tubuh istrinya.
Dia langsung bermain di puncak dada istrinya, mengulum serta mencubitnya dengan lembut. Badan Sisil langsung membungkuk, tangannya langsung menekan kepala Adam sampai hidung Adam menekan dua bulatan kenyal yang terasa padat itu.
Sisil bahkan sampai lupa jika dia sedang kesal dengan suaminya itu, dia malah asik dengan sentuhan Adam bahkan kata Ah, uh oh dan emph... terdengar sangat nyaring dari bibir mungil Sisil.
Adam mulai paham dengan cara merangsang istrinya, Adam langsung berjongkok. Dia menurunkan penutup bagian bawah istrinya, lalu bermain di bawah sana.
Tangan Sisil langsung mencari pegangan, karena tubuhnya terasa lemas. Adam mendongakan kepalanya, dia melihat wajah Sisil lalu tersenyum.
Lima belas menit bermain di area inti tubuh istrinya, Adam melihat tubuh Sisil bergetar. Pahanya terlihat menegang, Adam tahu jika Sisil sudah mendapat pelepasannya.
Adam langsung bangun dan menggendong Istrinya, dia langsung merebahkan tubuh Sisil dan mengurung pergerakan istrinya.
Adam mulai mengecupi setiap inci tubuh istrinya, setelah dirasa siap Adam pun langsung memasuki tubuh Sisil sambil menautkan bibirnya.
Kali ini, Adam tidak terburu-buru. Dia melakukannya dengan lembut, bahkan Adam terus saja memperhatikan wajah Sisil. Dia ingin tahu bagaimana reaksi wajah Sisil saat menerima setiap hentakan dan hujaman dari miliknya.
Wajah Sisil terlihat begitu seksi dan sangat menggoda, apa lagi saat melihat pergerakan dari puncak dada Sisil yang seirama dengan hentakan yang dia ciptakan. Adam sampai benar-benar terpesona karena Sisil yang terlihat sangat menggoda.
Di menit ke tiga puluh, tubuh Sisil kembali menegang. Bahkan milik Adam terasa dicengkam dengan kuat, Adam bisa menyimpulkan jika ini pelepasan Sisil yang kedua, senyum Adam makin mengembang.
Dia membalik tuh Sisil dan menusuknya dari belakang, Sisil benar-benar terlihat sangat seksi dan begitu menarik di mata Adam.
Apa lagi saat Sisil menyanyikan lagu yang begitu merdu di telinga Adam, membuat dia semakin terpacu untuk bisa membuat Sisil merasakan lebih lama lagi gulungan kenikmatan yang dia berikan.
Senyum Adam makin mengembang, kala Sisil sudah mendapatkan pelepasannya yang ketiga. Rasanya, dia benar-benar sudah berhasil menjadi seorang suami.
Adam pun dengan cepat menghentakan miliknya, menghujam sampai dalam karena miliknya terasa sudah sangat berdenyut dan ingin segera mendapatkan pelepasannya.
"Nikmat," satu kata yang terlintas di dasar pikirannya setelah merasa puas karena bisa memuaskan.