Who Is Adam?

Who Is Adam?
Mencari Rumah Baru



Pagi ini Laila mengantar Adam terlebih dahulu, Laila hanya mengantar nya sampai gerbang. Karna memang peraturan sekolah nya seperti itu, tak boleh ada yang mengantar sampai ke dalam kelas.


Setelah melihat anak nya masuk ke dalam kelas, Laila pun segera mengayuh sepeda nya menuju perumahan yang tak jauh dari sekolah Adam.


Laila bukan nya tak mampu untuk membeli motor, tapi dia merasa lebih nyaman saat memakai sepeda. Semalaman Laila pun berpikir, dia ingin mencari rumah satu lantai tapi cukup besar.


Tentu nya dia ingin rumah itu mempunyai halaman depan dan belakang yang cukup luas, agar dia bisa menanam bunga yang ia suka di depan rumah dan menanam sayuran di belakang rumah.


Sungguh sederhana pikiran nya, tak lupa dia juga sudah berencana untuk merenovasi satu ruangan khusus buat putra nya agar putra nya merasa senang dan nyaman saat bekerja.


Sebenar nya Laila takut jika dia di katakan sebagai orang tua yang memanfaat kan kemampuan putra nya untuk bertahan hidup, tapi Adam selalu meyakinkan jika tak akan ada orang yang berani mencibir mereka.


Ini adalah hobi yang sangat ingin Adam salurkan, jika dengan menekuni hobi bisa menghasilkan kan, kenapa tidak di wujudkan? Itulah pikiran Adam, anak kecil dengan pikiran berskala panjang dan luas.


Sampai di sebuah perumahan cukup elit, Laila pun menghampiri security yang sedang berjaga di depan gerbang. Dengan sangat sopan Laila pun bertanya pada nya, tapi security tersebut malah memandang Laila dengan tatapan remeh.


"Permisi pak, saya mau bertanya. Apa kah di sini masih ada rumah yang kosong? Semalam saya sudah melihat lewat internet, cuma takut nya sudah laku terjual. "


Tanya Laila sopan, security itu pun memandang Laila dari atas sampai bawah.Laila memang hanya menggunakan kemeja panjang berwarna biru laut dengan bawahan celana jeans berwarna hitam, Security itu pun tersenyum remeh.


Apa lagi saat melihat Laila hanya datang dengan sepeda lusuh nya dan warna nya sudah memudar, membuat security tertawa remeh.


"Di sini perumahan elite Mba, tak ada yang harga nya murah. Semua nya di atas tujuh ratus juta, Mba ngga salah datang ke sini? "


Laila pun menggeleng, "Tidak pak, tolong pertemukan saya dengan pengelola perumahan ini. Saya ke sini memang mau melihat rumah yang saya lihat di internet semalam, jika cocok pasti langsung saya bayar cash. "


Ucap Laila tegas, security itu makin memandang Laila remeh. Dia yakin jika Laila tak sanggup untuk membeli rumah di sana, tapi security itu tetap berniat untuk mempertemukan nya dengan pengelola perumahan tersebut.


Bukan karna kasihan, tapi security tersebut ingin mempermalukan Laila di depan Bos nya.


"Mari saya antar Mba,, "


Laila pun menurut, "Terimakasih pak,, "


Laila pun mengikuti langkah security tersebut, tak lama mereka pun berhenti di depan sebuah gedung berlantai lima.


Laila pun di ajak masuk dan di suruh menunggu di loby, tak lama seorang pria matang datang menghampiri Laila.


"Siang Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Perkenalan kan tuan, nama saya Laila."Ucap Laila seraya mengulurkan tangan nya.


"Agus,, "Ucap Nya seraya menerima uluran tangan Laila.


"Maaf tuan,saya malem sudah lihat beberapa model rumah di internet. Saya tertarik dengan rumah satu lantai yang berukuran 70 ,kira kira harga nya berapa ya pak? "


Pak Agus pun tersenyum,"Kami menyediakan banyak ukuran di sini, dari mulai tipe 21,tipe 36,tipe 45,tipe 54 dan tipe 70. semuanya ada dua jenis, satu lantai dan dua lantai. Harga sesuai desain ,luas dan tentu nya satu atau dua lantai nya. "


Pak Agus menjelaskan dengan begitu detail, Laila pun manggut manggut. Sedangkan security yang sedari tadi melihat perbincangan Laila dengan Bos nya hanya mencebik, dia yakin kalau Laila tak mampu membayar.


"Saya tertarik dengan yang satu lantai dengan ukuran 70 tuan, di sini harga nya tertera delapan ratus lima puluh juta. Apa tidak bisa kurang? "Tanya Laila.


"Itu harga cicilan selama satu tahun Nyonya, kalau Nyonya bayar nya cash kami kasih harga lebih murah dan tentu nya bonus pengurusan sertifikat tanah nya."


Security tersebut nampak syok, sedangkan Pak Agus langsung mempersilahkan Laila untuk duduk.


"Kalau begitu Ibu silahkan duduk dulu, saya akan ambil kan kertas perjanjian nya di dalam."


Laila pun mengangguk paham, tak lama pak agus pun menghampiri Laila dan menyerahkan surat perjanjian nya. Laila pun mengangguk paham, pak Agus pun tersenyum senang.


"Mari saya tunjukan rumah nya, Nyonya bisa langsung melihat rumah nya, setelah itu membaca surat perjanjian nya dan tentu nya kalau sudah deal Nyonya bisa langsung menandatangani surat lalu membayar nya. "Jelas pak Agus.


"Ah, iya tuan. Saya sudah tak sabar. "


Laila pun mengekori langkah pak Agus, dia mengajak Laila melihat rumah nya. Laila pun berkeliling sambil sesekali memperlihatkan kekaguman nya terhadap desain rumah tersebut, Hati Laila langsung berkata setuju.


"Saya setuju tuan, saya suka rumah nya. Saya mau yang ini, anak saya pasti suka."


Pak Agus tersenyum senang, "Baiklah, silahkan baca surat perjanjian nya. Lalu setelah itu tanda tangan, dan lakukan lah proses pembayaran nya. "


Laila pun membaca berkas di tangan nya dengan teliti, setelah itu dia menandatangani surat tersebut. Setelah itu Laila pun menatap pak Agus, dia pun langsung bertanya.


"Kenapa Nyonya? "


"Saya mau transfer uang nya, minta no rekening nya pak.."


Pak Agus pun langsung mengambil ponsel nya, "Ini Nyonya no rekening nya, karna Nyonya bayar cash Nyonya cukup bayar tujuh ratus juta saja. "


"Baik baik, segera saya transfer. "


Laila pun langsung mengambil ponsel nya dan masuk ke mobile banking, jempol nya mulai bergoyang dan tak lama ponsel pak Agus pun mendapatkan notif pesan.


"Sudah masuk Nyonya, hari ini juga akan saya proses surat surat nya. Sekitar satu minggu, saya pastikan sudah jadi."


"Mulai besok saya sudah boleh kan menata ruangan di rumah ini? saya ingin mulai membeli perabotan untuk mengisi rumah ini besok."


"Tentu Nyonya, boleh. Dan ini kunci rumah nya, mulai besok Nyonya sudah boleh membenahi rumah pilihan anda. "Ucap Pak Agus.


Laila pun tersenyum senang, "Terimakasih Tuan, saya sangat suka rumah nya. Sampai jumpa besok lagi, saya permisi. "


Pak Agus pun mempersilahkan, Laila sangat senang. Setelah puas berkeliling, Laila pun segera mengunci rumah tersebut.


Laila sudah berencana jika besok dia akan menghabiskan hari nya untuk berbelanja perabotan rumah tangga, dan tentu nya dia akan mulai merenovasi sebuah ruangan untuk Adam.


+


+


+


Terimakasih karena sudah mampir, minta dukungan nya buat aku di penulis yang masih amatiran ini.


๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“Untuk kalean semua..


TBC