
Satu minggu kemudian, Eliza pun melakukan operasi pengangkatan kista dari rahim' nya. Devano,Tuan Bram dan juga Nyonya Berlin dengan setia menunggui Eliza di depan ruang operasi.
Tuan Bram dan nyonya Berlin, terlihat duduk di kursi tunggu. Tangan mereka saling menggenggam, saling menguatkan satu sama lain. Berusaha untuk berpikir positif, tentang hasil dari operasi Eliza nanti.
Sedangkan Devano, terlihat gusar. Sedari tadi, dia tidak bisa diam. Kerjaannya, hanya mondar-mandir saja seperti setrikaan panas.
Tuan Bram, langsung bangun dan merangkul pundaknya Devano.
"Duduk' lah, Nak. Eliza anak yang kuat, kamu pasti tahu bagaimana kuatnya istrimu." Tuan Bram langsung menuntun Devano untuk duduk.
Devano menurut, dia duduk di sebelah Nyonya Berlin. Akan tetapi, wajahnya tetap terlihat gusar.
Nyonya Berlin dan Tuan Bram langsung saling pandang, mereka sangat tahu jika dulu Devano sangat tidak menyukai putri mereka.
Tapi, jika tuhan sudah berkehendak, tak ada yang bisa melakukan apa pun. Tuhan benar-benar maha membolak-balikan hati manusia, dari yang terlihat benci, kini terlihat sangat menyayangi dan begitu takut untuk kehilangan.
Satu jam kemudian, pintu ruang operasi pun terbuka. Nampaklah seorang Dokter, yang keluar dari ruangan tersebut .
Tuan Bram, Devano dan juga Nyonya Berlin langsung menghampiri Dokter tersebut, mereka Langsung menanyakan tentang keadaan Eliza.
"Bagaiman keadaan istri saya, Dok?" tanya Devano.
Dokter tersebut pun, langsung tersenyum hangat pada Devano. Ada raut bahagia di wajah Devano, ketika melihat senyum Dokter tersebut.
"Operasi berhasil, keadan istri anda juga stabil. Tapi, istri anda belum bisa dikunjungi. Istri anda akan dipindahkan terlebih dahulu ke ruang perawatan, nanti setelah 2 jam baru anda bisa mengunjungi pasien di ruang perawatan." Dokter menjelaskan dengan gamblang.
Devano, Tuan Bram dan Nyonya Berlin langsung bernapas dengan lega.
"Syukurlah kalau begitu, terima kasih atas informasinya." Devano berucap sambil menjabat tangan Dokter tersebut.
"Sama-sama, Tuan." ucap Dokter tersebut.
Devano, Tuan Bram dan juga Nyonya Berlin terlihat sangat senang, bahkan tanpa sadar Devano langsung memeluk kedua mertuanya tersebut.
"Istri ku baik-baik saja, Mah, Pah. Devan seneng banget," ucap Devan.
"Papah juga seneng," ucap Tuan Bram.
Sedangkan Nyonya Berlin tak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa mengelus lembut punggung Devano.
*/*
Dua jam kemudian, Devano pun sudah berada tepat di samping Eliza. Tangannya terus saja mengelus lembut punggung tangan Eliza.
Sedangkan Tuan Bram dan Nyonya Berlin, sudah pulang. Karena Devano, tak mau jika kedua mertuanya sampai sakit karena kelelahan menunggu istrinya.
Sesekali Devano mengecup lembut tangan Eliza, jika mengingat saat dia suka mengabaikan Eliza, dia merasa sangat bersalah terhadap istrinya tersebut.
Dulu, Eliza memang selalu terlihat pecicilan dan terkesan seperti wanita nakal. Tapi, Devano sadar, jika Eliza melakukan hal itu hanya padanya, itu pun karena Eliza ingin mendapatkan perhatian dari' nya.
"Bangun, Sayang. Mas, kangen." Devano mengecup bibir Eliza dengan lembut.
Tak lama, kelopak mata Eliza terlihat bergerak. Devano pun sangat senang, dengan cepat dia pun langsung memanggil Dokter dan suster untuk melakukan pemeriksaan.
Tak lama Dokter dan suster pun nampak masuk kedalam ruangan Eliza, Devano nampak bangun. Dia sengaja memberikan ruang, agar Dokter dan suster bisa memeriksa Eliza dengan leluasa.
dengan cekatan, Dokter dan suster itu pun langsung melakukan pemeriksaan terhadap Eliza. Sedangkan Devano, terlihat berdiri sambil melipat tangannya di depan dada.
Dia memperhatikan bagaimana, cara Dokter dan suster tersebut memeriksa keadaan istrinya. Tak lama pemeriksaan pun telah selesai, Devano pun langsung menghampiri Dokter tersebut dan menanyakan keadaan istrinya.
" Bagaimana, Dok? Apakah keadaan istri saya baik-baik saja?" tanya Devano
Dokter pun tersenyum, lalu dia pun menjawab pertanyaan Devano.
"Keadaan istri anda sudah sangat stabil, sebentar lagi dia pasti akan sadar." jelas Dokter.
"Itu, Dok. Kalau misalkan masa penyembuhannya, butuh berapa lama ya, Dok?" tanya Devano.
"Untuk penyembuhannya, membutuhkan waktu sekitar 4 sampai 6 minggu. Dan saya harap, selama masa penyembuhan itu, anda dan istri tidak melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu. Area intinya memang tidak masalah, tetapi di dalam rahimnya masih terdapat luka yang masih basah." jelas Dokter.
"Harus selama itu ya, Dok?" tanya Devano.
Dokter itu nampak terkekeh," Anda harus bersabar. Ingat, tidak baik jika kalian melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu. Nanti bisa terjadi infeksi pada rahim istri anda," ucap Dokter mengingatkan.
Devano pun tampak menganggukkan kepalanya, dia paham dengan apa yang di katakan oleh Dokter. Tugasnya saat ini, adalah merawat istrinya agar cepat sembuh.
Tentunya, Devano juga harus berusaha untuk menahan hasratnya.
Setelah pemeriksaan selesai, Dokter dan suster tersebut pun langsung berpamitan kepada Devano. Devano pun kini duduk kembali di samping istrinya, dia memandang wajah istrinya dengan tatapan sendu.
"Kita baru saja menikah, harusnya lagi anget-anget'nya. Tapi, mulai hari ini aku harus puasa. Enam minggu, Yang. Bagimana nasibnya punya Mas, Sayang?" tanya Devano pada Eliza yang masih terpejam.
Tak lama kemudian, Eliza pun nampak tersadar. Devano pun sangat bahagia, dia langsung menghujani wajah istrinya dengan ciuman.
"Sudah bangun?" tanya aja Devano.
"Hem," jawab Eliza lemah.
"Sakit ya?" tanya Devano sambil mengelus lembut punggung tangan Eliza.
"Banget, apa kata Dokter, Mas?" tanya Eliza.
"Katanya, aku harus puasa selama enam minggu. Kayaknya aku ngga bakal tahan deh, apa lagi punya kamu enak banget, sempit lagi." Devano mengadu dengan wajah sendu.
"Ya ampun, Mas. Aku nanya keadaan aku, bukan mau dengerin keluhan kamu." Eliza berkata sambil menahan tawa.
Dia takut kalau, dia tertawa, luka bekas operasi nya akan terasa sakit.
"Sayang,, nanti gimana akunya?" tanya Devano manja.
"Apanya yang gimana?" tanya Eliza.
"Kalau akunya pengen gimana?" tanya Devano.
"Ya ampun, Mas. Masih itu aja yang di bahas," protes Eliza.
"Tapi kan, Yang. Kita pengantin baru, aku lagi rajin-rajinnya main kuda-kudaan sama kamu, kalau kamunya belum sembuh, aku belum bisa main kuda-kudaan lagi." keluh Devano.
"Nanti, aku puasin Mas, dengan cara lain." ucap Eliza.
Dia sudah tak tahan dengan rengekan manja suaminya, jalan satu-satunya, dia yang harus bisa memanjakan milik suaminya dengan cara lain.
Devano langsung tersenyum," memangnya ada cara lain, Yang?"
"Ada," jawab Eliza.
"Mas, jadi penasaran. Mas, pengen buru-buru nyoba." Devano langsung mencium kening Eliza.
Eliza nampak menampilkan senyum manis'nya, dia tahu jika nanti dia punya tugas baru.
Sedangkan Devano yang sedari dulu tak pernah pacaran, apa lagi bermain perempuan, sangat penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh istrinya nanti.
+
+
+
Selamat hari senin, jangan lupa sisain Vote'nya buat Othor ya, 💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓 sekebon kacang untuk Kaleyan.