
Adisha terlihat sangat kelelahan, bahkan saat perjalanan pulang, dia sampai tidur di dalam mobil. Tuan Arley sempat melirik istrinya beberapa kali, Tuan Arley pun langsung tersenyum.
Dia melihat istrinya yang tertidur dengan sangat pulas, matanya terpejam, tapi bibirnya nampak sedikit terbuka. Begitu seksi, pikirnya.
Kalau saja buka sedang menyetir, Tuan Arley pasti sudah menautkan bibir mereka. Bibir Adisha terlihat begitu menggoda di matanya.
"Maaf ya, Sayang. Pasti kamu sangat lelah, tapi kamu sangat cerdas. Kamu begitu cepat belajar. Aku, suka." Tuan Arley berucap, sambil mengelus lembut pipi Adisha dengan tangan kirinya.
Saat tiba di rumah utama, Tuan Arley langsung menggendong Adisha. Udayana, adik Adisha yang ke empat terlihat sangat khawatir.
Ketiga adik Adisha memang sudah pulang ke kota B, tinggal Udayana saja yang masih di sana. Karena memang hanya dia, yang mendapatkan izin dari kampusnya.
Sedangkan ketiga adik Adisha yang lainnya, sudah kembali melakukan aktivitasnya masing-masing.
Udayana langsung menghampiri Adisha dan Tuan Arley, dia ingin mempertanyakan tentang keadaan Kakak nya.
"Bang, ada apa dengan Kakak?" tanya Udayana.
Tuan Arley pun langsung tersenyum," Dia hanya kelelahan."
Tuan Arley berhenti sejenak, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar utama.
Udayana nampak mengangguk paham, tapi, menurutnya Tuan Arley itu sangat berlebihan. Kenapa harus di gendong? Kenapa tidak di bangunkan saja?
"Mungkin seperti itu lah jatuh cinta," ucap Udayana seraya masuk ke dalam kamarnya.
Tentu saja, Udayana tak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta. Karena selama ini, dia hanya serius dalam bersekolah.
Udayana, tak mau mengecewakan, Kakaknya. Kakaknya sudah sangat cape, sudah rela mengorbankan masa mudanya, hanya untuk mengurus dan membiayai semua keperluan empat adiknya.
Dia harus tahu diri, dan membalas pengorbanan Adisha dengan berperilaku baik dan selalu berprestasi di sekolah.
Sedangkan di rumah Laila, Arkana sedang kebingungan. Pasalnya, Laila begitu menginginkan sate lilit yang berbahan dasar Ayam, sapi sama ikan.
Tapi yang membuat Arkana kesulitan, Laila menginginkan orang B yang langsung membuatkan nya untuk Laila.
Arkana pun bingung, apa lagi Laila terlihat merengek seperti anak kecil yang tak di turuti saat ingin membeli mainan.
Adam bahkan sampai menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka, jika ibunya yang selalu terlihat kuat. Ibunya yang selalu mandiri dan tak membutuhkan banyak bantuan dari orang lain, berubah menjadi sangat manja.
"Mas, mau dibuatin sate lilit. Sama orang B langsung," rengek Laila.
"Beli saja ya, Sayang." rayu Arkana.
"No, Mas. Aku mau, dibuatin langsung sama orang B." rengek Laila lagi.
"Ck, menyusahkan." ucap Adam menatap Arkana," Telpon Nini, Yah." ucap Adam.
"Kenapa telpon, Nini? Apa hubungannya?" tanya Arkana.
"Ya ampun, Ayah... Nini, asli orang B. Ayah minta tolong saja, Nini pasti mau." ucap Adam.
"Ya ampun,,, kenapa, Ayah ngga kepikiran ya?" tanya Arkana sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
''Terkadang, orang bisa terlihat bodoh jika dihadapkan dengan situasi yang menyulitkan." ucap Adam.
"No, Ayah. Hanya berbicara soal fakta," ucap Adam santai.
Arkana pun tak mau berdebat, dia sudah lelah berdebat terus dengan Laila. Masalah makanan yang dia inginkan, akhirnya akan segera terpenuhi.
Arkana pun segera mengambil ponselnya, kemudian dia pun menelpon wanita yang sekarang sudah menjadi mertuanya tersebut.
Tak lama, terdengar lah sahutan dari Adisha. Arkana pun langsung mengutarakan maksudnya, awalnya Tuan Arley tidak mengijinkan, tetapi saat tahu Laila lah yang menginginkan sate lilit tersebut, akhirnya Tuan Arley pun mengizinkan istrinya untuk memasak di rumah Laila.
Bahkan, Saat perjalanan menuju rumah Arkana, Tuan Arley pun mampir terlebih dahulu ke sebuah swalayan. Dia mengantarkan istrinya untuk langsung membeli sendiri bahannya untuk dimasak di sana.
Adisha pun sangat senang, karena ternyata, dia bisa mempunyai kegiatan. Selain melayani suaminya, tentunya.
Sampai dirumah Arkana Laila langsung berlari dan menghambur ke pelukan adisya Arkana sampai ikut berlari untuk mengingatkan istrinya
"Ya ampun, Sayang. Kamu jangan lari, inget bayi yang ada di dalam kandungan kamu." ucap Arkana khawatir.
Laila langsung melerai pelukannya, kemudian dia pun menatap suaminya yang terlihat sangat kesal. padanya.
"Maaf, Mas. Aku lupa, aku sangat senang karena Mommy datang kesini untuk memasak." ucap Laila.
"Ck, lain kali jangan di ulangi." ucap Arkana.
"Iya, Sayang." jawab Laila.
Laila pun langsung bergelayut manja di tangan Arkana, Laila berusaha menenangkan Arkana.
Tuan Arley yang melihat perdebatan kecil antara Arkana dengan anaknya, hanya bisa tersenyum. Dia juga merasa senang, karena bisa merasakan yang namanya indahnya berkeluarga.
Berumah tangga, mempunyai anak dan cucu . Sungguh, Tuan Arley benar-benar merasa bersyukur. Dia sangat berterima kasih banyak, kepada Tuhan.
Karena Tuhan, masih memberikan kebahagiaan di masa tuanya. Tuan Arley bahkan berharap, semoga Tuhan memberikan umur yang panjang kepadanya.
Karena setelah mempunyai istri, dia masih ingin mempunyai keturunan dari Adisha dan membesarkan anaknya dengan tangannya sendiri.
Tuan Arley segera merangkul putranya," Sudahlah, Boy. Sekarang, biarkan Laila bersama Mommy mu, memasak makanan apa pun yang dia inginkan. Kita, para pria lebih baik mencari kesibukan yang lain saja."
"Daddy benar, Adam sedang di ruang kerjanya. Membuat desain interior untuk rumah anak sultan di negeri sebrang, kita bantu Adam saja." ajak Arkana.
Adisha pun langsung terkekeh," Kalian pergilah, nanti kalau masakannya sudah jadi, aku akan memanggil kalian."
Tuan Arley dan Arkana nampak mengangguk setuju.
"Terimakasih, Sayang." ucap Tuan Arley.
Tuan Arley pun hendak pergi bersama Arkana, ke ruang kerja Adam. Tapi sebelum pergi, Tuan Arley pun mengecup bibir Adisha dengan lembut. Hal itu membuat Arkana dan Laila Saling pandang, karena ternyata cinta bisa membuat orang lupa akan umur, lupa tempat dan lupa jika mereka tidak sedang berdua.
"Ehm,, Dad... " Arkana mengingatkan jika masih ada orang lain di sana.
"Sorry," ucap Tuan Arley sambil terkekeh.
Arkana dan Laila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Adisha terlihat malu atas perbuatan suaminya.
Walaupun tak bisa dia pungkiri, jika suaminya itu sangat ahli dalam memanjakan istri. Walaupun usianya memang sudah tak muda lagi.