Who Is Adam?

Who Is Adam?
Dua Pilihan



Wiliam terlihat sangat marah saat mendengar ucapan Tuan Arley, dia merasa tak terima saat dia mengatakan jika Cia anak dari Kakak tirinya Anggara masih hidup.


Seingatnya, Cia tak pernah ditemukan. Bahkan tim SAR pun mengatakan jika kemungkinan Cia kalau tak di makan binatang buas, hanyut ke dalam sungai.


"Gue yang berhak, Pricilia sudah mati." Ucap William lantang.


Tanpa sadar Adam langsung maju dan menampar wajah William, tamaparan keras itu menghasilkan warna merah keunguan di sudut bibir William.


"Bajingan kecil, berani sekali kau menamparku!" teriak William.


Wiliam merasakan sakit di ujung bibirnya. Akan tetapi, hanya untuk mengusap sudut bibirnya saja tak bisa, karena tangannya masih dalam kuasa anak buah Tuan Arley.


"Maaf, Tuan Willian yang terhormat. Pricilia Gunandari masih hidup, dia adalah calon istri saya." Jawab Adam dengan tenang.


William terlihat memandang Tuan Arley, Devano dan Adam secara bergantin. Lalu, dia pun tersenyum sinis.


"Cia sudah mati lima belas tahun yang lalu, semua hartanya beralih nama atas nama gue. Surat pengalihannya saja masih ada sama gue," Jelas William.


Tentu saja semua surat ada padanya, karena dialah yang telah memalsukan semua surat-surat tersebut.


"Surat pengalihan palsu, demi harta orang lain yang ingin kamu kuasai. Bahkan kamu rela memalsukan surat wasiat dari Anggara, bahkan Tuan Andri pengacara keluarga Gunandari kamu asingkan. Licik!" kata Tuan Arley.


SKAK MAT!


William terdiam, dia tak tahu lagi harus berkata apa. Akan tetapi, dia dengan cepat berpikir dan mencoba untuk mencari alasan.


"Jangan bohong tua bangka, tak ada bukti yang mengatakan jika Cia masih hidup. Bahkan, polisi pun mengatakan jika Cia kemungkinan mati karena hanyut di sungai." Jelas William.


Adam terlihat sangat geram, ingin sekali ia menghajar lelaki yang sudah menghina dan menyakiti Sisil wanitanya.


Akan tetapi, Tuan Arley dan Devano langsung menahannya.


"Terserah apa kata kamu, tadinya aku akan meminta polosi untuk menjemputmu. Ternyata, kau datang sendiri ke kandang singa."


Tuan Arley langsung menyeringai, sedangkan William terlihat menelan salivanya dengan susah. Dia banyak mendengar cerita tentang keluarga Caldwell, perusahaan besar yang tumbuh di negara adidaya dan mengajak cabang di seluruh penjuru dunia.


Mereka mempunyai kuasa, Bahkan mereka akan bisa dengan mudah untuk menumbangkan musuh-musuhnya.


"Apa kamu tahu, aku bisa melakukan apa saja. Sayangnya aku tak sejahat dirimu, aku masih punya hati." Kata Tuan Arley.


"Kalau elu masih punya hati, lepasin gue. Balikin semua hak gue!" terika William lagi.


"Hahahaha, hak. Hak yang mana? Hak orang di akui, kamu itu terlalu terobsesi. Sampai-sampai anak sendiri pun menjadi korban, hingga dia salah dalam mengambil jalan." Kata Tuan Arley.


Untuk sesaat William terdiam, dia jadi teringat akan anaknya Mharta yang sudah dua minggu hilang. Dia sudah mencari kemana-mana, tapi tak kunjung ketemu.


"Jangan bilang, anak gue ada sama elu! Di mana anak gue?" tanya William.


"Aman, dia sangat aman. Bahkan, sepertinya dia akan segera menikah." Kata Tuan Arley.


Tuan Arley langsung tersenyum, dia malah mengingat Bastra yang meminta izin padanya untuk menikahi Mharta. Karena menurutnya, Mharta merupakan wanita yang baik dan juga patuh.


Asalkan, dia berada di tangan orang yang tepat. Tuan Arley tak bisa berkata apa-apa, dia hanya berkata jika Mharta nya mau maka nikahilah dia.


Tanpa mereka duga ternyata Mharta pun mau menikah dengan Bastra, lelaki perkasa yang mampu membuatnya takut, puas dan juga jatuh cinta hanya dalam waktu singkat.


Tuan Arley bahkan sudah berencana akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk Bastra dan juga Mharta.


"Lepasin gue brengsek!" pinta William.


"Akan aku lepaskan," kata Tuan Arley. "Rocky, bawa dia ke kantor polisi. Lepaskan dia di sana," titah Tuan Arley. "Donal, kamu bawa bukti kejahatan dari William." Titah Tuan Arley pada anak Bodyguard yang lainnya.


"Jangan! Jangan penjarain gue," ucap William mengiba.


"Aku punya pilihan untukmu, berakhir di dalam penjara atau di kandang Buaya?" tanya Tuan Arley.


William dengan cepat menggelengkan kepalanya, tentu saja dia tak mau kedua-duanya. Gila aja kali, milih salah satu kesialan tersebut, pikirnya.


Melihat William yang terdiam, Tuan Arley langsung menyuruh mereka untuk membawa William ke tempat seharusnya.


Mereka terlihat mengangguk patuh, Secepatnya mereka pun membawa William dari kediaman Caldwell.


William terus saja berteriak dan mengumpat dengan kata-kata kasar, dia merasa tak rela jika masa tua'nya harus dia nikmati di hotel prodeo yang tak pernah ia impikan sama sekali.


Bahkan William terlihat berusaha untuk melawan, dia sempat beberapa kali menendang Donal dan juga Rocky. Akan tetapi, kedua orang tua dengan cepat mengikat tangan dan kaki William.


Agar lelaki licik itu tak bisa bergerak atau melawan lagi. Namun, mulutnya terus saja mengumpat. Membuat Rocky dan Donal merasa kesal.


Mereka pun langsung melakban mulut William, agar dia tidak berisik lagi. Lalu mereka pun melakukan titah dari Tuan Arley, membawanya ke kantor polisi.


Selepas kepergian William, Devano dan Eliza nampak pamit karena harus mengantarkan anak-anak ke sekolah. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang.


Sebelum mereka pergi, Tuan Arley meminta beberapa Bodyguard untuk mengawasi anak dan juga cucu-cucunya. Dia tak ingin ada sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi pada mereka.


Padahal tour yang mereka ikuti hanya pergi ke puncak selama dua hari, akan tetapi Tuan Arley teyap merasa harus waspada.


Kini, tinggallah Adam, Tuan Arley dan juga Adisha. Setelah keadaan kembali normal, emosi Adam pun sudah kembali reda.


Adam pun segera mengutarakan niatnya, dia sudah tak sabar ingin segera menikahi Sisil. Karena Adam baru tahu, hanya dengan mengecup kening Sisil saja, ada rasa penasaran ingin mengecup bagian tubuh Sisil yang lainnya.


Dia takut, kalau terlalu lama. Adam akan khilaf, karena Adam hanya manusia biasa.


"Ada apa, Boy? Mau minta apa?" tanya Tuan Arley.


"Aku ingin secepatnya menikahi Sisil," kata Adam pelan.


Tuan Arley langsung tertawa," lihatlah cucu kamu, Sayang. Dia sudah tak sabar, ingin segera mencetak gol."


Adisha langsung menepuk pundak Tuan Arley, sedangkan Adam langsung menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Pulanglah, Boy. Minggu depan semuanya sudah siap, kita adakan pestanya di hotel berbintang paling megah di ibu kota. Jangan lupa dua hari lagi, fiting baju." kata Tuan Arley.


Adam langsung bangun dan memeluk Tuan Arley juga Adisha, dia sungguh sangat bahagia. "Terima kasih, Grandpa, Nini."


+


+


+


Jangan lupa Like ya..