Who Is Adam?

Who Is Adam?
Ceroboh



Pagi ini Tuan Arley sudah siap dengan setelan kerjanya, dia benar-benar memutuskan untuk tinggal di ibu kota agar bisa dekat dengan anak dan cucunya.


Tuan Arley nampak berdiri di depan cermin, dia sedang mematut dirinya. Untuk sesaat dia hanya terdiam, dia sedang memikirkan apa saja yang akan dia lakukan hari ini.


Tentunya selain bekerja, karena menurutnya pekerjaan sudah mulai membosankan. Mungkin karena faktor usia, atau mungkin dia memang sudah sangat cape dengan pekerjaan yang selama ini menguras tenaganya.


Tuan Arley, mulai berpikir jika dia membutuhkan hal yang membuatnya bahagia di saat usia tuanya.


Tuan Arley terlihat sangat tampan, apa lagi kemarin dia baru melakukan perawatan. Tentunya semua bulu halus di wajahnya kini sudah tidak ada, hanya aura ketampanan yang kini terpancar.


Tuan Arley bahkan sudah berencana, jika perusahaan yang berada di Amerika, akan dia limpah kuasakan pada Fernandez. Dan untuk pengesahannya, minggu depan dia berencana akan pergi ke sana.


Tuan Arley memang sudah sangat percaya pada Fernandez, usia Fernandez sepuluh tahun lebih muda darinya.


Dulu Tuan Arley menolongnya dari kesusahan, memberinya pekerjaan dan tempat bernaung. Maka dari itu, Fernandez begitu setia pada Tuan Arley.


Bahkan Fernandez bisa menikah dengan istrinya, karena campur tangan dari Tuan Arley. Sedangkan Tuan Arley sendiri, malah belum menikah sampai sekarang.


Tuan Arley, memang sangat suka bergonta-ganti wanita hanya untuk sekedar pemuas nafsunya. Tapi entah kenapa, setelah mengetahui kalau dia mempunyai putra dari Alina, Tuan Arley merasa enggan untuk bermain dengan wanita.


Rasanya sudah cukup dia bersenang-senang dengan dosa, yang dia ingin lakukan saat ini, hanyalah memulai semuanya di jalan yang benar.


"Tuan, sarapan sudah siap."


Satu teguran dari sang asisten rumah tangga, menyadarkannya dari lamunan.


"Eh, Bibi.." ucap Tuan Arley dengan dahi yang sudah berkerut dalam.


"Maaf, Tuan. Saya sudah lancang masuk ke kamar, Tuan. Saya sudah memanggil Tuan, dari tadi tapi ngga ada sahutan." ucapnya seraya menunduk takut.


"Eh ? Saya Bi, yang seharusnya minta maaf. Saya terlalu serius dengan lamunan saya," ucap Tuan Arley.


Sang asisten pun langsung mengangkat wajahnya, kemudian dia memperhatikan wajah majikannya. Nampaklah Tuan Arley yang sedang tersenyum padanya, Bibi pun langsung ikut tersenyum.


"Ayo, Bi." Tuan Arley melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


Bibi pun mengikuti Tuan Arley, dan segera menyiapkan sarapan untuk majikannya itu. Selsai sarapan, Tuan Arley langsung berangkat ke kantor.


Mobil yang Tuan Arley kendarai pun sudah sampai di depan perusahaan miliknya, Tuan Arley pun langsung masuk.


Para karyawan nampak membungkuk hormat, Tuan Arley pun berhenti sejenak dan tersenyum pada para karyawan nya.


Brugh!!


"Aww,, "


Tuan Arley merasa ada yang menabrak punggungnya, kemudian dia mendengar suara seorang wanita yang sedang merintih kesakitan.


Tuan Arley pun langsung membalikkan tubuhnya, dan saat tubuhnya sudah berbalik dia melihat seorang perempuan yang sedang duduk, tangan kirinya mengusap hidungnya, sedangkan tangan kanannya mengusap bokongnya yang terasa sakit.


Tuan Arley memandang sejenak wajah perempuan cantik itu, terlihat sangat modis dan rapi.


"A--"


"Adisha, Om. Eh? Mister, maafkan saya." ucap Adisha seraya meremas kedua tangannya.


"Kamu tuh ya,, seneng banget nabrak punggung saya."


Adisha nampak nyengir kuda," Maaf, Mister. Saya terburu-buru."


Tuan Arley segera mengulurkan tangan kanannya, Adisha nampak tersenyum dan langsung menerima uluran tangan Tuan Arley.


Adisha pun akhirnya bangun dengan dibantu oleh Tuan Arley, Adisha nampak tersipu. Apa lagi saat tangannya bersentuhan, begitu halus dan... entah lah Adisha pun tak mengerti.


Untuk sesaat Adisha pun terdiam, dia begitu betah mendongakan kepalanya hanya untuk memandang wajah Tuan Arley yang terlihat lebih tampan menurutnya.


Padahal, menurut artikel yang dia baca. Tuan Arley sudah berusia lima puluh tahun. Tapi jika diperhatikan, Tuan Arley terlihat lebih muda sepuluh tahun dari usianya.


"Ehm,,, "


Suara deheman yang cukup keras membuat Tuan Arley, maupun Adisha langsung menoleh ke arah suara.


"Mrs. Laurent, "


"Laurent, "


Adisha dan Tuan Arley berucap bersamaan.


"Selamat pagi, Mister." sapa Laurent.


"Pagi," jawab Tuan Arley.


"Apa ada masalah, Mister?" tanya Laurent seraya memandang tajam ke arah Adisha.


Adisha langsung tertunduk takut.


"Tidak ada," jawab Tuan Arley seraya berlalu dan masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.


Adisha dan Laurent pun langsung mengekori Tuan Arley.


Saat berada di dalam lift, suasana terasa canggung untuk Adisha. Karena dia, harus berdampingan dengan pemilik perusahaan dan juga orang yang berpengaruh dalam perusahaan.


Namun suasana itu tak berlangsung lama, karena pintu lift terbuka, dan itu menandakan jika Adisha sudah sampai di lantai dua puluh lima tempat dia di tempatkan untuk bekerja.


Tak lupa, Adisha pun membungkuk hormat pada kedua manusia penting yang berada di dalam lift tersebut.


Setelah keluar dari lift, Adisha langsung mengambil napas panjang. Setelah itu, Adisha langsung masuk ke dalam ruangan Divisi pemasaran tempat nya mencari cuan .


"Akhirnya,, bisa lepas juga dari tatapan singa betina lapar." ucap Adisha lirih.


"Siapa, Singa betina lapar? " tanya Adrian teman satu Divisi Adisha.


Adisha langsung terlonjak kaget saat mendapatkan pertanyaan dari Adrian, pasalnya saat dia masuk, dia tak melihat siapa pun di sana.


"Elu, ngagetin gue !!" kesal Adisha.


"Sorry, muka elu lucu banget kalau kaget kaya tadi." Adrian berucap dengan senyum manis di bibirnya.


"Ngga usah senyum-senyum, jijik gue." Adisha langsung menyalakan laptop yang ada di atas mejanya.


+


+


+


Halo gengs,, maaf kalau kemarin ngga Up. Othor nya lagi ngga enak badan, semoga kalian sehat selalu dan bisa beraktifitas dengan baik.