Who Is Adam?

Who Is Adam?
Hari Minggu



Pagi ini, Adam terlihat sedang bermalas-malasan. Iya duduk di ruang tamu, sambil memainkan ponselnya. Hari ini adalah hari Minggu, tentu saja dia merasa sangat bosan.


Karena tidak ada kegiatan yang bisa dia lakukan, biasanya dia akan menghabiskan waktu di kantornya. Sedangkan Di hari libur seperti ini, dia malah terlihat kebingungan mau melakukan apa.


Saat sedang asyik berselancar dengan ponselnya, tiba-tiba saja ada seorang gadis cantik yang menghampiri Adam.


"Ehm, permisi, Kak. Al'nya ada?" tanya gadis itu.


Adam nampak mendongakkan kepalanya, dia melihat gadis yang sangat manis sedang menatapnya dengan tatapan kagum.


"Temannya Al?" tanya Adam.


"Hu'um, Kak. Al'nya, ada?" tanyanya sekali lagi.


"Ada, nama kamu siapa?" tanya Adam.


"Alesta, Kak." Jawabnya dengan senyum manisnya.


"Baiklah, kamu tunggu sebentar." Kata Adam.


Adam memperhatikan penampilan Alesta, terlihat memakai setelan olah raga. Terlihat sangat cantik dan modis, bahkan bodynya saja aduhai.


Sudah bisa dipastikan, jika usianya saja lebih tua dari Al, anak itu memang benar-benar bukan playboy kaleng-kaleng.


Padahal, kemarin saja pas pulang dari apartemen. Ada wanita cantik yang datang dengan membawa kue brownies, anaknya terlihat manis dan sedikit pendiam.


Adam pun segera bangun dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Al, sampai di depan kamar Al. Pintunya terbuka dari dalam, Al terlihat modis dengan baju olah raga yang dia pakai.


Adam pun langsung berdecak, sepertinya mereka memang sudah janjian. Karena baju yang mereka kenakan pun terlihat samaan.


"Mau kemana?" tanya Adam.


"Joging, Kak. Kakak mau ikut?" ajak Al.


"No, males." Jawab Adam.


"Oh, ayolah, Kak. Kita bersenang-senang, siapa tahu ada gadis cantik yang mau berkencan dengan Kakak." Goda Al.


"Ogah! Di depan ada cewek nyariin, noh." Adam langsung berlalu meninggalkan Al.


Sedangkan Al, langsung menghampiri Alesta yang sedang menunggunya di ruang tamu.


"Hai, Cantik." Sapa Al, sambil mencuil dagu Alesta.


Alesta terlihat melebarkan senyumnya, dia suka saat Al menggoda atau merayunya.


"Hai, kamu ganteng banget pake baju itu." Kata Alesta.


Dia memang sengaja memesan baju Couple, agar. mereka terlihat lebih serasi.


"Makasih, ya. Kamu emang the best," puji Al.


Al. memang tipe cowok yang jarang memberi hadiah pada wanita. Karena biasanya, Al lah yang biasanya mendapatkan kado dari para permpuan cantik, yang selalu mengejar-ngejar dirinya.


Alesta terlihat tersipu," mau berangkat sekarang?"


"Hu'um, kita pamit dulu sama ibu." Ajak Al.


Al dan Alesta pun langsung ke dapur untuk menemui Laila, mereka akan berpamitan sebelum berangkat joging.


Sedangkan Adam, terlihat uring-uringan di dalam kamarnya. Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Adam memutuskan untuk bersepeda mengelilingi taman.


Adam langsung memakai kaos putih polos dan memakai celana trening, tak lupa sebelum pergi Adam pun berpamitan pada Laila.


Laila terlihat senang, karena akhirnya Adam sudah mulai mau berbaur dengan lingkungan sekitarnya.


Adam mengayuh sepedanya dengan santai menuju taman, sepanjang perjalanan menuju taman, banyak pasang mata yang mengagumi ketampanan Adam.


Bahkan bentuk tubuh tubuh Adam yang terlihat sempurna pun, tak luput dari tatapan wanita-wanita muda yang hendak pergi ke taman.


Sampai di taman, Adam langsung menyimpan sepedanya. Lalu, dia pun berlari-lari kecil. Berolah raga, seperti yang dilakukan orang-orang yang ada di sana.


Keringat juga terlihat membanjiri tubuhnya, karena tanpa terasa Adam sudah berlari selama hampir satu jam. Merasa sudah lelah, Adam pun duduk di bangku taman sambil melihat banyak orang yang sedang berlalu lalang di taman tersebut.


Di sana juga banyak pasangan muda-mudi, yang sedang berpacaran. Padahal kalau dilihat-lihat, mereka terlihat masih sangat muda.


Masih berusia sekitar lima belas sampai tujuh belas tahun, tapi mereka malah dengan santainya berpegangan tangan.


"Ck, ternyata bukan hanya di luar negeri yang mengalami pergaulan bebas." Adam bergumam seraya memperhatikan para muda-mudi yang sedang joging sambil berpacaran.


Bahkan, tak jauh dari tempat Adam. Dia bisa melihat Al yang sedang bercanda dengan Alesta, bahkan sesekali Al mengecup pipi Alesta.


"Ya ampun, anak itu bener-bener playboy cap kampak." Adam menggeleng-gelengkan kepalanya.


Saat sedang asik memperhatikan Al, ternyata tak jauh dari sana. Ada seorang gadis yang sangat dia kenal, dia terlihat sangat cantik dengan hanya menggunakan kaos berwarna abu dan trening berwarna hitam.


Tapi, yang dia heran. Gadis itu membawa keranjang, dan terlihat menawarkan kue di tangannya. Adam pun segera berlari kecil ke arah Sisil.


Ya, wanita yang dia lihat adalah Sisil yang sedang berjualan kue di taman.


"Sil," panggil Adam.


Sisil yang sedang berjongkok' pun langsung mendongakkan kepalanya, dia langsung tersenyum saat melihat Adam yang sudah berada tepat di sampingnya.


"Tuan Adam, anda sedang apa?" tanya Sisil.


"Lagi nyari tempat yang nyaman buat tidur," jawab Adam asal.


Dahi Sisil nampak berkerut, pasalnya jawaban Adam tak masuk di akal. Adam langsung terkekeh melihat ekspresi wajah Sisil.


"Masa sih, Tuan? Kalau mau tidur nyaman, ya di rumah." Jawab Sisil polos.


"Ya ampun, Sil. Aku lagi joging, ya kali datang kemari untuk tidur." Jelas Adam.


Sisil langsung tersenyum sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, dia kira Adam beneran mencari tempat tidur yang nyaman.


Tapi, menurutnya. Tidur di bawah pohon dekat Danau yang berada tak jauh dari taman juga, terlihat nyaman.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Adam.


"Nyari duit, Tuan. Kali aja ada yang buang," jawab Sisil sambil tersenyum.


"Kamu tuh, mana ada yang seperti itu. Jualan kue, kamu?" tanya Adam.


"Iya, Tuan. Tuan, mau beli?" tanya Sisil.


"Saya coba dulu, kalau enak. Saya borong," ucap Adam.


Sisil langsung bangun dan nampak tersenyum, dia menarik tangan Adam dengan lembut. Lalu, menyuruh Adam untuk duduk bersama dengannya.


Adam sempat memperhatikan tangan kecil Sisil yang menggenggam tangan besar milik Adam, lalu Adam pun tersenyum.


"Silahkan, Tuan. Mau kue yang mana?" tanya Sisil.


Dengan penuh percaya diri, Sisil menawarkan kue buatan Sisil pada Adam. Adam pun mengambil kue brownies, dengan perlahan dia menyuapkan kue brownies tersebut ke dalam mulutnya.


"Enak, kalau begitu. Aku beli semua," ucap Adam.


"Serius, Tuan?" tanya Sisil dengan mata yang berbinar.


Tanpa banyak bicara, Adam langsung mengambil dompetnya lalu menyerahkan lima lembar uang berwarna merah kepada Sisil.


"Ini kebanyakan, Tuan." Ucap Sisil.


"Tidak apa, anggap saja rezeky untuk kamu." Kata Adam.


"Waah, Tuan memang the best." Sisil langsung mengacungkan dua jempolnya.


Adam langsung terkekeh," kuenya tolong dibagikan pada anak-anak yang ada di sana."


Adam menunjuk anak-anak kecil yang sedang asik bermain bola, tak jauh dari sana.