
Adam memang sudah berpesan kepada Sisil, jika pekerjaannya banyak dia tidak bisa pulang karena harus mengerjakan banyak pekerjaan di Kota B
tersebut.
Namun, tetap saja Sisil merasa gelisah karena setelah menikah dengan Adam, dia selalu tidur dengan Adam. Bahkan Sisil sudah terbiasa tidur di dalam dekapan hangat suaminya.
Rasanya, terasa ada yang kurang karena tidak ada Adam di sampingnya. Tidak ada Adam yang biasa menghangatkan tubuhnya, dan tidak ada Adam yang selalu menggetarkan ranjangnya.
"Mas, aku rindu." Sisil mengusap kedua tangannya dengan lembut, dia membayangkan Adam yang selalu mengusap tangannya itu
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun Sisil tak kunjung juga memejamkan matanya. Dia terus saja gelisah, pikirannya terus saja terpaut pada sang suami yang kini berada di luar kota.
Akhirnya, karena tak sabar Sisil pun langsung mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video Call terhadap Adam.
Lama Sisil menunggu panggilan tersebut, padahal sudah terhubung. Namun Adam tak jua mengangkat panggilan darinya, Sisil sudah berdecak beberapa kali.
Dia sangat kesal, karena Adam tak juga mengangkat panggilan dari Sisil. Apakah mungkin Adam begitu lelah sampai tak sempat mengangkat panggilan video call darinya? Atau dia masih di luar karena masih banyak pekerjaan?
Pikiran Sisil pun berkecamuk, dia bingung. Dia resah, dia gelisah karena tak terbiasa jauh dari suaminya. Namun Sisil berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Sisil duduk di tepian tempat tidur Kemudian dia pun berusaha untuk berpikir positif, mungkin Adam sedang terlelap karena lelah.
Makanya tak mengangkat panggilan video call darinya, begitulah kata-kata yang dia sugestikan kepada dirinya sendiri.
Setelah lelah berperang dengan batinnya sendiri, Sisil pun memutuskan untuk merebahkan tubuh lelahnya. Tak lama, Sisil pun langsung terlelap dari tidurnya.
"Selamat malam, Mas. Semoga kamu mimpiin aku," kata Sisil sebelum terlelap.
*/*
Pagi pun telah menjelang, sayup-sayup dia mendengar Kicauan burung yang memang sengaja dipelihara oleh Arkana. Dia selalu berkata, jika mendengar suara kicauan burung di pagi hari akan dengan mudah menambah semangatnya.
Sisil mulai menggeliatkan tubuhnya, lalu mengusap matanya yang terasa masih lengket seperti dipakaikan lem perekat.
Matanya seakan susah untuk terbuka, Tertu saja karena dia tidur terlalu larut. Sehingga waktu tidurnya pun terus berkurang.
"Eenghh, jam berapa ini?" tanya Sisil pada dirinya sendiri.
Walaupun malas tetap saja dia berusaha untuk bangun, kemudian dia menatap jam yang bertengger cantik di dinding kamarnya.
"Pukul lima pagi," kata Sisil.
Perlahan-lahan Sisil pun menurunkan kakinya dengan malas dari atas ranjang, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Dia harus segera melaksanakan shalat subuh, setelah selesai mandi Sisil pun langsung melaksanakan kewajibannya terhadap sang khalik.
Tentu saja dia melaksanakan shalat subuh di dalam kamarnya, karena sudah dapat dipastikan jika Arkana dan Laila sudah melaksanakan shalat subuh dari semenjak selesai adzan berkumandang.
Setelah selesai melaksanakan shalat subuh, Sisil pun langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia ingin membuatkan sarapan untuk dirinya dan juga mertuanya.
Karena ternyata di perusahaan cabang yang berada di kota B terdapat banyak petinggi perusahaan yang menggelapkan dana, tentu Adam tidak bisa diam saja.
Awalnya setelah bertemu dengan klien, mereka akan langsung pulang. Namun, Tuan Arley berpesan agar menyempatkan waktu untuk mengecek anak cabang yang berada di kota B.
Adam sangat kaget saat tahu ternyata di sana banyak sekali petinggi perusahaan yang sudah berubah menjadi hewan pengerat, menggerogoti perusahaan yang menghidupi mereka selama ini.
Pada akhirnya, baik Adam, Leo dan juga Gracia sama-sama tidak bisa beristirahat sampai tengah malam tiba. Bahkan mereka baru bisa makan malam pukul 1 malam, karena terlalu banyak pekerjaan yang menguras waktu.
Selepas shalat subuh Ada melihat ponselnya yang dibuat mode silent olehnya sejak kemarin sore, Adam merasa bersalah saat melihat banyaknya panggilan dari sang istri.
Akan tetapi tak sempat dia jawab, bahkan beberapa pesan dari Sisil pun belum sempat dia baca. Agar istrinya tak marah, Adam pun cepat-cepat menghubungi istrinya.
Namun sayangnya, tak ada Jawaban dari sana. Bahkan saat Adam mengirimkan pesan teks pun tak dibalas, bahkan dibaca pun tidak sama sekali.
Adam pun jadi bertanya, apakah istrinya marah atau Sisil belum bangun tidur? Ataukah dia sedang sibuk membuat sarapan? Semoga saja Sisil tidak marah padanya, harapnya.
Karena tak kunjung dapat balasan dari istrinya, dia memutuskan untuk menikmati udara pagi di kota B. Walaupun terasa dingin, namun sangat segar dan udaranya pun mampu membuat kita lebih sehat.
Adam sengaja menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di taman hotel, saat dia duduk di salah satu bangku taman dia melihat Leo yang sedang berusaha untuk merayu Gracia.
Adam tersenyum, lalu dia pun berusaha untuk menguping pembicaraan antara Leo dengan Gracia. Rasanya itu tak akan merugikan, pikirnya.
"Udaranya dingin banget, ya?" tanya Leo.
Leo mengusap-usap kedua telapak tangannya, lalu menatap Gracia dengan lekat.
"Udaranya seger, aku senang bisa pergi ke perkampungan seperti ini." Gracia terlihat tersenyum dengan sangat manis, lalu mengambil secangkir teh panas dan menyesapnya dengan perlahan.
"Jadi, kamu engga kedinginan?" tanya Leo.
"Dingin sih, Tuan. Tapi lebih ke seger, jarang-jarang kan, Tuan kita merasakan udara segar begini. Apa lagi aku tinggal di pinggiran kota," kata Gracia.
Gracia terbayang akan hiruk pikuk perkotaan tempat dia tinggal, sempit dan banyak polusi di mana-mana. Gracia bertekad untuk kuliah agar bisa bekerja dan menghasilkan uang yang banyak, agar bisa membawa ibunya pindah dari rumah sederhana yang ditinggalkan oleh Ayahnya sebelum dia menikah lagi.
Gracia rela membanting tulang kerja serabutan yang penting dia bisa membiayai ibunya yang sering sakit-sakitan, beruntung dia pintar dan bisa kuliah lewat jalur beasiswa.
"Hey, kenapa melamun?" tanya Leo.
"Eh, tidak apa-apa. Aku hanya ingat sama ibu, apa dia sudah sarapan, ya?" tanya Gracia pada dirinya sendiri.
"Memangnya tidak ada yang mengurusi ibu kamu?" tanya Leo.
Gracia hanya menggelengkan kepalanya, dari dulu Ibunya saja tak dianggap oleh keluarganya karena menikahi pria miskin. Mana mungkin keluarganya akan mau merawat Ibunya setelah dibuang oleh bapaknya.
Padahal Ibunya rela meninggalkan keluarganya demi menikahi bapaknya, sayangnya setelah Ibunya sakit-sakitan malah dibuang dan dengan teganya bapaknya menikah lagi dengan wanita yang bekerja di kantoran.
"Hey, kenapa melamun?" tanya Leo.