Who Is Adam?

Who Is Adam?
Bertemu Dia



Setelah kejadian kemarin yang menimpa Adam, membuat Laila tak mengizinkan Adam untuk tinggal sendiri, Laila sudah memutuskan akan mengajak Adam pulang dan tak boleh tinggal lagi di apartemen miliknya.


Itu semua Laila lakukan, karena Laila takut jika putra sulungnya akan mengalami hal serupa. Padahal, Tuan Arley sudah menyiapkan banyak Bodyguard untuk menjaga Adam.


Akan tetapi, Laila merasa sangat khawatir. Dia lebih baik mengajak Adam pulang saja.


Lagi pula, Laila tak enak hati pada Sisil. Karena Adam pasti akan memanfaatkan Sisil, Laila juga sadar jika Adam dan Sisil hanya manusia biasa yang bisa saja melakukan khilaf dan salah.


Laila takut, jika Adam akan khilaf dan malah menerkam Sisil. Untuk mencegah semua keburukan yang kemungkinan akan terjadi, Laila pun memutuskan untuk tak mengizinkan Adam tinggal di apartemen miliknya lagi.


"Sayang, sekarang kita pulang saja. Ibu takut kamu kenapa-kenapa," ajak Laila.


Laila berharap Adam mau menerima ajakannya, karena dia tak mungkin akan tenang jika Adam berada jauh dari jangkauannya.


"Bu, Adam hanya ingin belajar mandiri." Adam memeluk Ibunya, dia berusaha meyakinkan Laila.


Adam bukannya tak mau pulang, hanya saja dia ingin belajar mandiri. Melakukan apa pun sendiri, dia tak mau terus merepotkan Ibunya.


"Ck, Ibu hanya ngga mau sampai ada Mharta yang lainnya." Laila berusaha untuk terus merayu Adam.


Adam terlihat mendesah pasrah, dia tak mungkin. mengabaikan perkataan Ibunya. Sedangkan Sisil, hanya bisa menatap Adam dan Laila secara bergantian.


"Sil, kamu setuju kan kalau Adam lebih baik tinggal di rumah Ibu lagi?" tanya Laila.


Sisil menatap Adam sebentar, dia kemudian dia menatap Laila.


"Ya, Nyonya. Sepertinya, Tuan Adam akan lebih aman kalau tinggal bersama dengan, Nyonya." Kata Sisil.


Laila terlihat kesal, saat Sisil masih menyebutnya dengan sebutan 'Nyonya'. Padahal Sisil adalah wanita yang dicintai oleh Adam, sudah sepatutnya dia memanggil Laila dengan sebutan 'lbu'.


"Sisil, panggil Ibu, Nak. Jangan Nyonya lagi!" kata Laila.


Sisil nampak tersenyum, lalu dia pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Baik, Bu." Jawab Sisil.


Laila langsung tersenyum senang karena Sisil sudah mau memanggilnya dengan sebutan Ibu. Pandangan Laila pun lalu beralih kepada Adam, dia menatap Adam dengan tatapan penuh permohonan.


Adam yang merasa tidak tega kepada ibunya pun, akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia pasrah, dia akan menuruti keinginan Ibunya. Walaupun, bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh hatinya.


"Baiklah, Bu. Adam menurut, Adam akan tinggal di rumah Ibu." Kata Adam.


Laila langsung tersenyum senang, karena keinginannya langsung terpenuhi.


"Terima kasih, Sayang." Laila langsung memeluk Adam, si putra sulung.


Sisil tersenyum kala melihat Adam yang berpelukan dengan Laila. Ada sedikit rasa iri di dalam hatinya, karena semenjak kecil Sisil sudah tidak bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.


Berbeda dengan Adam, yang selalu dengan mudahnya bisa mendapatkan kasih sayang dari Laila. Walaupun mereka sempat hidup dalam kekurangan dalam masalah harta, tapi kasih sayang seorang Ibu tak pernah kurang.


Ketika Adam sudah besar pun dan Adam sudah bisa memilih wanita yang dia cintai, tetap saja Ibunya masih memberikan perhatian yang sangat besar terhadap Adam.


Sisil menunduk, dia berusaha menahan sesak yang tidak tiba-tiba saja menyeruak di dalam hatinya. Bahkan, air mata Sisil pun sudah mulai merembes melewati pipi mulusnya.


Laila pun langsung menghampiri Sisil dan bertanya padanya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Laila.


Laila langsung mengelus lembut punggung Sisil, dia berusaha untuk menenangkan hati Sisil. Karena setelah Laila bertanya, bukannya Sisil menjawab tapi malah terisak dan langsung memeluk Laila.


Perlahan, tangan Laila pun terangkat. Dia mengelus puncak kepala Sisil, mengecup keningnya dan berusaha untuk menenangkan hatinya.


"Kamu kenapa? jangan buat Ibu khawatir!"


Laila kembali mengelus lembut punggung Sisil, karena Sisil malah makin terisak. Laila pun membiarkan Sisil dengan tangisnya, mungkin saja dengan menangis bisa menenangkan hatinya.


Tak lama kemudian, Sisil terlihat lebih tenang. Dia melerai pelukannya, lalu menatap Laila dengan intens.


"Sisil sedih, Sisil rindu Mom Marissa. Rindu Ayah Anggara juga, Sisil sedih." Sisil kembali terisak, dengan senang hati Laila pun berusaha untuk menghiburnya.


Adam dan Laila yang mendengar ucapan Sisil merasa Iba kepada gadis itu. Karena memang, sedari umur 5 tahun Sisil sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.


Adam pun jadi semakin ingin mempercepat melamar Sisil dan menikahinya, memberikan kebahagiaan kepada Sisil agar tidak ada lagi kata sedih di hari Sisil.


"Baiklah, Bu. Kita pulang sekarang, tapi Sisil harus tinggal di rumah Ibu juga." Pinta Adam.


Laila langsung tersenyum saat mendengar permintaan Adam. Menurut Laila, itu tidak masalah jika Sisil tinggal di rumahnya.


Karena di sana banyak orang dan juga di depan rumah Laila ada sebuah toko yang dia kelola, mungkin Sisil bisa membantunya agar tak merasa jenuh.


Garasi mobil yang dulu Adam sulap menjadi toko, sampai saat ini masih Laila pergunakan. Dia sengaja mempekerjakan Ibu-ibu kurang mampu yang tinggal tak jauh dari perumahan yang mereka tempati.


Hal itu, dia lakukan agar bisa membantu Ibu-ibu tersebut dalam masalah perekonomian yang dirasa semakin sulit.


Beruntung dulu Adam mau mengajarkan Ibu-ibu di sana untuk membuat aksesoris dari barang bekas, sehingga Ibu-ibu di sana bisa lebih kreatif dan mempunyai penghasilan.


"Oke, kita pulang sekarang." Laila langsung melerai pelukannya, kemudian dia menatap Sisil dengan Intens.


"Mau ya, Sil? kita tinggal bareng, kamu ngga usah takut. Aku ngga bakal ngapa-ngapain kamu, di sana banyak orang." Adam berucap seraya terkekeh.


Mendengar penuturan Adam, Sisi langsung melotot ke arah Adam. Dia tidak suka dengan apa yang barusan dikatakan oleh Adam.


"Jadi kalau di sana tidak ada orang, aku bakal diapa-apain gitu?" tanya Sisil dengan matanya yang terlihat melotot tajam.


"Bukan, Sil. Bukan seperti itu juga," sangkal Adam.


"Sudah jangan berdebat, mending kita pulang." Laila berusaha untuk menengahi perdebatan antara Adam dan Sisil.


Adam dan Sisil pun menurut, akhirnya setelah bersiap-siap mereka pun kini akan pergi ke rumah Laila. Tentunya mereka tak perlu membenahi apartemen milik Adam, karena di sana ada beberapa Bodyguard yang akan membantu merapikan apartemen milik Adam.


Saat mereka keluar dari apartemen Adam, ada seorang lelaki paruh baya yang sedang marah-marah di depan pintu apartement milik Martha.


Melihat siapa lelaki tersebut, Sisil langsung bersembunyi di balik tubuh Adam. Karena walau bagaimanapun juga, wajah Sisil begitu mirip dengan Momnya Marrisa, dia tidak mungkin menampakan wajahnya di depan lelaki paruh baya tersebut.