
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, pesta pun sudah usai. Semua tamu yang hadir sudah meninggalkan kediaman Tuan Arley, bahkan Arkana, Laila, Adam dan juga semua keluarga paman Adisha sudah pulang.
Hanya ada keempat orang adik, Adisha yang masih tinggal di sana. Karena memang Tuan Arley, belum memberikan izin untuk mereka pulang.
Kini, Tuan Arley sudah berada di dalam kamarnya bersama dengan Adisha yang sudah resmi menjadi istrinya.
Adisha nampak berdiri di depan meja rias, Tuan Arley dengan setia membantu Adisha untuk membuka riasan di atas kepala Adisha.
Setelah semua riasannya terlepas, Tuan Arley nampak mengurai rambut panjang Adisha.
"Sedikit lengket, sekarang aku bantu buat buka bajunya, ya? Biar kamu bisa cepat madi, dan--"
"A--apa?" tanya Adisha gugup.
Tuan Arley tak menjawab pertanyaan istrinya, dia langsung membuka resleting gaun pengantin Adisha. Kemudian Tuan Arley nampak menjatuhkan gaun pengantin Adisha, hingga memperlihatkan tubuh indah istrinya yang hanya berbalut dalaman saja.
Adisha terlihat malu-malu, dia pun segera berlari menuju kamar mandi. Dia merasa malu, saat tubuhnya di lihat oleh laki-laki. Walaupun pada kenyataannya, mereka memang sudah menjadi pasangan halal.
Adisha langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat, dia ingin segera menyelesaikan ritual mandinya dan segera beristirahat.
Tunggu dulu, istirahat?
Mana mungkin, secara ini adalah malam pertama mereka. Yang ada, Adisha tak akan bisa istirahat, karena ulah suaminya.
Adisha mulai membayangkan adegan-adegan dewasa yang pernah dia tonton selintasan di iklan salah satu sosial media, Adisha nampak bergidig.
Adisha mulai takut, dengan rasa sakit yang katanya akan terasa sangat menyiksa bila pertama kali melakukannya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, bagi Adisha untuk menyelsaikan ritual mandinya. Saat dia akan keluar dari kamar mandi, dia merasa bingung, karena tak membawa handuk.
Dengan terpaksa, Adisha membuka sedikit pintunya. Dia melihat Tuan Arley yang sedang duduk di sofa dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya sambil bermain ponsel.
Adisha sempat menelan ludahnya dengan susah payah, karena ternyata tubuh Tuan Arley begitu bagus. Bahkan Tuan Arley, tak terlihat seperti pria paruh baya.
Dia masih terlihat tampan dan muda, Adisha malah melupakan niat awalnya, dia malah asik melihat wajah tampan Tuan Arley dengan segala kemolekan tubuhnya.
Tuan Arley yang menyadari kelakuan Adisha, langsung menyimpan ponselnya dan menghampiri Adisha. Adisha terlihat sangat gugup, dia malu karena tak memakai apa pun.
"Kenapa, Sayang?"
"Em, itu. Aku lupa tak membawa handuk, boleh minta tolong di ambilkan?" pinta Adisha.
"Boleh, Sayang. Bisa buka pintunya lebih lebar lagi?"
Dengan wajah ragu, Adisha nampak membuka pintu kamar mandi tersebut. Tuan Arley langsung masuk, sedangkan Adisha nampak kaget dan langsung menarik tirai yang berada di dekat bathup.
Tuan Arley nampak terkekeh," Kita sudah jadi pasangan sah, Sayang."
Tuan Arley langsung menghampiri Adisha dan menggendong wanitanya, Adisha nampak kaget. Karena tubuhnya langsung menempel sempurna di tubuh lelaki yang kini telah resmi menjadi suaminya.
"Sa--Sayang, jangan seperti ini!!" ucap Adisha.
"Kenapa?"
"Aku, malu." ucap Adisha.
"Ngga usah malu, kamu cantik. Kamu seksi, aku suka."
Adisha tak mampu berkata apa-apa lagi, dia hanya diam dan menurut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
Tuan Arley langsung mendudukan Adisha di atas tempat tidur, mengambil handuk dan membantu Adisha mengeringkan rambut dan tubuhnya.
Tapi dengan cepat Adisha menahan tangan kekar milik suaminya itu," jangan!! "
"Kenapa?"
"Kamu belum mandi, mandi dulu sana."
"Tapi, aku masih wangi. Mandinya nanti saja, setelah--"
Tuan Arley nampak menggantungkan ucapannya, dia malah merebahkan tubuh istrinya. Adisha nampak gelisah, dia merasa takut bercampur penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Tuan Arley.
"Ma--mau, apa?"
Tuan Arley tak menjawab, dia malah mengungkung tubuh wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Tuan Arley nampak mencium bibir Adisha, yang terlihat begitu ranum.
Adisha hanya terdiam, tapi dia begitu menikmati ciuman yang diberikan oleh suaminya.
Merasa mendapatkan respon yang baik, Tuan Arley meneruskan aksinya, bibirnya sudah mulai turun ke bawah mencari sesuatu yang sejak tadi ingin dia cicipi.
Adisha makin gelisah, tapi ternyata sentuhan sang mantan Casanova, mampu memberikan sesuatu yang belum pernah Adisha rasakan.
Adisha terlihat terbuai dengan permainan yang diberikan oleh sang ahli, hingga pada saat area intinya sudah mulai mendapatkan dorongan, Adisha langsung melotot sambil mencengkram punggung Tuan Arley.
"Sa--kit," ucap Adisha.
Tuan Arley langsung mencium bibir istrinya, dia berusaha menyalurkan rasa tenang pada perempuan yang berusia delapan belas tahun lebih muda darinya.
Setelah melihat perubahan raut wajah istrinya yang terlihat lebih tenang, Tuan Arley pun langsung melanjutkan kembali kegiatan yang sudah sangat lama tak pernah ia lakukan.
Saat miliknya sudah masuk ke dalam kelembutan milik Adisha, Tuan Arley nampak memejamkan matanya, merasakan sebuah kenikmatan yang tak pernah dia rasakan.
"Ya ampun,, ternyata rasanya begitu luar biasa jika melakukannya dengan pasangan halal. Terimakasih, tuhan. Karena masih memberikan kesempatan indah, pada si tua yang penuh dengan limpahan dosa ini."
Tuan Arley nampak menikmati permainannya, begitupun dengan Adisha. Awalnya dia terlihat kesakitan tapi lama-kelamaan dia pun menikmati permainan yang disuguhkan oleh suaminya itu.
Tubuh Adisha terasa tak menjejak bumi, dia merasa terbang melayang entah di bawa kemana oleh suaminya. Hanya ada lubung kenikmatan yang dia rasa saat ini, dengan menyerahkan harta berharga miliknya, dengan menikahi pria baik yang baru dia kenal.
Adisha sudah memutuskan, akan mengabdikan hidupnya pada lelaki yang untuk pertama kalinya memberikan kenikmatan padanya, memberikan kebahagiaan dan memberikan perhatian yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya.
Malam ini mereka benar-benar menghabiskan waktu untuk berbagi kenikmatan, saling menyalurkan rasa kasih dan berlomba untuk mencapai sebuah rasa nikmat yang tiada tara.
Pukul dua pagi, Adisha terlihat sangat lelah dan langsung tidur. Tuan Arley pun nampak tersenyum, dia langsung mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Terimakasih, Sayang. Aku beruntung mendapatkan dirimu, yang masih polos tapi benar-benar bisa menjaga kesuciannya." ucap Tuan Arley.
Tuan Arley begitu senang, dia terus saja menatap wajah cantik istrinya. Tiba-tiba saja, bunyi ponsel membuyarkan lamunannya.
Dengan cepat, Tuan Arley langsung mengangkat teleponnya.
"Ada apa?"
(............)
"Aku akan segera ke sana!!"
Tuan Arley langsung menutup teleponnya, dia segera mandi dan menggunakan baju lengkap dengan jaket tebal yang membalut tubuhnya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku harus pergi dulu," ucap Tuan Arley.
Tuan Arley langsung mengecup kening istrinya, kemudian dia segera berlalu dari rumah utama.