Who Is Adam?

Who Is Adam?
Menyusul



Setelah melakukan perjalanan selama dua puluh empat jam, akhirnya Adam, Arkan dan juga Laila kini sudah tiba di Bandara.


Mereka pun langsung pulang ke rumah, karena mereka merasa sangat membutuhkan ketenangan dalam suasana rumah. mereka butuh istirahat.


Tak lupa sebelum sampai di rumah, Laila pun meminta supir taxi untuk mampir dulu ke supermarket. Seperti biasanya, Laila akan belanja keperluan dapur.


Karena memang mereka baru pulang dan tentunya di rumah pasti tidak ada stok makanan. Hanya banyak sayuran dan beberapa bumbu yang dia tanam di belakang rumah .


Sampai di rumah Adam langsung berlari menuju kamarnya, sedangkan Laila langsung ke dapur untuk membuatkan minuman dan juga membuat camilan.


"Sayang!" panggil Arkana.


"Apa Mas?" tanya Laila.


Laila terlihat menolehkan wajahnya ke arah Arkana, Arkana terlihat memeluk Laila dan mengecupi puncak kepala istrinya tersebut.


"Istirahatlah dulu," pinta Arkana.


"Ngga bisa, Mas. Ini udah setengah tiga, sebentar lagi waktu ashar. Aku mau bikin camilan saja sama minuman sambil nunggu waktu shalat tiba," kata Laila.


"Baiklah, kalau begitu aku mau bantu," ucap Arkana.


"Iya Sayangnya Laila," ucap Laila seraya mengecup bibir suami nya itu.


Arkana pun terkekeh mendapatkan perlakuan seperti itu dari Laila, menurutnya Laila sudah mulai mau mengekspresikan isi hatinya.


Arkana juga membalas kecupan dari istrinya, kemudian dia memperdalam kecupan tersebut menjadi ciuman.


Setelah cukup puas, dia melepaskan istrinya. Dia takut akan kebablasan, karena kini Laila harus mulai membuat camilan.


Laila pun segera mengambil susu dan buah yang sudah dia beli, dia juga mengambil bahan bahan untuk membuat martabak manis dan juga mengambil beberapa topingnya.


"Mas cuci buahnya, Mas buat jus aja. Aku mau buat martabak manis aja, Mas mau yang pake toping apa?" tanya Laila.


"Mas, mau yang toping keju di tambah ceres."


"Mas sukanya sama kaya Adam, berarti aku ngga usah repot -repot kasih banyak toping."


Arkana terkekeh.


"Ternyata Adam benar-benar anakku, dari wajah sampai makanan kesukaan kita pun sama."


"Ya, terkadang aku iri. Aku yang mengandungnya susah payah, tapi semuanya jiplakan kamu, Mas." Laila terlihat mengerucutkan bibirnya.


Arkana tersenyum, kemudian dia mengelus lembut pipi Laila dan mulai menghibur istrinya.


"Nanti kita rajinin bikin Dede lagi, siapa tahu yang ke dua mirip sama kamu," ucap Arkana.


"Itu sih maunya Mas, modus!" ketus Laila.


"Tapi kamu juga suka, kalau lagi bikin Dede kamu ampe merem melek," goda Arkana.


"Mas nyebelin!" kalau Laila seraya memukul pundak Arkana.


Arkana langsung tertawa mendengar ucapan Laila, sedangkan Laila langsung memulai aktivitasnya. Dia tidak mau lagi berdebat dengan suaminya tersebut.


Laila mulai membuat adonan martabaknya, setelah selsai Laila pun mendiamkannya selama tiga puluh menit agar adonannya cepat mengembang.


"Sayang!" panggil Arkana.


"Apa Mas?" tanya Laila.


"Mas sudah pikirkan, Mas mau bikin kantor Desain interior. Biar Mas punya kerjaan, nanti kalau ada yang memesan bisa di kerjaan sama aku dan Adam langsung. Gimana menurut kamu?"


"Ide yang bagus, tapi Mas mau buat kantornya di mana?"


"Baiklah, Mas. Nanti aku bicarakan dengan pak Agus. Kalau misalkan di perbolehkan rumah di jadikan kantor, kita akan langsung membeli rumahnya."


"Mudah-mudahan Allah meridoi, aku ingin membangun usaha sendiri sama kaya kak Devan. Aku Ingin menafkahi anak dan istriku yang cantik ini," ucap Arkana seraya menjawil dagu Laila.


"Mas!" protes Laila manja.


Arkana pun langsung terkekeh.


"Mas udah selsai buat jusnya, sekarang Mas bantu kamu bikin martabaknya." Laila pun mengangguk setuju.


Akhirnya Laila dan Arkana pun langsung membuat martabaknya, setengah jam kemudian tiga martabat dengan toping keju-ceres, susu-keju dan Almond-keju sudah terhidang dengan sempurna.


Aromanya tercium begitu enak dan menggugah selera, Adam yang baru saja datang langsung menyambar potongan martabat manis tersebut.


"Emmm, enak banget, Bu. Ibu emang paling the best," ucap Adam dengan mulut penuh dengan makanan.


"Makan dulu Boy, baru berkomentar." Arkana mengelus lembut puncak kepala putranya.


Adam pun tak bersuara lagi, dia hanya mengacungkan ke dua jempolnya tanda setuju.


Arkana, Laila dan Adam pun kini sedang menikmati hidangan sore ini. Sedangkan di atas awan sana, di dalam burung besi yang sedang terbang.


Tuan Arley nampak begitu gelisah, dia baru saja melakukan setengah perjalanan menuju Indonesia. Tapi dia merasa sudah tak sabar untuk segera tiba di negara kepulauan yang di kelilingi oleh perairan itu.


"Ck, kenapa perjalanan ini terasa sangat lambat? Rasanya aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan anakku," ucap Tuan Arley.


"Ck! Anak ku, Arkana saja bahkan tak mau banyak bicara denganku, dan sialnya lagi sepertinya dia begitu menghindariku. Tapi kenapa aku begitu yakin kalau dia itu darah dagingku? Bahkan saat aku menatap matanya, ada sesuatu yang mengalir hangat ke dalam lubuk hatiku."


Tuan Arley pun bergumam dalam hati, sepanjang perjalanan menuju Indonesia, Tuan Arley bahkan tak henti-henti nya berdo'a agar dia di berikan kesempatan untuk bisa bertemu dan bahkan berbicara dari hati ke hati bersama putranya.


"Permisi Master, apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya seorang pramugari yang khusus bekerja di dalam pesawat peribadi milik Tuan Arley.


"Aku tidak memerlukan apa pun, aku hanya ingin segera sampai. Rasanya ini sangat lama, aku sudah mulai bosan," jawab Tuan Arley.


"Bagaimana kalau Master istirahat dulu saja di kamar pribadi, Tuan? Nanti kalau sudah mau sampai saya beritahukan," usul pramugari tersebut.


"Ya ,kau benar. Aku akan tidur saja, bangunkan aku kalau sudah mau Landing," ucap Tuan Arley.


"Siap Master, "jawabnya.


Tuan Arley pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya, dia pun langsung merebahkan tubuh lelah lnya.


"Aku harus segera tidur, agar sampai nanti aku bisa terlihat segar dan tentu nya bisa langsung mencari keberadaan anak dan cucu serta menantuku," ucap Tuan Arley lirih.


Tak lama kemudian matanya pun terpejam, terdengarlah suara napas yang teratur. Tuan Arley memang sangatlah lelah, tapi terkadang dia lupa untuk beristirahat.


Bahkan boleh di katakan jika tubuh atletisnya bukan dia dapatkan dari hasil berolah raga, tapi dia terlalu cape pergi kesana kemari dengan banyak pergerakan.


+


+


+


Tuan Arley lagi ngumpulin tenaga gengs untuk bertemu dengan Anak, cucu dan mantunya.


Semoga saja mereka bisa langsung bertemu ya gengs, secara Tuan Arley kini benar-benar sangat ingin bertemu dengan mereka.


Dan tentunya Tuan Arley pun sangat ingin menemui Alina, wanita yang pernah ia renggut kesuciannya dan dia telantarkan begitu saja di rumah sakit.


Tuan Arley ingin meminta maaf pada Alina dan tentunya dia juga ingin berterimakasih pada Tuan Seno karna telah mengurus putranya.


Selamat berjuang Tuan Arley!