Who Is Adam?

Who Is Adam?
Imbalan



Pagi ini, Tuan Arley bersama Adisha, sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Setelah seminggu lebih mereka hanya berdiam diri dirumah saja, kini saatnya Tuan Arley untuk menginjakkan kakinya di perusahaan.


Walaupun, dia sudah mempercayakan pekerjaannya kepada orang kepercayaannya.Tapi, tetap saja dia juga harus mengawasi dan memeriksa beberapa pekerjaan yang memang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.


Lalu, untuk apa Adisha ikut?


Tentu saja untuk menemani sang suami di sana, Adisha memang tidak boleh bekerja lagi di sana. Tetapi, Adisha diberi wewenang oleh Tuan Arley di sana.


Boleh dibilang, Adisha sekarang adalah orang kedua setelah Tuan Arley. Bahkan, jika Tuan Arley sedang tidak ada, Adisha bisa mengambil keputusan tanpa ada yang bisa mangganggu gugat.


"Sudah siap?" tanya Tuan Arley.


"Sudah, Mas." jawab Adisha.


Tuan Arley pun langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan miliknya bersama Adisha, selama perjalanan menuju kantor. Tuan Arley terus saja menggenggam tangan kanan Adisha dengan erat, sesekali, Tuan Arley mengecup punggung tangan Adisha.


Sampai di perusahaannya, Tuan Arley langsung merangkul pundak Adisha. Dia pun, langsung membawa istrinya masuk ke dalam ruangannya.


Baru saja Tuan Arley duduk bersama Adisha, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Tuan Arley pun, segera mengambil ponselnya.


Ternyata, 1 panggilan masuk dari anak buahnya. Tuan Arley langsung menggeser tombol hijau, untuk menjawab telepon dari anak buahnya tersebut.


"Ada apa?" tanya Tuan Arley.


"(...........)"


"Baiklah, aku akan segera ke sana." jawab Tuan Arley.


Tuan Arley pun, segera menutup sambungan teleponnya. Kemudian, dia pun merangkul pundak Adisya dan membawanya ke pelukannya.


Dengan penuh kasih, Tuan Arley mengecup kening Adisha. Kemudian, berakhir dengan ciuman di bibir Adisha.


Adisha langsung menyambut ciuman hangat dari suaminya, dia sangat suka saat Tuan Arley menciumnya. Karena Tuan Arley, selalu menciumnya dengan sangat lembut.


"Aku pergi dulu, kamu jangan cape-capek. Kalau butuh apa-apa, minta OB buat bantuin." Tuan Arley mengusap lembut bibir Adisha, Adisha nampak tersenyum.


"Mas, mau kemana? Aku ngga boleh ikut?" tanya Adisha.


"No, Sayang. Nanti kamu cape, aku pergi nya agak jauh. Mungkin, aku pulangnya sorean." Tuan Arley berjongkok, lalu mengecup perut istri nya.


Adisha tersenyum melihat tingkah laku suaminya, Adisha tahu, jika suaminya begitu menginginkan keturunan darinya. Adisa lalu mengelus lembut rambut Tuan Arley, kemudian dia pun mengecup bibir Tuan Arley dengan lembut.


"Sabar ya, Sayang. Kita baru satu minggu menikah, siapa tahu bulan depan sudah ada Arley junior disini." ucap Adisha menghibur.


Tuan Arley langsung tersenyum, dia begitu senang dengan apa yang diucapkan oleh istrinya. Dia juga sangat senang, karena Adisha, bisa menerima dirinya. Walaupun, perbedaan usia di antara mereka begitu sangat jauh.


"Ya, aku akan sabar. Aku juga akan terus berusaha, agar kamu cepat hamil." ucap Tuan Arley.


Adisha nampak tersenyum," Hem. Sekarang, pergilah. Hati-hati di jalan, jangan mampir-mampir."


Setelah mendapatkan izin dari istrinya, Tuan Arley pun mengecup bibir Adisha. Setelah itu, Tuan Arley pergi meninggalkan Adisha.


Tuan Arley melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh anak buahnya, 1 jam perjalanan tibalah dia di pinggiran kota.


Mobil yang Tuan Arley kendarai, berhenti tepat di depan gedung yang telah terbengkalai. Dengan langkah perlahan, Tuan Arley pun masuk ke dalam gedung yang terbengkalai tersebut.


Tak lama, dua orang anak buahnya menyambut kedatangannya. Mereka membawa Tuan Arley, masuk ke dalam gedung tersebut.


Saat dia masuk ke dalam ruangan tersebut, ruangan itu terlihat sangat gelap, terasa begitu pengap dan bau. Tuan Arley mengedarkan pandangannya, dia melihat sepasang suami istri yang sedang terikat di sebuah kursi besi.


Lalu, siapa mereka? Kenapa Tuan Arley menangkap mereka berdua?


Keadaan mereka terlihat sangat mengenaskan, terdapat beberapa luka lebam di sekujur tubuh Jhoy. Sedangkan di tangan dan kaki istrinya, terdapat beberapa luka goresan.


Mata mereka terlihat di tutup memakai kain, sedangkan bibir mereka di tutup oleh lakban.


Tuan Arley melangkahkan kakinya, dia mendekati Jhoy beserta istrinya. Saat mendengar derap langkah yang kian mendekat Jhoy pun bergumam tidak jelas.


"Buka penutup mata dan lambannya!!" titah Tuan Arley.


Salah satu anak buahnya pun dengan sigap langsung melakukan titah Tuan besarnya.


Saat penutup mata dan lakban nya dibuka, Jhoy dan istrinya merasa kaget melihat orang yang berada di depannya. Mereka merasa tidak mengenal orang tersebut, lalu, kenapa mereka ditangkap oleh orang tersebut?


"Siapa kalian??! Kenapa memperlakukan kami seperti ini?!" teriak Jhoy.


Tuan Arley pun langsung tertawa," Hahahahhaha...."


Mendengar suara gelak tawa dari Tuan Arley, Jhoy terlihat sangat emosi.


"Bangsad!!! Dasar sialan!! Lepaskan kami, kami tidak ada urusan dengan kalian!!" teriak Jhoy.


"Pelankan sedikit suaramu itu, nanti pita suaramu bisa rusak." ucap Tuan Arley.


"Dasar Baji*ngan, lepaskan kami!!" teriak Jhoy.


"Tenanglah, Jhoy. Aku akan melepaskanmu, tentunya setelah kamu mendapatkan balasan dari ku." ucap Tuan Arley.


"Dasar bede*bah, lepaskan kami!! Kami tak butuh balasan apa pun dari mu, kami tak mengenalmu." ucap Jhoy melemah, karena anak buah Tuan Arley langsung memukul bahu Jhoy.


Anak buah Tuan Arley juga langsung memasang penutup mata dan juga memasangkan lakban di mulut Jhoy dengan kasar, pria itu terlalu berisik.


"Aaaa,, jangan pukul suamiku!!! Jangan perlakukan suamiku seperti itu!!" teriak Alana, istri Jhoy.


"Tenang saja, Nyonya Alana. Suamimu tidak akan mati di sini, tapi kalian akan mati di penjara. Karena sebentar lagi, kami akan mengantarkan kalian ke sana." ucap Tuan Arley.


"Siapa sebenarnya kalian?!" tanya Alana.


"Aku orang tua Laila, wanita yang sudah kamu sakiti. Beruntung dia hanya lecet di bagian kaki dan tangannya, jika sampai terjadi sesuatu pada janin yang dia kandung, aku pastikan kalian akan mati di sini." jelas Tuan Arley.


"Jangan!!! Aku mohon lepaskan kami, anak kami masih kecil, baru berusia empat tahun. Jangan penjarakan kami," ucap Alana memelas.


"Sebelum kalian berbuat, seharusnya kalian tahu resikonya. Untuk anak mu, aku akan membawanya ke panti asuhan, jika kalian masih bisa terbebas dari jerat hukum, ambil dia di panti. Tapi, sepertinya kalian akan mendapatkan hukuman mati." terang Tuan Arley.


"Jangan, Tuan. Jangan masukan kami ke penjara," pinta Alana memelas.


"Kenapa? Takut karena kejahatan kalian sudah terlalu banyak, menjadi perampok hingga menjadi kurir narkoba tingkat internasional. Iya?!" tanya Tuan Arley.


"Maaf kan kami, Tuan. Kami janji, akan bertaubat." ucap Alana.


"Bertaubatlah, sebelum ajal menjemput kalian." ucap Tuan Arley.


Alana terlihat berteriak dengan histeris, sedangkan anak buah Tuan Arley langsung menghampiri Tuannya.


" Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, Mister?"


"Bius mereka, dan antarkan ke penjara."


"Baik, Mister. "